Babad Bina Swadaya, Awal Mula Berdirinya Bina Swadaya

TrubusNews
Astri Sofyanti
04 Agu 2020   15:15 WIB

Komentar
Babad Bina Swadaya, Awal Mula Berdirinya Bina Swadaya

Bambang Ismawan. (Foto : Dok. Trubus Bina Swadaya.)

Trubus.id -- Perjalanan Bina Swadaya tidak terlepas dari Gerakan Sosial Ekonomi Pancasila yang didirikan pada tahun 1954 oleh sejumlah orang yang gelisah, karena hampir 10 tahun Indonesia merdeka, rakyat masih belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Sebagai negara yang baru merdeka kala itu, pemerintah dihadapkan pada berbagai masalah seperti mempertahankan kemerdekaan, menyusun sistem pemerintahan, membangun hubungan luar negeri, dengan kondisi yang sangat terbatas, sehingga lupa memperhatikan rakyat.

Situasi bangsa pada saat itu mengundang keprihatinan dari sekelompok pemuda di Jawa Tengah merasa perlu untuk membuat gerakan sosial kemasyarakatan. Organisasi ini mendapat dukungan dari Kongres Umat Katholik Seluruh Indonesia (KUKSI).

Dari situ, Gereja Katholik Seluruh Indonesia membantu berdirinya lima organisasi kemasyarakatan yang meliputi Ikatan Buruh Pancasila yang didirikan pada 1954, Ikatan Petani Pancasila yang didirikan tahun 1958, Ikatan Usahawan Pancasila yang didirikan pada 1962, Ikatan Paramedis Pancasila tahun 1963 dan Ikatan Nelayan Pancasila yang didirikan pada 1964.

Ketika Ikatan Petani Pancasila (IPP) didirikan pada 1958, saat itu kantor pusat IPP ada di Yogyakarta, kemudian pada tahun 1962 kantor pusat IPP pindah ke Semarang hingga 1965. Bambang mengatakan dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Petani Pancasila pada 1965.

Pada saat ini Presiden Soekarno membuat suatu peraturan bahwa semua Organisasi Masyarakat (Ormas) harus memiliki 250 ribu anggota, tapi Ikatan Petani Pancasila pada waktu itu memiliki dari 1 juta anggota.

Kondisi ini membuat kantor pusat Ikatan Petani Pancasila pindah ke Jakarta pada tahun yang sama. Setelah pindah ke Jakarta, Ikatan Petani Pancasila bisa bergabung dengan organisasi-organisai tani yang lain, dan berhasil menyelenggarakan musyawarah tani yang dihadiri oleh Presiden Soekarno dan diselenggarakan di Glora Bung Karno pada Agustus 1965.

Ikatan Petani Pancasila memiliki lima program yang meliputi intesifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, pendidikan dan pelatihan pertanian, produk dan pemasaran hasil pertanian, hingga pembelaan terhadap petani.

Ikatan Petani Pancasila dengan lima program itu mempunyai tiga strategi yaitu: pertama menyelenggarakan program-program dengan partisipasi masyarakat, partisipasi ini dilakukan melalui pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang sebelumnya disebut sebagai Kelompok Usaha Bersama (KUB). Kedua, pendekatan dilakukan dengan proyek, proyek-proyek ini didapatkan dari kerjasama internasional salah satunya lembaga donor dari Australia. Ketiga, pendekatan melalui organisasi massa, pendekatan ini lebih banyak memperjuangkan dan membela hak-hak petani.

Kemudian, Ikatan Petani Pancasila pada tahun 1967 mendirikan Yayasan Sosial Tani Membangun (YSTM) yang bertrasformasi menjadi Yayasan Bina Swadaya sebagai penerus Ikatan Petani Pancasila.

Kala itu, YSTM yang telah bertransformasi menjadi Yayasan Bina Swadaya kemudian mendirikan Majalah Trubus pada 1969 sebagai media informasi pertanian.

Bambang mengatakan, terbitnya Majalah Trubus, membuat YSTM semakin bermanfaat, karena saat itu Ikatan Petani Pancasila tidak diterima sebagai penerbit karena membawa bendera organisasi massa, maka dibutuhkan badan hukum untuk penerbit menggunakan YSTM. Berjalannya waktu, kegiatan yang dilakukan YSTM tidak hanya sebatas penerbitan majalah saja, tapi juga mengelola kegiatan-kegiatan yang terkait dengan partisipasi masyarakat hingga pelatihan-pelatihan.

Ketika YSTM hanya dikhususkan dalam bidang penerbitan Majalah Trubus, untuk badan hukum kegiatan-kegiatan lain, untuk menjalin kerjasama dengan bidang-bidang lain berjalan dengan baik didirikan yayasan baru, yaitu Yayasan Bina Swadaya.

Belakangan, diakui Bambang setelah menemukan pendekatan-pendekatan melalui Perseroan Terbatas (PT), YSTM diberhentikan kemudian dibadung PT-PT di bawah Yayasan Bina Swadaya seperti Toko Trubus yang meliputi produksi pertanian, produksi buku dan produksi sarana pertanian. Kemudian keuangan mikro mikro, hingga bidang pemberdayaan masyarakat.

“Bina Swadaya utamanya mengembangkan partisipasi masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat,” Bambang Ismawan.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Berdayakan Ekonomi Warga Melalui Bank Sampah

Pendampingan   11 Sep 2020 - 14:09 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: