Roswita Asti Kulla, Edukasi Anak-anak Sumba dengan Seluruh Gajinya

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers 0
10 April 2018   18:30

Komentar
Roswita Asti Kulla, Edukasi Anak-anak Sumba dengan Seluruh Gajinya

Roswita Asti Kulla (Foto : Foto: Istimewa)

Trubus.id -- Masalah pendidikan di Indonesia kita masih menjadi masalah serius. Masih banyak anak-anak di pulau-pulau terdepan Indonesia belum mendapatkan akses pendidikan yang semestinya.

Selain infrastruktur, jumlah pengajar menjadi salah satu faktor pendidikan di wilayah tersebut. Dan tentu saja yang tak kalah penting adalah perekonomian warga yang tak mendukung sehingga banyak anak yang putus sekolah atau tidak sekolah sama sekali.

Melihat kondisi seperti itu, seorang perempuan Sumba tergerak untuk mengubah keadaan tersebut. Namanya Roswita Asti Kulla. Menurutnya satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan mereka adalah melalui pendidikan. 

Namun belajar tidak hanya bisa dilakukan melalui sekolah formal. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Saat itu tahun 2015. Ia telah berencana melanjutkan kuliah S2. 

Namun ia mengurungkan niatnya. Ia bertemu dengan anak kelas 5 dan lupa bagaimana membaca, ada anak usia 12 tahun yang belum pernah sekolah. Melihat semua itu hatinya bergejolak.

"Arogan sekali jika saya pergi, meninggalkan anak-anak yang tidak sekolah, tak bisa menangkap peluang untuk masa depannya sendiri, katanya kepada trubus, Selasa (10/4).

Karena itu, perempuan yang biasa dipanggil Asty ini langsung beraksi. Ia yang juga seorang guru honorer SMU ini langsung mengajak anak-anak yang ada di sekitar rumahnya di Desa Lamboya Bawa, Lamboya, Sumba Barat untuk belajar. 

Dengan membawa bekal ala kadarnya, perempuan yang punya akun Instagram @roswitakulla ini mulai mengajari mereka. Mereka belajar melalui media alam yang ada di lingkungannya. 

Awalnya hanya diikuti oleh empat anak. Dia melakukan pembelajaran sambil mengikuti aktivitas mereka menggembala kambing atau ikut beraktivitas di kebun, atau di bawah pohon yang ada di tempat tersebut.

Asty tidak saja mengajari pengetahuan yang diperoleh di sekolah formal, namun juga mengajari soft skill yang tidak diajarkan, diantaranya mengubah mindset, mengubah mental dan memberikan semangat untuk berubah lebih baik.

Selain belajar, aktivitas yang dilakukan mereka adalah membersihkan pantai, membuat papan-papan peringatan larangan membuang sampah dan kegiatan lainnya.

Ia menyadari saat ini Sumba menjadi salah satu daya tarik wisata dunia. Dan Asty ingin anak-anak di wilayahya mampu merebut peluang yang ada sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, terasing di wilayahnya sendiri.

Baca Lainnya: Danny Setyawan , Berdayakan Warga Melalui Rumah Baca Sangkrah

"Sekolah Alam" Asty mendapatkan respon yang baik, tidak hanya anak-anak namun juga para orangtua. Pelan-pelan makin banyak anak-anak yang mengikuti kegiatan ini. 

Saat ini ada empat pantai yang dijadikan tempat belajar mereka yakni pantai Marosi, Pantai Watubela, Pantai Kerewee dan Pantai Dewa di Sumba Barat.  

Sayang sekali, saat hujan atau cuaca terlalu terik, kegiatan belajar lebih sulit dilakukan. Ia lalu mempunyai ide untuk membuat gedung yang bisa menampung anak-anak agar kegiatan belajar tetap berlangsung.

Ide itu disambut oleh salah satu warga yang meminjamkan tanahnya. Dia merasa terharu, dalam kekurangannya bapak tersebut mampu memberi yang terbaik. Namun masalah belum selesai. Bagaimana caranya membangun gedung sementara ia hanya mempunyai satu sak semen?

Berkat bantuan Sumba Foundation, gedung yang ia inginkan selesai dibangun. Jangan bayangkan gedung itu seperti yang ada di kota-kota besar, namun bangunan yang panjangnya 10 meter itu tanpa dinding dan lantainya berpasir.

Sekolah itu ia  namai Pesisir Learninghood. Sekarang terdapat sekitar 200 anak yang belajar di tempat tersebut. Kini ia sedang membuat program Englsih student club. 

Hasilnya sekarang sebanyak 10 anak memperoleh beasiswa dari Belgia untuk belajar perhotelan selama satu tahun, Nantinya kesepuluh anak tersebut langsung ditempatkan di sebuah hotel.

Selain itu ia juga mempunyai program Englsih Goes to Kampung. Ia bersama timnya mengunjungi kampung-kampung untuk mengajarkan pengetahuan dasar dan belajar bahasa Inggris.

Darimana biaya operasional kegiatannya?

Ia memakai gajinya sebagai guru honorer yang ia terima 3 bulan sekali. Selain itu tantangan terberatnya adalah sambutan warga yang apatis, infrastruktur jalan yang buruk dan terutama konsistensi dari dirinya sendiri.

Ia merasa terpanggil dan akan terus mendampingi anak-anak Sumba untuk menuju masa depannya yang lebih cerah. [KW]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

607 Infrastruktur Kaltim Dibangun dari Dana Desa

Binsar Marulitua   Pendampingan
Bagikan:          
Bagikan: