Faris, Belajar Psikologi untuk Menjadi Petani Kekinian (Foto: Faris terasponik)

Dengan Hidroponik, Sekarang Faris Sukses Jadi Petani Kekinian

Trubus.id -- Selama ini petani identik dengan bapak-bapak tua dengan lahan sawah yang dikerjakan dengan cara konvensional. Dengan teknologi baru, dunia pertanian menjadi tantangan menarik.

Dan generasi milenial pun tampaknya makin tertarik dengan dunia yang berhubungan langsung dengan tanaman ini. 

Salah satu anak muda yang memutuskan menjadi petani itu adalah Muhammad Fariz Fajrin Sulistyo (24). Laki-laki yang biasa dipanggil Faris ini, sejak dua tahun lalu menekuni dunia pertanian dengan cara hidroponik. Di rumahnya yang berada di Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman, Jogja, ia memanfaatkan teras rumahnya untuk ditanami sayuran.

Saat ini ia mampu menanam 1000 bibit sayuran di rumahnya. selain itu ia masih memanam sayuran lain di puluhan polibag. Beberapa sayuran yang ia tanam diantaranya kangkung, selada air, bayam dan caisim atau sawi hijau.

Selain menekuni duni pertanian,  founder Terasponik ini masih menjadi mahasiswa magister psikologi. Kepada Trubus.id ia menceritakan, ketertarikannya pada dunia pertanian berawal sejak masa bocah. 

"Waktu itu saya sangat suka melihat sawah-sawah yang terhampar di sepanjang perjalanan di Solok, Sumatra Barat.  Aku berpikir, menjadi petani itu pasti penghasilannya banyak karena mempunyai lahan seluas itu, apalagi semua orang makan nasi" katanya.

Dari situlah muncul keinginannya untuk menjadi petani. Walaupun dalam perjalanannya pendidkannya sama sekali tidak berhubungan dengan pertanian, namun ia mengaku tetap suka dengan dunia pertanian dan kuliner.

Selesai kuliah S1, ia mulai mewujudkan impiannya. Ia fokus mencari informasi mengenai dunia pertanian, mencari-cari peluang pertanian macam apa yang bisa dia lakukan.

Jogja, tempat tinggalnya tak memungkinkannya bertani secara konvensional karena harga tanah di sini sudah mencapai 1 juta rupiah per meter.

Beruntung pada suatu hari, ia melihat siaran tvri yang membahas  bercocok tanam dengan hidroponik.  Dari situ muncul ketertarikan untuk menanam sayuran di atas pralon. Ia pun mengumpulkan informasi soal hdroponik dari majalah pertanian, intenet, dan buku-buku.

Dengan pengetahuan yang ia punya, tahun 2016 ia nekat merakit sendiri perangkat untuk bertani secara hidroponik. Ia memanfaatkan lahan di lantai 2 rumahnya seluas 6 meter persegi. Awalnya hanya 60 lubang saja dan berhasil. Hasil panen pertamannya ia bagikan ke para tetangga dan teman-teman di kampus. 

"Dari situ saya berpikir dan menganalisa sisi ekonominya. Ternyata bertani secara hidroponik, meski biayanya lebih mahal namun ada value-nya. Sayuran yang dihasilkan lebih sehat dan bersih. Pasar pun tetap bisa menerima.  

Kini tak hanya teras yang dijadikan lahan pertanian. Ia  memanfaatkan lahan depan rumah seluas 10 meter persegi dan terus melebar sampai ke lahan kosong di sekitar masjid. Ia kini dibantu oleh 6 orang untuk mengurus sayuran hidroponiknya.

Tantangan bertani hidroponik menurutnya selain cuaca Jogja yang cukup ekstrem adalah pemasarannya produknya. Ia harus mengedukasi kepada pembeli, sayuran yang ia jual berbeda dengan sayuran biasa.

Faris beruntung, para pembelinya termasuk konsumen yang teredukasi, sehingga ia tak kesulitan memasarkan produknya.

Pria yang suka touring ini mengatakan proyek terasponik ini sebenarnya juga merupakan bekal untuk membangun rumah tangganya kelak.

"Kami akan mengelola berdua juga berkolaborasi dengan masyarakat sekitar untuk meningkatkan ekonomi, " katanya.

Sebagai petani kekinian, ia berbagi tips agar para petani terus membaca buku untuk update pengetahuan sehingga bisa memperlakukan tanaman dengan tepat. Yang kedua, harus juga mengikuti perkembangan teknologi. [KW]

 



 



Bagaimana reaksi kamu tentang artikel ini ?

Senang

12%

Bahagia

17%

Terinspirasi

16%

Bangga

18%

Sedih

4%

Kaget

7%

Takut

16%

Marah

11%

LEAVE A COMMENT

  • Naafi Aryanta
    24 Jan 2018

    Sepupu hits.. Petani hits.. Petani baper????