Rici Solihin, Muda dan Kaya Sebagai Petani Paprika

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers
21 Feb 2018   14:30

Komentar
Rici Solihin, Muda dan Kaya Sebagai Petani Paprika

Rici Solihin, sebagai duta petani muda 2016 (Foto : Foto: Istimewa)

Trubus.id -- Usianya masih muda, belum sampai kepala tiga. Namun prestasinya sungguh luar biasa. Pencapaian pria dengan akun Instagram @ricisolihin ini selain terpilih sebagai duta petani muda 2016, juga seorang dosen, enterpreneur dan inspirator.

Sebelumnya, sejak mahasiswa pria humoris ini pernah meraih beberapa prestasi, diantaranya  Juara 1 YSEALI Pitch Master Chef 2015 di Vietnam, Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri 2011, Delegasi Indonesia dalam program ASEAN Students Visit India (ASVI) 2013.

Saat ini ia sedang fokus mengembangkan bisnis parika-nya dengan brand "paprici".

Kepada Trubus.id ia berbagi  pengalamannya bagaimana perjalanan karirnya sebagai "‎Visionary Entrepreneur and Creative Farmer"

Baca Lainnya: Dengan Hidroponik, Sekarang Faris Sukses Jadi Petani Kekinian

Sebagai generasi milenial, kenapa memilih profesi jadi petani?

Saya memiliki mimpi bagaimana mengembangkan kampung halaman saya agar lebih maju dan dikenal melalui kegiatan pertanian sebagai ciri khas sejak dulu.

Saya tidak ingin hanya menjadi petani biasa tetapi petani yang luar biasa karena ingin mencoba mengubah paradigma bahwa petani itu tidak harus selalu identik dengan lusuh, kotor, tua, kuno bahkan tidak sejahtera.

Agar profesi petani diminati anak muda lainnya, saya beritikad menjadi role model petani muda yang merepresentasikan bahwa petani itu muda, bersih, modern, kekinian dan tentunya menguntungkan.

Alasan lainnya menjadi pengusaha tani tidak hanya mencari makan untuk diri sendiri seperti karyawan di kantoran namun juga dapat menghidupi banyak orang yang tentunya lebih bermanfaat.

Usaha pertanian itu merupakan bisnis yang abadi karena selama manusia hidup pasti memerlukan makanan. Selain itu kebebasan waktu juga mampu mendekatkan saya dengan keluarga dan bisa tenang dalam beribadah tepat waktu.

Menurut Rici, apa yang harus dilakukan petani saat ini agar bisa jadi petani kekinian yang sukses?

Agar bisa menjadi petani sukses, seseorang harus pintar dalam melihat pasar. Banyak pola pikir yang keliru saat ini, petani hanya melihat komoditas apa yang menguntungkan bukan seberapa besar peluang pasar yang masih tersedia.  Sehingga mereka hanya berfokus pada budidayanya namun belum mengetahui kemana pemasarannya.

Hasilnya banyak pemula dengan modal besar yang akhirnya merugi karena mereka tidak mampu memasarkan hasil panennya dan bahkan terjebak dengan tengkulak dengan harga yang tidak pasti.

Untuk mengatasinya maka yang pertama harus dilakukan cari pasarnya terlebih dahulu, cari tahu apa yang mereka butuhkan, baru sesuaikan dengan kemampuan produksi kita sesuai domisili. Karena potensi pangan lokal setiap daerah tentu berbeda-beda.

Sebaiknya para petani saat ini lebih aktif mengecek pasar apalagi telah ditunjang dengan adanya akses komunikasi yang telah mumpuni salah satunya pemasaran secara online. Untuk dapat dikenal oleh konsumen, sebaiknya petani mulai membangun brand lokal untuk meningkatkan nilai produknya yang berimplikasi pada peningkatan pendapatannya.

Kenapa fokus bertanam paprika?  

Latar belakang pendidikan saya ketika kuliah S-1 mengambil studi Manajemen dan Bisnis di Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi kewirausahaan, sehingga luaran yang diharapkan dari jurusan tersebut lulusannya dapat membuat usahanya sendiri ketika lulus.

Maka sejak tahun 2010 ketika masih duduk di semester 5 saya mulai merintis bisnis supplier sayuran karena melihat banyak petani lokal di kampung halaman saya yakni Desa Pasirlangu yang terjerat tengkulak dan bahkan mengalami kerugian karena tidak bisa memasarkan hasil panennya.

Untuk itu saya mencoba membantu mereka dalam memasarkan produknya yang mayoritas sayur dihasilkan seperti paprika, labu siam, brokoli, dll.

Bermula dari usaha perdagangan yang diberi nama Segar Barokah, saya menemukan jika komoditas yang paling banyak diminta konsumen dan yang paling memberikan margin keuntungan terbesar berada di komoditas Paprika.

Baca Lainnya: Toto Sugiharto, dari Puncak Gunung Sukses Beternak Kambing Etawa

Maka dari itu saya membangun usaha pertanian paprika terutama ketika permintaan telah meningkat tetapi produksi dari petani belum mampu memenuhinya.

Maka dari saya mulai mendalami manajemen agribisnis bagaimana memulai dan mengelola usaha pertanian yang tepat dengan bermodal menyusun rencana bisnis (business plan) pertanian paprika yang kemudian dijadikan sebagai skripsi sebagai syarat kelulusan kuliah S1.

Dari itulah saya melihat betapa luar biasanya potensi pasar dan bisnisnya sehingga saya optimis untuk segera menjalankannya sejak itu.

Awalnya tahun 2012 membangun greenhouse paprika seluas 600m2 untuk kapasitas produksi 2500 pohon dan terus berkembang hingga saat ini mencapai 10000 pohon dengan luas lahan mencapai 2500m2.

Tanangannya apa saja?

Tantangan dalam usaha paprika ada 3 hal, yakni: mengenai pasar, tenaga kerja dan alam.  

Berapa omset per bulannya dan pemasarannya kemana saja?

Untuk omset per bulannya kalau secara finansial tidak menentu karena fluktuasi harga paprika itu sangat tinggi antara Rp.15.000-Rp.40.000/kg tetapi biasanya harga rata-ratanya Rp20.000/kg dengan jumlah produksi rata-rata per bulan mencapai 1 ton paprika.

Saat ini kami telah melakukan pemasaran ke area Pulau Jawa (Jawa Barat & DKI Jakarta), Sumatera (Palembang, Kep. Riau, Padang, Lampung), Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin) dan bahkan pernah melakukan ekspor ke Singapura. 

 Apa keunggulan paprici?

Paprici mempunyai tagline “Kebaikan Pangan Indonesia” yang artinya kami berupaya menyediakan produk pangan berkualitas karena diproduksi dengan sistem hidroponik yang mengikuti GAP (Good Agricultural Practices) sehingga memiliki daya tahan yang lebih lama dan berkualitas unggul.

Selain itu kami juga memberdayakan petani lokal agar mendapatkan pendapatan yang memenuhi standar sehingga mampu menghasilkan produk yang etis (ethical products) karena mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya dan sebagian keuntungan yang didapatkan digunakan untuk kegiatan sosial regenerasi petani muda.

Paprici juga ikut mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang digagas oleh dinas kesehatan untuk mengonsumsi sayur dan buah setiap hari dan ikut mengedukasi gizi sayuran mengingat sayuran yang diproduksi kami memiliki nilai gizi tinggi seperti halnya paprika yang memiliki kandungan vitamin C 3 kali lebih tinggi dari pada jeruk serta mampu menjadi antioksidan yang dapat mencegah kanker.

Pengalaman menarik selama menjadi petani paprika?

Ketika saya menjadi pebisnis paprika saya mencoba untuk mengenalkan profesi petani secara internasional dengan mengikuti beberapa organisasi dan event internasional seperti, YSEALI (Young South East Asian Leaders Initiative) di Vietnam dan Filipina,  Ashoka ChangemakersXChange di Singapura dan Malaysia, Slowfood Internasional, hingga Global Start-up Youth di Malaysia.

Awalnya saya merasa minder karena di saat anak muda lainnya mengenalkan bisnis di bidang teknologi dengan usaha yang out of the box sementara saya sendiri hanya seorang petani di desa.

Akan tetapi saya tidak menyangka bahwa profesi saya justru dianggap yang paling menarik karena tidak banyak anak muda yang terjun di dunia pertanian dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat di sekitar.

Bahkan ketika saya mempunyai ide bagaimana untuk menghubungkan petani secara langsung kepada konsumen melalui online market place mampu meraih juara 1 kompetisi YSEALI Pitch Competition se-ASEAN di Vietnam 2015. [KW]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: