Trubus Bina Swadaya dan PSEA-CRS Sepakat Bekerja Sama Melawan Kekerasan Seksual pada Anak

TrubusNews
Astri Sofyanti
02 Juli 2020   18:03 WIB

Komentar
Trubus Bina Swadaya dan PSEA-CRS Sepakat Bekerja Sama Melawan Kekerasan Seksual pada Anak

ilustrasi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia bukan hanya sekedar komitmen, melainkan menjadi sebuah panduan menuju Indonesia yang lebih baik. Keberhasilan dari pelaksanaan SDGs ini menuntut partisipasi dan komitmen dari seluruh lapisan masyarakat, baik individu, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, Filantropy bahkan dunia usaha.

Kesetaraan Gender menjadi Goals ke lima (5) yang merupakan integral dari keseluruhan dimensi pembangunan insklusif dan berkelanjutan.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Emilia Setyowati mengatakan, tujuan kesetaraan gender pada SDGs terdiri dari: penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pemenuhan hak reproduksi, penghargaan atas pekerjaan rumah tangga, partisipasi perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan dan reformasi atas hak kepemilikan tanah dan pemanfaatan teknologi bagi perempuan.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Emilia Setyowati (Foto : Instagram/@emilia.prasetyo)

“Trubus Bina Swadaya sebagai lembaga kewirausahaan sosial, sesuai dengan falsafahnya yang berbunyi 'melayani orang lain adalah sebuah panggilan luhur', memiliki tugas, panggilan, serta passion untuk mewujudkan pembangunan inklusif dan berkelanjutan dengan prinsip 'no one left behind'. Jadi tidak ada satupun yang tertinggal,” ujarnya saat membuka webinar dengan tema 'Perlindungan Bagi yang Rentan, Melawan Pelecehan Seksual pada Anak', yang digagas Trubus Bina Swadaya bersama Program Protection Againts Sexual Exploitation and Abuse (PSEA-CRS), Kamis (2/7/20) siang.

Menurutnya, anak-anak dan perempuan merupakan kaum yang rentan ditinggalkan dan rentan terhadap pelecehan seksual. Anak-anak seringkali hanya menjdi subyek. Suara mereka tidak didengar. Keluhan mereka juga kerap diabaikan.

“Dan yang lebih memprihatinkan, orang dewasa yang seharusnya bertugas melindungi, sering kali justru melukai dengan dalih melindungi. Karena itulah, tingkat kekerasan dan pelecehan seksual pada anak terus meningkat. Sehingga efeknya seperti fenomena gunung es. Banyak, tetapi tak nampak. Tertutup oleh stigma aib, malu dan bukan ranah publik,” ungkapnya.

Untuk itu, Bina Swadaya melalui kegiatan Emergensi Respon, yang mulai hari ini bertransfromasi menjadi SHaRE Sosial, Humaniarian and Emergency Response bekerjasama dengan PSEA-CRS sepakat melakukan komitmen untuk melawan kekerasan seksual, bukan hanya pada anak-anak tetapi kepada semua manusia.

“Oleh karenanya, hari ini, mari kita sama-sama belajar dan memahami apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual, apa yang harus dilakukan untuk melawannya serta apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi,” ungkap Emilia lagi.

Menurutnya, pemahaman bersama, perlindungan bersama dan kolaborasi antar pihak merupakan kunci dari pencapaian tujuan penghapusan kekekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

“Semoga kita bisa menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” harap Emilia. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Trubus Dorong Kemandirian Pangan Keluarga dengan Tabulampot

Pendampingan   08 Agu 2020 - 16:11 WIB
Bagikan:          

Babad Bina Swadaya, Awal Mula Berdirinya Bina Swadaya

Pendampingan   04 Agu 2020 - 15:15 WIB
Bagikan:          
Bagikan: