Kemenperin Beri Workshop Kepada 1.730 Pelaku IKM di 23 Provinsi

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
02 April 2018   18:00

Komentar
Kemenperin Beri Workshop Kepada 1.730 Pelaku IKM di 23 Provinsi

Ilustrasi (Foto : Foto: Istimewa)

Trubus.id -- Selama tahun Pada 2017, Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian Sektor Industri Kecil dan Menengah (Ditjen IKM) sukses mengadakan workshop e-Smart untuk sektor  Industri Kecil Menengah (IKM) di 23 provinsi, dengan total peserta sebanyak 1.730 pelaku IKM.

"Pencapaian ini lebih tinggi dibanding target awal yang ditetapkan di awal tahun 2017, yakni hanya 1.000 pelaku IKM," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Gati Wibawaningsih, beberapa waktu lalu.

Dilihat dari data marketplace, hingga Maret 2018, total nilai penjualan IKM melalui skema e-Smart mencapai lebih dari Rp320 juta. Nilai penjualan tersebut paling besar  berasal dari komoditas logam yang lebih dari Rp236 juta atau sekitar 70% dari total penjualan.

Baca Lainnya : Dinas KUMKM Jawa Barat Siapkan Program Naik Kelas Bagi Pelaku Usaha

Para pelaku IKM yang telah mengikuti workshop e-Smart IKM dan sudah memasarkan produknya melalui marketplace terus dipantau performansinya oleh Ditjen IKM. Dari situ akan terlihat hasilnya berapa jumlah pelaku IKM yang sukses dalam transaksinya (champion), dan mereka yang belum sukses dalam transaksinya, bahkan disuspensi.

Bagi mereka yang telah sukses, Ditjen IKM akan memberikan fasilitasi agar mereka dapat mengakses pasar yang lebih luas.

"Akses pasar akan diberikan hingga ke pasar global, baik melalui fasilitasi pengembangan produk agar sesuai standar global atau sebagai peserta pameran internasional. Selain itu, mereka juga berpeluang untuk menjadi reseller produk-produk IKM lain dan diharapkan kisah sukses mereka akan menjadi inspirasi bagi para pelaku IKM untuk tumbuh dan berkembang," jelas Gati.

Baca Lainnya : Patung Unik Khas Bali, Terbuat dari Akar Bambu yang Disenangi Konsumen Luar Negeri

Sementara itu, bagi pelaku IKM yang belum sukses atau bahkan disuspensi oleh online marketplace, Ditjen telah mengidentifikasi beberapa faktor penyebabnya. Faktor pertama adalah ketiadaan waktu untuk berjualan online karena sibuk berproduksi atau sudah memiliki distributor sendiri.

"Untuk permasalahan ini, Ditjen IKM akan mengembangkan agregator, yakni platform yang mengumpulkan produk IKM dan memfasilitasi penjualan online, termasuk logistik dan layanan pelanggan, yang dapat dilakukan oleh Koperasi, Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) IKM, dan IKM Champion," lanjut Gati.

Baca Lainnya : Hebat, UMKM Kini Mendominasi Pertumbuhan Perekonomian Nasional Loh

Faktor lain yang menjadi penyebab belum suksesnya IKM di dalam online marketplace yaitu dari segi karakteristik produk. Produknya tidak dijual eceran atau produknya bersifat B2B, seperti IKM yang memproduksi mesin dan peralatan produksi. 

Faktor terakhir adalah kurangnya penjualan yang tidak berkaitan dengan faktor-faktor sebelumnya.
"Masalahnya, bisa jadi berkaitan dengan produk atau metode pemasaran yang belum baik. Hal ini akan coba diberikan solusi melalui fasilitator baik dari marketplace atau TPL IKM, mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata, atau konsultasi melalui Pusat Pengembangan Bisnis seperti Inkubator Bisnis," tutup Gati. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Koperasi Kopi Bandung Sukses Tembus Pasar Dunia

Thomas Aquinus   Keuangan Mikro
Bagikan: