Kisah Sukses Petani Tanaman Hias di Kaki Gunung Lawu

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers
26 Mar 2018   10:30

Komentar
Kisah Sukses Petani Tanaman Hias di Kaki Gunung Lawu

Suasana desa Nglurah, produsen tanaman hias terbesar (Foto : Foto:Karmin Winarta/Trubus.id)

Trubus.id – Banyak yang tak menyangka sebelumnya, desa Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar Jawa Tengah adalah salah satu sentra tanaman hias terbesar selain Malang dan Bogor.

Desa di Kaki Gunung Lawu dengan ketinggain 1800 meter di atas permukaan laut ini memang cocok untuk bertanam sayuran dan buah-buahan. Salah satu petani yang sukses membudidayakan tanaman hias adalah pak Wagimin.

Pria berusia 53 tahun ini telah menekuni tanaman hias sejak muda. Kakek buyutnya menjadi salah satu pelopor pembibit dan penjual tanaman hias di wilayahnya.

Menurut anak kedelapan ini, awalnya para warga di Nglurah bertanam seledri. Namun karena persaingan yang ketat, akhirnya para petani seledri gulung tikar.


 
Salah satu warga lalu mencoba menanam tanaman hias. Pelan-pelan usaha mereka berhasil. Sampai sekarang, warga desa yang jumlahnya sekitar 2000-an ini kini menjadi pembibit dan penjual tanaman hias.

Desa ini menjadi pemasok tanaman hias ke berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan sampai Fak-Fak, Papua.

Pak Wagimin, saat ini mempunyai kebun pembibitan satu hektare dan puluhan kios yang tersebar di beberapa kota, termasuk Wonogiri. Jumlah total kios tanamannya yang dinamai “Mien Nursery” sekitar 8000 meter.

Di kebunnya, ia mempunyai koleksi sekitar 90 jenis tanaman hias. Mulai tanaman berbunga maupun tanaman perdu. Beberapa diantaranya anggrek, aglonema dan lainnya. Koleksi terbarunya adalah keladi gajah. 

Uniknya, Pak Wagimin juga mengoleksi tanaman-tanaman langka yang langsung diambil dari hutan. Dia mempunyai tim khusus yang beranggotakan dua orang yang secara  berkala pergi ke hutan selama beberapa hari untuk menemukan tanaman-tanaman langka.

Kepada Trubus.id, ia mengatakan saat ini warga Nglurah telah mandiri, tidak perlu ke luar kota, melakukan urbanisasi untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Omzet yang ia peroleh sampai sekarang rata-rata 10 juta rupiah per bulan. Sementara warga sekitarnya sekitar 4 jutaan per bulan. 

Pak Wagimin yang sekaligus ketua RW ini telah menyukai tanaman sejak kecil. Menurutnya, semua tanaman baginya adalah “obat” yang bisa menyegarkan pikiran. Karena itu ia tak pernah bosan selalu berdekatan dengan tanaman yang juga dianggap sebagai anaknya.

Jika Trubus Mania berkunjung ke Tawangmangu, Karanganyar, sempatkan mampir ke Desa Nglurah. Jaraknya sekitar empat kilometer dari air terjun Grojokan Sewu yang terkenal itu.
Di Nglurah juga terdapat situs purbakala yang masih jarang dikunjungi orang. Namanya Situs Menggung. [KW]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: