Danny Setyawan , Berdayakan Warga Melalui Rumah Baca Sangkrah

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers
29 Jan 2018   11:30

Komentar
Danny Setyawan , Berdayakan Warga Melalui Rumah Baca Sangkrah

Danny Setyawan, founder rumah baca sangkrah (Foto : Foto: Istimewa)

Trubus.id -- Setiap kota menyimpan masalahnya masing-masing. Misalnya di Sangkrah, salah satu wilayah di kota Solo ini sebelumnya adalah kota yang terkenal dengan tingkat kemiskinan dan kriminalnya yang cukup tinggi.

Melihat hal itu, salah seorang warganya yang bernama Danny Setyawan ( 42) berusaha melakukan pemberdayaan, ingin mengubah stigma kota sangkrah dengan mendirikan Rumah Baca Sangkrah. 

Menurut bapak 3 anak ini,  kemiskinan dan stigmatisasi kampung preman yang melekat kepada masyarakat kampung Sangkrah berimbas kepada perlakuan diskriminasi sosial. 

“Permasalahan yang timbul di perkampungan selain kemiskinan timbulnya kompleksitas permasalahan permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Beberapa masyarakatnya terlibat kasus kriminalitas, narkoba dan bahkan terlibat dalam jaringan terorisme internasional, “ katanya kepada Trubus.id
 
Di Rumah Baca Sangkrah yang berada di Kampung Dadapsari, Sangkrah, Solo ini ia bersama teman-temannya beberapa tahun ini melakukan pembelajaran kepada para remaja dengan memfokuskan pada life skill atau di bidang keahlian. 

(Salah satu kegiatan di Rumah Baca Sangkrah FOTO: Rumah Baca Sangkrah)

Berbeda dengan di tempat lain, di Rumah Baca Sangkrah ini, setelah proses belajar selesai lalu dilanjutkan pendampingan dengan menerapkan keahliannya tersebut untuk bisnis. Rumah Baca Sangkrah bekerja sama  dengan volunteer profesional dibidangnya yang berfungsi juga sebagai konsultan bisnis. 

Dan semua anak-anak dan remaja yang belajar di Rumah Baca Sangkrah tidak dipungut biaya alias gratis.

 

“Pendampingan pendampingan yang kita lakukan hingga tuntas hingga para remaja ini benar benar mandiri, kata Danny Setyawan. 

Seperti apa detailnya bentuk pembelajaran di Rumah Baca Sangkrah, yuk kita simak wawancara Trubus.id dengan laki-laki berambut panjang ini. 

Apa yang anak-anak pelajari di Rumah Baca Sangkrah?

Di Rumah Baca Sangkrah anak anak tidak hanya belajar bagaimana bisa berdaya, anak anak juga dididik dan dibentuk mentalitas dan pola pikirnya. 

Kita menekankan kepada anak anak agar tidak memiliki mental kere, jika memang hidup harus diperjuangkan ya perjuangkanlah. 

Di sini kami semua tidak pernah mengimingi imingi anak anak akan sesuatu, namun pola yang kita bangun dengan cara membangun kesadaran mereka akan hidup dan kehidupan. 

(Anies Baswedan sewaktu jadi menteri sempat berkunjung ke Rumah Baca Sangkrah/ Foto: Rumah Baca Sangkrah)

 

Sebenarnya apa tujuan mendirikan Rumah Baca Sangkrah?

Tujuan kita mendidik anak anak dan para remaja adalah penyelamatan generasi dari hal hal buruk dalam kehidupan. 

Kemandirian adalah tujuan akhir dari Gerakan Sosial Mencerdaskan Masyarakat ini, dimana nantinya akan terbentuk suatu pola dengan penuh kesadaran masyarakat menolong masyarakat secara bersama sama memperbaiki diri pribadi, masyarakat dan lingkungan mereka tinggal. 

Sejak awal bergerak kesadaran kami para volunteer pendamping membentuk Rumah Baca Sangkrah ini sebagai pilot project percontohan kampung yang bisa di tiru, di modifikasi dan dikembangkan ke beberapa daerah. 

Dari berbagai testimoni beberapa orang baik yang datang langsung ke rumah baca sangkrah maupun melalui media sosial, apa yang telah kami laksanakan selama kurun waktu 4 tahun ini sudah bisa menginspirasi beberapa orang untuk bergerak hal serupa di beberapa daerah di nusantara ini. 

(Belajar kesenian, salah satu aktivitas yang diajarkan di Rumah Baca Sangkrah/ Foto: Rumah baca Sangkrah)

Kegiatannya apa saja? 

Untuk usia anak anak kami menitik beratkan kepada pendidikan karakter. Konsep yang kami kembangkan dengan melalui permainan. 

Untuk kegiatan kegiatan yang sedang dan telah dilaksanakan di rumah baca sangkrah dan atau di tempat tempat lain itu hampir sama persis. 

Seperti mengadakan program pelatihan seni teater, seni lukis, seni tari, seni musik dan vokal, seni batik tulis dan jumputan, seni karawitan, seni perkusi barang bekas, bahasa inggris, olahraga futsal, olahraga badminton, nonton bareng film anak dan lain sebagainya. 

Untuk usia remaja sedikit agak kompleks di dalam penyusunan program program kegiatannya. Di sini saya lebih kepada pengembangan pengembangan diri dari proses bentuk kesadaran akan hidup dan kehidupan. Pertanyaan sederhana yang saya ajukan kepada setiap individu lebih kepada orientasi mereka terhadap hidup yang akan mereka jalani sepanjang hidup, pencapaian cita cita pribadi, kendala atau hambatan yang mereka hadapi dan lain sebagainya. 

Dari sinilah pada akhirnya para remaja menentukan satu bidang keahlian dari basis minat, kesenangan, dan potensi yang mereka miliki yang kemudian saya fasilitasi dari mulai mencari instruktur, bahan baku, dan lain sebagainya. 

Beberapa program pelatihan keahlian yang telah dan sedang dilaksanakan antara lain seni airbrush, seni sablon, seni resin, seni cukil, perkayuan atau handycraft, seni batik tulis, seni batik jumputan  dan lain sebagainya. 

Selain bidang keahlian yang sedang dalam perencanaan adalah budidaya ikan lele, budidaya cacing sutra, budidaya cacing tanah dan budidaya jamur konsumsi. 
Khusus budidaya ikan lele dan jamur konsumsi akan dikembangkan menjadi produk makanan olahan. 

Selain keahlian saya juga memberi pelajaran tentang rasa, rasa empathy terhadap sesama dengan menggunakan program kegiatan sosial berbagi nasi bungkus, dimana anak anak secara iuran bersama, dibelikan nasi bungkus seharga Rp 3.000 per bungkus dan dibagikan di jalanan. 

 

Rumah Baca Sangkrah dikembangkan di mana saja?

Untuk tahun ini, saya bersama teman teman volunteer lainnya bergerak ke luar kampung sangkrah menggarap beberapa kampung di seputar kota solo. 

Tujuan kami hampir sama seperti pertama kali menggarap kampung sangkrah dengan rumah baca sangkrahnya, bahwa dengan beberapa kampung yang akan kita mulai di tahun ini akan menjadi pilot project satu kota di mana kampung kampung yang akan kita garap ini akan menjadi suatu jaringan besar antar kampung di mana mereka bisa saling belajar, bertukar informasi dan berkembang secara bersama sama. 

Dari konsep pengembangan satu kota ini akan menjadi konsep pengembangan kota dari kampung-kampung yang terberdayakan dan berjaringan dalam satu kota. 
Setelah pilot project yang akan kita mulai dari kota solo selesai akan kami geser ke kota lain yang tentunya akan kita kembangkan kota tersebut dari potensi potensi yang ada di dalam satu kota tersebut. 

Akhirnya ini akan menjadi jaringan besar antar kota, dimana secara berkala akan ada kolaborasi antar kota untuk melakukan kegiatan kegiatan bersama secara berkala.  

Rencana ke depan?

Di tahun 2017 kemarin saya mendapat hibah tanah seluas 350 meter persegi, yang di tahun ini juga akan saya rencanakan dibangun pusat study dan pengembangan hardskill untuk seluruh masyarakat di nusantara ini. 

(Pendampingan dalam bidang bisnis. Foto: Rumah Baca Sangkrah) 

Sedangkan dari konsep pengembangan kampung-kampung itu juga nantinya akan terbentuk satu pusat di tengah kota yang fungsinya sebagai pusat study dan pengembangan soft skill. 

Bagaimana konsep pemberdayaan yang dikembangkan di Rumah Baca Sangkrah?  

Konsep dasar dari community building ini adalah menggunakan tradisi asli nusantara yaitu gotong royong.  Akan terbentuk suatu tatanan masyarakat yang baik jika semua memiliki andil dan peranan masing masing dan dikolaborasikan secara bersama sama untuk mencapai tujuan. 

Dalam proses proses pendampingan masyarakat ini pun di dampingi oleh beberapa individu dan atau komunitas profesional di bidangnya masing masing. 

Masing masing mengambil peranannya sendiri sendiri berdasarkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Secara sukarela segala bentuk ilmu dan pengetahuan di sharring kan kepada masyarakat agar bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari hari. 

Seluruh instruktur yang terlibat benar benar pro bono alias gratis tidak satu pun yang kami bayar. Unsur kebermanfaatan itulah yang menjadi dasar para volunteer dari berbagai etnis, suku bangsa dan negara secara bersama sama bergerak. 

Seringkali saya menyebut Rumah Baca Sangkrah sebagai rumah kebaikan, karena segala bentuk kebaikan berkumpul dan bergerak secara bersama sama. 

Untuk kepada masyarakat sendiri proses yang saya lakukan selama ini membangun bentuk bentuk kesadaran, sehingga gerak gerak yang dilakukan oleh masyarakat itu untuk dirinya secara pribadi, masyarakat sekeliling mereka dan lingkungan tempat tinggal mereka. Tidak ada yang memaksa ataupun terpaksa di dalam proses proses laku sosial selama ini yang terjadi di Rumah Baca Sangkrah Solo.  

 

Di Indonesia Menjadi relawan itu belum populer, bagaimana mas Danny mengenalkan volunteerism pada warga?

Membangun kesadaran kolektif, hal ini yang pertama kali saya lakukan. Sebetulnya bagi bangsa di nusantara ini laku laku sosial tidaklah begitu asing bagi masyarakat, salah satu contoh budaya sosial yang masih berkembang di masyarakat hari ini adalah gotong royong. 

Dimana masyarakat mengambil bagian dan peranan masing masing secara bersama sama untuk mencapai suatu tujuan. Volunteer utama yang dikembangkan oleh Rumah Baca Sangkrah Solo adalah warga setempat, justru bukan kami yang dari pihak luar. 

Pertama kali yang saya lakukan adalah pemetaan sosial, karena karakteristik tiap daerah atau kampung kampung itu berbeda satu dengan yang lainnya. Pemetaan yang dilakukan ini membutuhkan partisipatif masyarakat setempat karena merekalah yang memahami seluruh proses kehidupan yang terjadi ditempat mereka tinggal. Pemetaan potensi apa saja yang ada di tempat mereka tinggal, baik potensi individu warga masyarakat, geografis, tradisi, ataupun lingkungan. 

Pemetaan permasalahan permasalahan apa saja yang sehari hari mereka hadapi saat ini atau permasalahan yang tidak kunjung selesai hingga hari ini. Dari sini kemudian kita kembangkan lagi, solusi apa yang mereka butuhkan untuk bisa menyelesaikan permasalahan sosial yang mereka hadapi saat ini. 

Apakah dari potensi potensi lokal yang mereka miliki tersebut bisa digerakkan secara bersama sama untuk bisa menyelesaikan permasalahan mereka atau tidak, jika belum bisa keahlian atau pengetahuan apa yang mereka butuhkan. Nah, dari sini kemudian kita mencari bantuan dari para ahli atau profesional di bidangnya untuk bisa membantu permasalahan permasalahan yang ada di masyarakat ini.
 
Dari seluruh rangkaian proses ini tanpa mereka sadari sudah membangun suatu pemahaman tentang volunteerisme itu sendiri. Partisipasi dari berbagai pihak untuk sebuah laku laku sosial untuk kebermanfaatan bersama. 

 

Apa motivasi Mas Danny memberdayakan warga di Sangkrah?

Kematian, ya kematian adalah motivasi terkuat saya bergerak selama ini. Dalam kehidupan ini suatu hal yang pasti adalah kematian. Kesadaran akan kematian ini lah sejak usia saya masih belasan sudah berjanji jika usia genap 40 tahun saya akan mendekat kepada Gusti Allah SWT. Saya sendiri secara pribadi usia saya akan mencapai berapa tahun, namun menurut pemahaman saya usia rata rata orang Indonesia 50 tahun, di titik usia 40 tahun inilah saya sudah mempersiapkan kematian saya ini dengan cara mendekatkan diri kepada Gusti Allah. 

(Gubernur Ganjar sempat singgah di Rumah Baca Sangrah. Foto: Rumah Baca Sangkrah)

Niat untuk mendekat kepada Tuhan tanpa disangka ketika usia saya 38 tahun diajak memperbaiki kondisi kampung yang bisa di sebut sebagai kampung preman. Ketika itu saya masih kerja sebagai IT (information technology) di salah satu perusahaan swasta online trading. Ternyata niat untuk mendekat kepada Gusti Allah itu diberi jalannya. Dan ketika genap umur 40 tahun saya keluar dan fokus terhadap laku laku sosial yang sudah diarahkan oleh Gusti Allah ini.
 
Kepada orang lain saya mengajak untuk berpartisipasi dalam laku laku sosial ini dengan kebermanfaatan kepada sesama, berbagi tidak harus dalam wujud materi namun juga bisa berbagi ilmu dan pengetahuan yang bagi ilmu dan pengetahuan ini nilainya bahkan bisa melebih dari materi itu sendiri. Dengan cara cara sederhana inilah akhirnya saya menamai gerak ini dengan nama Gerakan Sosial Mencerdaskan Masyarakat.

Lebih lengkap mengenai kegiatan Rumah Baca Sangkrah bisa dibaca di webnya, rumahbacasangkrah.com [KW]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

607 Infrastruktur Kaltim Dibangun dari Dana Desa

Binsar Marulitua   Pendampingan
Bagikan:          
Bagikan: