Satu-satunya Sosok Kartini dari Indonesia Ikuti EY Enterpreneur Winning Women di Tokyo

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
20 April 2018   16:30

Komentar
Satu-satunya Sosok Kartini dari Indonesia Ikuti EY Enterpreneur Winning Women di Tokyo

Elidawati (Foto : Foto: OrisinilIndonesia)

Trubus.id -- Ernst & Young (EY) Indonesia mengutus sosok Kartini dari Indonesia, Elidawati yang merupakan CEO Elcorps, untuk mengikuti ajang EY Enterpreneur Winning Women (EWW) Asia Pasifik yang akan digelar di Tokyo, Jepang, 28-30 Mei 2018. 

Elidawati sendiri merupakan sosok perempuan yang berhasil peroleh class of winners dari EY EWW Indonesia pada tahun 2016. Menariknya, Elidawati merupakan satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berpartisipasi dalam event bergengsi tahunan tersebut.

Elidawati dipilih karena kekuatannya sebagai wirausaha perempuan. Awal dunia bisnisnya dimulai pada tahun 2011 dengan brand busana muslim bernama Elzatta. Bisnis Elidawati makin berkembang dengan tidak hanya fesyen hijab, tapi juga ke busana pria, kuliner, dan pakaian olahraga muslim. 

Baca Lainnya: Selangkah Lagi, Pria Ini Raih Gelar Ph.D, Tapi Ia Pilih Jadi Pembuat Roti

Saat ini Elidawati memiliki 184 outlet di bawah PT Bersama Zatta Jaya yang memiliki beberapa brand, serperti Dauky, Elzatta, Zatta, Hassana, dan Aira.

Selain Elidawati, hadir pula 22 class of winners EWW dari negara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Srilanka, Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Seluruh peserta merupakan perempuan wirausaha pilihan yang memiliki usaha yang telah berkembang dan memberikan dampak di lingkungannya.

Dalam konferensi yang berlangsung selama tiga hari tersebut, perwakilan dari masing-masing negara akan bertemu dengan jaringan bisnis di level internasional. Eidawati bersama dengan 22 perempuan lainnya juga akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan akses lebih baik di permodalan usaha bagi bisnis mereka.

Baca Lainnya: Muslahuddin Daud, Sukses Jadi Petani Setelah Resign dari Bank Dunia

Sementara itu, Julianingsih Tan, Chief Financial Officer EY Indonesia mengutarakan rasa optimis bahwa tantangan yang dihadapi oleh pengusaha perempuan dapat diatasi. Dirinya melihat potensi kekuatan yang sangat besar dari para perempuan wirausaha. 

Oleh sebab itu, melalui program EWW, EY berusaha memaksimalkan skill dan talenta pengusaha perempuan. Tahun ini, EY akan kembali mencari wirausaha perempuan lainnya di ajang EY Entrepreneurial Winning Women 2018 bekerja sama dengan Perempuan Wirausaha Femina, Forbes Indonesia, Financial Club Jakarta, dan Alleira.

"Melalui program ini, kami memberdayakan perempuan pengusaha untuk berpikir lebih luas, mendapatkan jaringan, belajar dari rekan-rekan mereka, dan menemukan mentor. Ini akan membantu bisnis mereka, mengelola tantangan, dan meningkatkan kemakmuran (keuntungan)," katanya dalam siaran pers tertulis, Jumat (20/4).

Baca Lainnya: Kisah Sukses Petani Tanaman Hias di Kaki Gunung Lawu

Bertepatan dengan hari Kartini dan sesuai dengan jiwa Kartini, kesetaraan gender perlu dirayakan dengan terus memberikan motivasi dan dorongan kepada perempuan untuk berkarya dan berkembang. 

Studi terbaru Ernst & Young (EY) yang berjudul "Can ASEAN Move Forward If Women Are Left Behind?" membahas kesuksesan bisnis dari wirausaha perempuan di ASEAN yang semakin mempengaruhi ekonomi regional.

Terlepas dari keragaman budaya dan perkembangan sosio-ekonomi, ditemukan juga beberapa faktor yang mendorong kemajuan ekonomi dan bisnis yang diprakarsai oleh perempuan, yakni; 

(1) Keseimbangan gender telah berubah seiring dengan peran perempuan yang semakin penting baik dalam lingkup pribadi maupun bisnis.

(2) Keterampilan soft-skill seperti kreativitas dan empati yang dimiliki perempuan sangat mendukung transformasi dalam disrupsi digital di dunia bisnis.

(3) Meningkatnya akses akan pembiayaan dan sumber daya dalam mendukung pertumbuhan wirausaha sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi negara.

Baca Lainnya: Bambang Ismawan Terima Gold Medal di Ajang Internasional

Salah satu temuan dari studi tersebut adalah melihat terjadinya peningkatan keragaman gender untuk para petinggi dan dewan perusahaan dengan proporsi jumlah direktur perempuan yang terus tumbuh. Malaysia sendiri memimpin pasar berkembang ASEAN dengan perempuan memenuhi 12,5% anggota dewan pada 2016, diikuti oleh Indonesia 11,1%, dan Singapura 7,7%.

Sementara itu, laporan Gender Global Gender World Economic Forum (WEF) melaporkan indeks yang mengukur kesenjangan berbasis gender dan melacak kemajuan mereka dari waktu ke waktu. Indeks yang menjadi tolok ukur kesenjangan gender adalah empat bidang utama: ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan politik. 

Baca Lainnya: Seluk Beluk Bisnis Perantau Asal Bandung yang Sukses di Amerika

Partisipasi Ekonomi dan Peluang Subindex mengukur partisipasi ekonomi, kesenjangan upah, dan kemajuan. Dalam indeks ini, Indonesia menempati urutan terendah di antara negara-negara ASEAN, yaitu 108 (Laos 22, Thailand 24, Filipina 25, Myanmar 26, Singapura 26, Vietnam 33, Kamboja 56, Brunei 61, Malaysia 87).

"Kami yakin banyak perempuan di Indonesia yang dapat menjadi sumber pengetahuan, kreativitas, dan peningkatan ekonomi. Inspirasi dan gerakan semacam ini yang kami rasa diinginkan oleh R.A. Kartini agar perempuan juga memiliki peran yang sama penting untuk kemajuan bangsa," jelas Julianingsih Tan. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: