Survei LIPI Ungkap 94,69% UMKM Alami Penurunan Penjualan Selama Pendemi Covid-19 

TrubusNews
Binsar Marulitua
02 Juli 2020   12:00 WIB

Komentar
Survei LIPI Ungkap 94,69% UMKM Alami Penurunan Penjualan Selama Pendemi Covid-19 

Ilustrasi umkm perikanan (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan Survei Kajian Cepat Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Kinerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dilaksanakan  pada 1 – 20 Mei 2020. Data survei menunjukkan bahwa selama pandemi  94,69% UMKM mengalami penurunan penjualan. 

"Survei dilaksanakan secara daring pada 1 – 20 Mei 2020, dan melibatkan 679 valid responden dengan mata pencaharian utama sebagai pelaku usaha," jelas Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Eko Nugroho, Senin (30/6/2020).

Eko merinci berdasarkan skala usaha, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 49,01% usaha ultra-mikro, 43,3% usaha mikro, 40% usaha kecil, dan 45,83% usaha menengah. Berdasarkan lama usaha, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 23,27% usaha berusia 0-5 tahun, 10,9% usaha berusia 6-10 tahun dan 8,84% usaha yang telah berjalan lebih dari 10 tahun. 

Baca Lainnya : Bebankan UMKM, Pemerintah Dituntut Sediakan Akses Alternatif Pengganti Kantong Plastik

Berdasarkan metode penjualan, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 47,44% usaha penjualan offline/fisik, 40,17% usaha penjualan online, dan 39,41% usaha dengan metode penjualan offline sekaligus online. 

“Pandemi COVID-19 menyebabkan profit usaha menurun secara signifikan akibat biaya produksi tetap atau bahkan meningkat sementara penjualan menurun. Biaya usaha yang mengalami peningkatan selama pandemi yaitu bahan baku, transportasi, tenaga kerja, dan biaya lain-lain,” terang Eko.

Survei juga megumpulkan persepsi pelaku usaha terkait kerentanan UMKM tutup usaha jika pandemi tidak segera berakhir. Sebanyak 47.13% usaha hanya mampu
 bertahan hingga Agustus 2020, 72,02% usaha akan tutup setelah November 2020, dan 85,42% usaha dapat bertahan paling lama dalam rentang waktu satu tahun sejak pandemi. 

Baca Lainnya : 50 Persen UMKM Diprediksi Gulung Tikar Terdampak Covid-19

“Terdapat beberapa preferensi strategi yang dilakukan UMKM, antara lain mencari pasar baru, mencari pemasok bahan baku yang lebih murah, mengurangi tenaga kerja, dan memohon penundaan pembayaran,” tambahnya. 

Eko menjelaskan survei ini menjaring responden pelaku usaha mikro 54,98%, ultra-mikro 33,02%, pelaku usaha kecil 8,1% dan pelaku usaha menengah 3.89%; dengan lama usaha 0-5 tahun (55,2%), 6-10 tahun (24%) dan lebih dari 10 tahun (20,8%). 

Baca Lainnya : Pendemi Virus Corona, UMKM Perlu Diperkuat Antisipasi Pelemahan Perekonomian Global

Sebagian besar usaha yang berusia 0-5 tahun berada dalam skala ultra-mikro (58,36%) dan skala mikro (58,33%). Selain itu, terdapat variasi metode penjualan yang dilakukan pelaku usaha, yaitu door-to-door 41%, toko fisik 34%, melalui agen/reseller 32% ,melalui market place 15%, serta penjualan secara online melalui media sosial 54%.

“UMKM yang merupakan penopang produksi nasional tengah menghadapi goncangan dari sisi penawaran dan permintaan, hal itu dapat berimplikasi pada penurunan kesejahteraan masyarakat,”jelasnya. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Trubus Dorong Kemandirian Pangan Keluarga dengan Tabulampot

Pendampingan   08 Agu 2020 - 16:11 WIB
Bagikan:          

Babad Bina Swadaya, Awal Mula Berdirinya Bina Swadaya

Pendampingan   04 Agu 2020 - 15:15 WIB
Bagikan:          
Bagikan: