Shofyan Adi Cahyono: Bertani Tak Perlu Gengsi 

TrubusPreneur
By Ayu Setyowati | Followers 0
15 Mei 2018   15:30

Komentar
Shofyan Adi Cahyono: Bertani Tak Perlu Gengsi 

Shofyan Adi Cahyono (Foto : Foto: Petani Muda)

Trubus.id -- Adalah Shofyan Adi Cahyono, pria kelahiran Semarang tahun 1995, yang awalnya terjun ke dunia pertanian karena paksaan sang ayah. Terlahir dari keluarga petani, Shofyan mendapat pesan dari sang ayah supaya kelak nanti juga bertani seperti yang sudah turun-temurun dijalankan keluarganya. 

“Padahal hasil bertani tidak cukup bahkan untuk hidup sehari-hari,” katanya mengawali perbincangan dengan Trubus.id, Senin (14/5). Cita-citanya menjadi dokter sebetulnya bukan tak didukung orang tua, namun masalah biaya lagi-lagi jadi kendala. Namun mindset-nya kemudian berubah, dari dipaksa menjadi sukarela. 

Panen tomat cherry (sumber: Instagram/sayurorganikmerbabu)

Seperti disambut takdir, Shofyan mendapat beasiswa untuk berkuliah S1 jurusan pertanian tahun 2013. Namun sayang beasiswa hanya untuk sampai semester dua.

Baca Lainnya: Selangkah Lagi, Pria Ini Raih Gelar Ph.D, Tapi Ia Pilih Jadi Pembuat Roti

“Kebetulan saat itu ada program kewirausahaan bagi mahasiswa, langsung saja saya ajukan proposal sayur organik. Tujuannya selain untuk branding produk pertanian organik milik bapak juga sekalian untuk menyambung biaya kuliah,” kisahnya. 

Kebun sayur organik di lereng gunung merbabu ( sumber: Instagram/sayurorganikmerbabu) 

Singkat cerita, tahun 2014 Shofyan yang mencoba terjun langsung untuk bertani dan memasarkan produk sayur organik dengan sistem pre order di bawah brand Sayur Organik Merbabu (SOM) lewat media sosial Instagram dan WhatsApp, akhirnya berhasil membuka peluang untuk kalangan menengah ke bawah. Berhubung waktu itu harga sayuran organik tidak murah dan hanya bisa dijangkau kalangan menengah ke atas. 

Tak makan waktu lama, Shofyan berhasil mengajak 6 orang temannya bergabung sebagai distributor yang meliputi daerah Jawa Tengah, Yogyakarta bahkan Jabodetabek. 

Beda Zaman Beda Metode

Bertani bukan hanya tentang menanam lalu memanen, tapi juga tentang marketing dan management. “Itu bedanya bertani zaman dulu dengan bertani sekarang,” ujar Shofyan.

“Kalau dulu bertani itu tanam tinggal tanam, tanpa memperhitungkan untung rugi per batang sayur. Kalau sekarang kan harus dihitung Harga Pokok Produksi (HPP).” lanjut pria yang sedang menjalani program Magister Ilmu Pertanian di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini. 

Baca Lainnya: Fauzan, Sukses Beternak Landak dari Belakang Rumah

Terkait wacana disrupsi di bidang agribisnis yang memotong jalur tengkulak, menurut Shofyan, justru mendatangkan keuntungan bagi petani. Pasalnya, tengkulak sering menggunakan cara-cara licik untuk mendapatkan keuntungan dari petani.

Sayuran daun  (sumber: Instagram/sayurorganikmerbabu) 

“Petani seakan tidak punya pilihan, memanen dengan harga yang sudah disepakati namun setelah akan diserahkan harga tiba-tiba turun drastis. Mau tidak jadi dijual sayuran busuk, dijual pun tak dapat untung. Bahkan kadang sayuran dikirim tapi tidak dibayar sama sekali,” kisah Shofyan. 

Shofyan yang melihat sendiri kondisi ini juga dialami ayahnya, kemudian membentuk Kelompok Tani Citra Muda yang beranggotakan petani-petani muda di dusunnya yang memasarkan produk langsung kepada konsumen.

Baca Lainnya: Meningkat, Ekspor Patung-Patung Unik Bali Ke USA

Shofyan juga perlahan merangkul petani konvensional untuk bergabung, “Kita beri edukasi soal HPP dan pemasaran modern, sehingga mutu SDM perlahan bisa ditingkatkan. Jadi mereka tidak lagi bergantung pada tengkulak.” jelas Shofyan yang masih terjun sendiri untuk bertani. 

Petani Digital 

Diakui Shofyan, teknologi jelas memudahkan. Petani bisa langsung memasarkan produk-produknya langsung ke konsumen. Dengan sistem pre order, sayur-sayur segar bisa segera sampai ke tangan konsumen sesuai pesanan sehari setelah dipesan. 

Melalui akun instagram @sayurorganikmerbabu, Shofyan setiap hari meng-update jenis-jenis sayur yang siap panen sekaligus memberi edukasi terkait manfaat sayur dan kandungan gizi yang terkandung di dalamnya. Informasi mengenai distributor terdekat dengan konsumen juga tertera di sana, sehingga memudahkan konsumen dalam hal pemesanan. 

Baca Lainnya: Lepas Dari Karyawan Kantoran, Sukses Bisnis Kuliner Cokelat Tempe

Berbagai gelaran seperti bazaar atau pasar sehat kerap diikuti Shofyan dan SOM untuk memamerkan produk sayuran organik segarnya langsung ke konsumen, “hitung-hitung berkenalan dengan pelanggan setia.” kata Shofyan yang memiliki pelanggan tetap perorangan, restoran, hotel hingga supermarket. 

Kedepannya, Shofyan berencana untuk membuat website dan aplikasi untuk mendukung pemasaran dan mempermudah konsumen dalam berbelanja. 

#YangMudaYangBertani 

Tak hanya sekadar bertani, Shofyan juga sembari menimba dan berbagi ilmu di sana-sini, termasuk menerima kunjungan-kunjungan mahasiswa baik dari universitas dalam maupun luar negeri. Selain itu Shofyan juga membagi knowledge cara bercocok tanam organik di berbagai daerah.

Tagar #YangMudaYangBertani itu pun kemudian ingin dipopulerkan oleh Shofyan, mengingat banyaknya anak muda yang konon masih gengsi untuk terjun bertani. Menurutnya, pertanian sangatlah potensial, apalagi sekarang sudah didukung oleh teknologi.

“Contohnya saja sekarang ada drone agriciltural untuk pertanian untuk menyemprotkan pupuk. Nah kalau petani konvensional kan masih manual. Bertani semakin mudah. Lalu apa yang dijadikan gengsi? Selama masih ada manusia hidup yang butuh makan, pertanian pun akan terus hidup,” jelas petani muda yang produknya sudah bersertifikasi organik sejak 2010, meneruskan milik sang ayah. 

Baca Lainnya: Budidaya Pepaya Merah Delima Untungnya Dahsyat

Melalui SOM dan kelompok tani yang digagasnya, Shofyan ingin menularkan semangat bertani kepada pemuda Indonesia. “Bertani sekarang mungkin tidak seperti yang ada di pikiranmu. Jangan malu, jangan gengsi, ini profitable. Selama bisa menguasai management dengan baik, petani bisa jadi profesi menguntungkan.” ujar Shofyan yang beromzet puluhan juta. 

Lanjut Shofyan, dalam bercocok tanam secara organik, tujuannya bukan hanya mencari profit semata, melainkan juga usaha untuk meningkatkan kesehatan dan turut menjaga alam tetap lestari agar bisa terus bertani di kemudian hari. “Bertani adalah kehormatan dan kebanggaan. Dari desa kita bisa membangun bangsa.” pungkasnya. Salut! [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: