Peternak Lele(Foto: Istimewa)

MA Ghufron AM, Sukses Dampingi Warga Bojonegoro Budidaya Lele

Trubus.id -- Usianya masih sangat muda. Saat ini laki-laki dari desa Cengkir, Kepohbaru Bojonegoro ini telah memulai bisnisnya. Namanya M. A Ghufron A. M, saat ini sedang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Airlangga, Surabaya.

Namun ia telah merintis bisnis di desanya. Daerahnya yang jauh dari laut, Ia melihat peluang bisnis ikan air tawar. Setelah berpikir, ia memutuskan, salah satu potensi yang dimiliki daerahnya adalah beternak lele.
  
Ia sengaja memilih bisnis ini karena di daerahnya banyak embung sehingga ia tak akan kesulitan memperoleh air untuk lele-lelenya. Selain itu ikan lele bisa dipanen dalam waktu lebih cepat dan tahan terhadap lingkungan yang buruk. Menurutnya, budidaya ikan lele kemungkinan kecil bisa merugi.

Selain mengembangkan bisnisnya sendiri, ia juga mengajak warga sekitarnya untuk melakukan bisnis yang sama, Ghufron lalu melakukan pendampingan ke warga yang berminat beternak lele. 

Sampai sekarang telah 32 orang yang bergabung dalam komunitasnya. Ia secara rutin memberikan edukasi kepada para warga. Selain tentang beternak lele, juga bagaimana cara pemasarannya. 

Menurut Ghufron, salah satu kendala yang dihadapinya adalah pemasarannya. Saat ini ia baru mampu memasok untuk wilayah Bojonegoro. Ia harus bersaing dengan para peternak dari luar Bojonegoro yang mampu menyediakan lele dengan harga lebih murah.  

Gufron, melalui Mina Sejahtera, nama peternakannya kini telah menjadi pemasok tetap dua buah rumah produksi lele asap 80 kg per hari.
Karena itu ia berencana melakukan ekspansi ke luar daerah, ke tempat-tempat lain yang mempunyai peluang lebih besar. Namun ia mengaku saat ini masih terkendala masalah akomodasi. 

Setiap kendala pasti ada solusi, itulah yang ia yakini. Ia kini menemukan peluang untuk memasarkan hasil ternaknya langsung ke pembeli, yakni warga yang ada di wilayahnya. Pangsa pasarnya adalah ibu-ibu rumah tangga. Sehari ia mampu menjual minimal sekitar 20 kg.

Selain itu Ia juga memasuk langsung kepada para penjual pecel lele. Setiap hari ia mampu mengirim sampai 10 kg. 

Jika bisnisnya sudah stabil, kedepan, Ghufron tak ingin hanya memasarkan lele saja, namun ia akan mengembangkan produk lele menjadi makanan olahan. 
 
Usaha pendampingan yang dilakukan kepada warga sekitar membuahkan hasil. Kini warga mempunyai pendapatan tambahan, selain mereka masih tetap menjadi petani atau buruh bangunan. Padahal sebenarnya keuntungan menjadi peternak lele lebih menjanjikan dibanding menjadi petani.

 “Mereka juga merasa terbantu dengan adanya budidaya lele. Apalagi mereka tidak perlu lagi memikirkan penjualannya, “ kata Gufron kepada trubus.id (Sabtu (04/11).
  
Selain masih kuliah, membangun bisnis dan melakukan pendampingan, Ghufron juga seorang founder Yayasan Bina Mulia Bojonegoro. 

Yayasan ini sebelumnya bernama FSB (Forum Sedekah Berjamaah) yang sudah memberikan santunan ke 315 anak yatim sejak 2013.  Sekarang yayasan ini telah berbadan hokum dam telah memberikan pembinaan dan beasiswa bantuan pendidikan untuk 10 yatim berprestasi dari 5 kecamatan di Bojonegoro. 

Ghufron berkomitmen, ketika ia telah lulus, ia akan kembali ke desanya. Ia merasa desanya lebih membutuhkan dirinya daripada daerah lain. 
 
Bisnis lain Ghufron adalah sebagai distributor beras dan tembakau yang kini juga sedang berjalan.  [KW]

 



Bagaimana reaksi kamu tentang artikel ini ?

Senang

20%

Bahagia

20%

Terinspirasi

0%

Bangga

0%

Sedih

0%

Kaget

20%

Takut

20%

Marah

20%

LEAVE A COMMENT