Desa Mandiri dan Maju, Akar Negara yang Sehat dan Kuat

TrubusNews
Syahroni
06 Juli 2020   18:00 WIB

Komentar
Desa Mandiri dan Maju, Akar Negara yang Sehat dan Kuat

Bambang Ismawan, Pendiri Yayasan Bina Swadaya serta peraih penghargaan Global Business and Interfaith Awards 2018. (Foto : Trubus.id)

Trubus.id -- Masalah-masalah laten seperti kemiskinan dan keterbelakangan, kerap dijumpai di desa-desa. Padahal sejatinya, desa ibarat akar bagi sebuah pohon bernama Negara. Agar Negara bisa berkembang dengan baik, tentunya dibutuhkan akar yang kuat dan sehat. Untuk itulah desa harus diubah. Desa harus dibangun. Hal itu disampaikan Bambang Ismawan, saat menjadi pembicara dalam webinar Kongres Kebudayaan Desa dengan topik ‘Merajut Desa Membangun Sebagai Bagian Gerakan Global’ yang digelar, Minggu (5/7) kemarin.

Pendiri Yayasan Bina Swadaya yang pernah meraih penghargaan Global Business and Interfaith Awards 2018 serta penerima 72 Ikon Prestasi Indonesia 2017 itu menjelaskan, desa menjadi miskin karena terjadinya proses marginalisasi melalui sejumlah modal yang dimiliki desa. 

6 Modal Desa Alami Proses Marginalisasi

Bambang Ismawan mengutarakan, ada 6 modal yang dimiliki desa yang hingga kini menurutnya masih mengalami proses marginalisasi. 

“Yang pertama modal SDM (Sumber Daya Manusia). Justru karena maksud baik adanya pendidikan, otak dari desa justru keluar dari desa. Dan itu yang disebut brain drain. Orang yang punya kualifikasi tinggi malah tidak ada di desa,” terangnya.

Selain modal SDM, modal kelembagaan desa yang menjadi kekuatan orang desa juga kini nyaris tidak terlihat. Dan menurutnya, ini adalah kelemahan besar. 

“Masalah lain yang dihadapi desa adalah kekurangan modal untuk melakukan kegiatan-kegiatan produksi, jasa-jasa dan sebagainya. Karena orang desa miskin, lembaga keuangan perbankan yang tersedia tidak melayani masyarakat miskin. Karena menurut mereka tidak bankable,” urai Bambang lagi.

Hal lain yang menurutnya mendorong desa menjadi miskin adalah modal produksi yang rendah. Ia mengumpamakan di desa pertanian, masalah yang dihadapi adalah kepemilikan lahan. Seperti diketahui saat ini lahan petani semakin sempit. Jumlah lahan terus berkurang. Dengan lahan yang berkurang, tentunya produksi mereka pun ikut tergerus. 

Hal berikutnya yang membuat desa menjadi miskin adalah rantai pasok yang tidak adil dan panjang serta rusaknya lingkungan hidup akibat dampak kegiatan ekonomi di luar desa, seperti pertambangan, pembukaan lahan besar untuk korporasi dan sebagainya.

Mencapai Desa Mandiri dan Maju

Para penggiat desa tentu ingin mengubah kondisi ini guna mewujudkan desa mandiri dan maju sehingga dapat menunjang kemajuan bangsa.

“Desa mandiri dan maju itu kehidupannya cerdas dan sehat. SDM itu sesuatu yang sangat menentukan. Inti dari suatu perkembangan. Kemudian mampu berswadaya. Jadi memang sekarang membutuhkan bansos segala macam. Namun intinya mereka harus mampu menuju ke swadayaan. Lalu warga desa juga mampu mengembangkan kesejahteraannya, rukun/ socially sustainable dan gender sensitive. Menghargai peranan perempuan. Harus diubah jadi lebih berperan sebagai pengelola ekonomi rumah tangga. Sehingga diharapkan terwujudnya lingkungan lestari berkelanjutan. Ini suatu proses yang panjang namun harus ada komitmen.” Terangnya lagi. 

Untuk menjadi desa mandiri dan maju ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Menurut Bambang, hal pertama yang harus dilakukan adalah pengembangan kelembagaan solideritas. 

“Pengembangan kelembagaan solideritas jangan hanya terjadi di kalangan elit desa. Semua harus dilibatkan. Sesuai SDGs, no one left behind. Kemudian pengembangan sistem keuangan mandiri. Warga desa jangan menunggu kredit dari bank yang tidak akan pernah datang. Pengalaman saya di tempat lain, hal ini bisa dilakukan,” urainya.

Upaya lain yang bisa mencapai desa mandiri dan maju adalah pengembangan produksi dan pemasaran. Karena itu perlu dibentuk pengorganisasian dan lain sebagainya.
Kemudian, pengembangan teknologi tepat guna juga harus digencarkan. Karena menurutnya selama ini Indonesia sudah memiliki begitu banyak teknologi yang sayangnya belum bisa dimanfaatkan warga desa. 

“yang terakhir lokal spesifik ke arah ekonomi kreatif. Saya pernah pergi ke Papua, menemukan pedagang soto lamongan. Sate juga. Jadi lokal spesifik itu luar biasa. Desa-desa kita juga punya. Kalau dikembangkan dengan baik dengan orang muda, bisa mengarah menjadi ekonomi kreatif yang mampu dikonsumsi di tingkat desa maupun di luar desa bahkan diekspor ke luar negeri,” jelasnya lagi. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Trubus Dorong Kemandirian Pangan Keluarga dengan Tabulampot

Pendampingan   08 Agu 2020 - 16:11 WIB
Bagikan:          

Babad Bina Swadaya, Awal Mula Berdirinya Bina Swadaya

Pendampingan   04 Agu 2020 - 15:15 WIB
Bagikan: