Kekinian, dengan Angon Beternak Domba Tak Perlu ke Kandang

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers 0
27 Mei 2018   13:01

Komentar
Kekinian, dengan Angon Beternak Domba Tak Perlu ke Kandang

Agif, Founder Angon (Foto : Foto: Istimewa)

Trubus.id -- Kebutuhan daging di Indonesia makin meningkat, apalagi saat bulan ramadan seperti sekarang ini. Setiap orang saat ini bisa berbisnis di bidang peternakan lebih efektif, efisien dan transparan tanpa harus ke kandang sama sekali. 

Agif Arianto, sosok muda inilah yang menciptakan aplikasi Angon yang mampu mewadahi orang-orang yang ingin berinvestasi di bidang peternakan. Kenapa ia memilih bisnis ini?

Trubus.id berhasil berbincang dengan Agif yang memangun aplikasi angon yang mempunyai motto, beternak untuk mandiri.

Kenapa memilih bidang peternakan, bukan yang lain?

Beternak bagi saya adalah implementasi nyata dari sociopreneurship (social enterpreneur). Faktanya Beternak merupakan bisnis tertua di dunia bahkan sudah ada sejak dari zaman Nabi Adam. Namun Saya merasa heran kenapa peternak di Indonesia kok makin berkurang jumlahnya dan kenapa generasi seumuran saya tidak tertarik untuk beternak.

Padahal kebutuhan daging di Indonesia sangat tinggi  bahkan untuk memenuhi kebutuhan itu kita harus mengimpor jutaan ton. Ada apa dengan dunia peternakan kita?  Singkat kata saya tertantang mengikuti kompetisi Socio Digi Leader (SDL) yang diadakan oleh Telkom Indonesia yang sedang menyeleksi generasi muda kreatif dengan cara mengirimkan ide atau gagasan aplikasi yang bertujuan menyelesaikan problem social disekitar kita.  

Dan saya beserta tim memutuskan mengirimkan ide tentang beternak online bernama Angon.  Angon merupakan platform yg menghubungkan antara peternak rakyat dengan masyarakat urban yang ingin beternak namun tidak punya lahan kandang, waktu, hingga keterampilan dalam merawat ternak. Dengan aplikasi angon apapun profesinya mau dokter,  guru, musisi, artis atau presiden sekalipun yg sibuk bisa dengan mudah beternak. Beternak langsung dari smartphone. 

Sejauh ini bagaimana perkembangan angon?  

Setelah ikut kompetisi SDL Angon lolos mendapatkan golden tiket boothcamp singkat cerita kemudian Angon mengikuti seleksi lagi hingga akhirnya masuk kedalam inkubasi stratup milik Telkom bernama Indigo incubator. 

Di sini Angon diajarkan banyak hal.  Kami diajarkan tentang tahapan dalam merealisasikan ide gagasan kami agar beternak online bisa menjadi produk aplikasi yang bisa digunakan banyak orang.

Setidaknya ada 5 tahapan yang harus Angon lalui yakni mulai dari customer validasi (CV) tahap awal untuk memastikan bahwa apakah Angon memang dibutuhkan oleh pasar. Kemudian setelah tervalidasi atas kebutuhan pasar Angon mulai didevelop untuk menjadi sebuah produk aplikasi dalam tahap Produk Validasi (PV) dibutuhkan 8 kali sprint untuk menciptakan aplikasi yang tahan banting, hingga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak yang dapat memberikan kemudahaan dalam fitur aplikasi angon.

Kemudian tahap selanjutnya setelah produk siap adalah memastikan bahwa produk angon mampu bersaing dan menghasilkan keuntungan secara  bisnis yaitu tahap Bisnis Model Validasi (BMV) tahapan ini adalah tahap paling krusial dalam dunia startup untuk mengetahui bahwa produk yang kita ciptakan dapat bertahan hidup dan terus berkembang atau tidak,  setelah dilihat dan dipetimbangkan dari berbagai aspek kemudian jika dinyatakan lolos oleh rapat pleno Telkom Divisi Digital Service (DDS)  maka akan dilanjutkan ketahap selanjutnya yaitu Market Validasi (MV). Di tahap ini Angon diakselerasi untuk dapat memperbesar dan memperbayak akuisisi member baru sehingga dapat tercipta kebiasaan baru di industri yang baru serta pasar baru yaitu pasar ternak online.  

Jika matriks dari MV telah tercapai tidak lain tidak bukan adalah tahap final dari program inkubasi ini adalah IPO yaitu tahap pelepasan saham ke publik. 

Saat ini Angon masih berada di tahap MV.  "satu orang, satu ternak" sebagai North Star Matriks  Angon bukanlah aplikasi crowdfunding atau lembaga keuangan digital yang mengumpulkan uang masyarakat kemudian menyalurkanya kepada peternak atau petani sebagai modal untuk menjalankan bisnis peternakan dan pertaniannya.

Apa sih perbedaan aplikasi Angon dengan app lain?

Aplikasi Angon menyuguhkan experience baru kepada membernya tentang proses beternak di era digital. Berbeda dengan proses beternak konvensional dimana biasanya ketika orang ingin beternak harus punya kandang dulu,  bikin pakan ternak, repot ngatur jadwal ngasih pakan ternak, hingga kemudian saat panen harus repot menjualnya kepasar, iya kalo harganya bagus, kalo harga hancur?  Yang ada cuma capek, rugi dan ujungnya kapok beternak lagi. 

Disini Angon mengemas proses atau aktifitas beternak dalam bentuk virtual figur sehingga member dapat merasakan sensasi beternak seperti bermain "game peternakan" namun hasilnya nyata.

Didalam aplikasi Angon member tidak perlu bingung lagi caranya beternak online. bagi member yang masih awam teknologi digital, Angon telah menyiapkan virtual figur assiten peternak yang bernama "Arto" untuk membantu member menjalankan semua aktifitas bisnis beternak online langsung dari smartphone. mulai dari memilih hewan ternak dikatalog, menghitung biaya perawatan ternak hingga proyeksi keuntungan saat member memilih hewan ternak tertentu.

Bahkan Arto juga didesain untuk dapat mengingatkan member saat jadwal panen ternak sudah dekat. Semua proses beternak telah dionlinekan oleh Angon, layaknya bermain pokemonGo atau Tamagochi zaman dulu.

Namun bedanya di Angon semua hewannya nyata. Setiap hewan yang ada di katalog angon telah dikarantina terlebih dahulu kemudian dipasangkan RFID sebagai kode produksi hewan ternak sebelum dionlinekan melalui katalog dan setiap hewan ternak yang sudah dibeli Member melalui katalog, 

Bagaimana respon user/investor dengan adanya model bisnis digital ini?
 

Sangat beraneka ragam, contohnya pasti ada saja member yang hanya siap untung tapi belum siap rugi. kemudian marah-marah hingga akhirnya memberikan rating jelek pada kami. Namun hal itu menjadi cambuk untuk Angon agar terus meningkatkan pelayanan dan sosialisasi kepada para calon I baru.

Alhamdulillah berkat dengan dukungan serta pembinaan dari para mentor saat ini aktivitas angon tembus lebih dari 1,5jt pengunjung, lebih dari 11.000 user aktif dan 225 mitra peternak rakyat yang tersebar di pulau Jawa,  Sumatera,  Kalimantan hingga Nusa Tenggara Barat.

Di targetkan akhir tahun 2018 ini Angon akan mulai mengonlinekan 1 juta ekor domba dari mitra peternak angon yang ada di luar negeri seperti Australia dan Selandia Baru milik warga negara indonesia asli yang tinggal disana.
  
Dengan itu Angon optimis di akhir tahun 2018 ini angon sudah dapat diterima oleh pasar global mengingat saat ini saja terdapat 30% dari user aktif angon berada di luar negeri seperti Korea Selatan, Belanda,  Hong Kong,  Amerika. Dengan aplikasi angon orang bisa beternak tanpa ada lagi ada batasan wilayah dan negara
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: