Keren, Kain Batik Ramah Lingkungan Tembus Pasar Global

TrubusPreneur
By Astri Sofyanti | Followers 1
13 Mar 2018   19:00

Komentar
Keren, Kain Batik Ramah Lingkungan Tembus Pasar Global

Ilustrasi (Foto : Foto: Istimewa)

Trubus.id -- Pada umumnya pewarna yang digunakan untuk membuat corak motif pada kain batik biasanya menggunakan zat kimia khusus tekstil. Namun, berbeda dengan yang dilakukan oleh Rumah UMKM Ecoprint, pewarna pada kain batik menggunakan pewarna dari daun sebagai bahan pewarna utamanya. 

Rumah UMKM Ecoprint di Yogyakarta ini menggunakan teknik membatik dengan konsep ramah lingkungan. Uniknya, warna serta bentuk kain dapat disesuaikan dengan daun yang digunakan bisa berwarna merah ataupun hijau.

Baca Lainnya: Pelaku UMKM Kota Sukabumi Butuh Tempat Promosi Gratis, Apa Kata Pemkot?

“Konsep Ecoprint merupakan teknik memindahkan warna alami yang dihasilkan oleh daun untuk mewarnai kain batik,” kata Hanitianto Joedo CEO Rumah Kreatif BUMN Yogyakarta saat memperkenalkan produknya di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Hani mengatakan bahwa terdapat beberapa teknik yang harus dilakukan untuk menghasilkan kain batik dengan warna alami yang dihasilkan oleh pewarna daun.

Ia juga mengatakan agar warna dapat bertahan lama dan tidak cepat pudar, pada proses produksi setelah pewarnaan didiamkan beberapa saat agar pewarna benar-benar meresap ke dalam kain. Agar pewarna meresap dengan baik pewarna ditambahkan air tawas atau cuka.

Jika warna yang ingin dihasilkan sedikit gelap, setelah proses pewarnaan, kain langsung dicuci dengan menggunakan air karat yang telah diendapkan sebelumnya.

Baca Lainnya: Tekan Masalah Sosial, Mensos Harap Pengusaha Terlibat

Dari usahanya tersebut, konsep Ecoprint yang didirikan oleh Debora Art bisa menghasilkan keuntungan mencapai Rp 8 hingga Rp 10 juta dalam sebulan. Harga kain batik yang dijual juga cukup terjangkau yakni sekitar Rp 600.000 sampai Rp 2,5 juta untuk kain yang berbahan sutera.

Bahkan kain batik sutera tak hanya diminati oleh beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan tapi juga banyak diminati oleh pasar global seperti Jerman melalui jejaring online.

“Pesanan tak hanya dari Jakarta, Surabaya, dan Medan tapi juga ada dari Jerman,” ungkapnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: