Madu Gajeboh, Madu Hutan Penuh Khasiat Produksi Masyarakat Baduy

TrubusNews
Astri Sofyanti
03 Agu 2020   14:37 WIB

Komentar
Madu Gajeboh, Madu Hutan Penuh Khasiat Produksi Masyarakat Baduy

Ilustrasi - Madu. (Foto : pexels.com)

Trubus.id -- Perekonomian masyarakat Baduy yang berada di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, terdongkrak berkat penjualan madu hutan. Madu Gajeboh, madu hutan penuh khasiat produksi masyarakat Baduy yang pemasaran dan branding-nya dibantu oleh Bina Swadaya Konsultan (BSK).

Bina Swadaya Konsultan bersama mitra dari Bank Mandiri memiliki misi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Baduy. Salah satu strategi yang dilakukan, yaitu membuat pemasaran satu pintu dan menciptakan jaminan pemasaran. Melalui perwakilannya, yaitu Mang Uncal, pria keturunan Suku Baduy, tepatnya di Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Kecamatan Leuiwidamar, Kabupaten Lebak, ini rutin mengirimkan madu hutan dan tenun khas Baduy, untuk dipasarkan oleh BSK.

Madu hutan asli Baduy ini dihasilkan oleh petani madu hutan dari Suku Baduy Dalam di Kampung Cibeo. Sementara, kain tenun khas Baduy diproduksi masyarakat Suku Baduy Luar di Kampung Gajeboh. Dari kerja sama ini, setiap bulan Mang Uncal bisa mengirimkan madu lebih dari 100 kilogram. Bina Swadaya Konsultan melalui unit kewirausahaan sosialnya menjadi bagian produksi dan pemasaran dengan menciptakan branding “Madu Gajeboh”.

Bisnis pun dimulai, berbagai kemasan dibuat mulai dari 175 ml, 250 ml, 350 ml, hingga 500 ml. Dari empat jenis kemasan tersebut, ternyata yang paling diminati pasar adalah kemasan berukuran 350 ml.

Setelah dibuat branding, produk madu hutan ini semakin dikenal luas dan diminati masyarakat Ibu Kota karena dianggap menyehatkan juga diyakini dapat mengobati berbagai jenis penyakit seperti diabetes, asam urat, kolesterol, rematik, kurang darah hingga batu ginjal.

Tak membutuhkan waktu lama, permintaan madu hutan ke BSK meningkat. Tapi, karena kendali mutu yang kurang saat itu, kualitas Madu Gajeboh menurun, madu yang diproduksi Mang Uncal dalam jumlah besar mengental atau berkristal. Karena tak memungkinkan untuk dijual dalam kondisi itu, semua peredaran Madu Gajeboh ditarik.

Guna mencari tahu permasalahannya, Bina Swadaya Konsultan membentuk tim pencari fakta untuk menelusuri sumber madu yang dikirim Mang Uncal. Setelah temuan didapat dan dibuktikan, permasalahan akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Setelah kejadian itu, Bina Swadaya Konsultan dan Mang Uncal sepakat untuk melakukan kendali mutu lebih ketat dengan uji laboratorium. Usai mendapatkan kepercayaan lagi, Mang Uncal kembali mengirimkan madu hutan ke BSK, permintaan pun kembali normal.

Namun di tengah perjalanan, kristalisasi madu kembali terjadi. Meski begitu, secara kualitas madu tidak ada yang berubah karena sudah melalui uji laboratorium dan dinyatakan lulus uji. Akhirnya, dilakukan penanganan yang sedikit berbeda dengan kejadian sebelumnya. Tim pencari fakta BSK kembali melakukan kajian dan berkonsultasi dengan sesama produsen madu hutan dan madu ternak.

Dari konsultasi tersebut, diketahui bahwa madu hutan yang mengalami kristalisasi merupakan hal yang wajar. Kristalisasi terjadi lantaran jenis bunga yang dihisap lebah hutan lebih beragam dibanding lebah ternak. Masalah pun kembali selesai sehingga tidak memerlukan waktu lama Madu Gajeboh mendapatkan kepercayaan kembali di pasar hingga saat ini.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Berdayakan Ekonomi Warga Melalui Bank Sampah

Pendampingan   11 Sep 2020 - 14:09 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: