Protokol New Normal di Sektor Konstruksi, Diharapkan Berpihak pada Pelaku Industri Dalam Negeri

TrubusNews
Syahroni
27 Juni 2020   16:00 WIB

Komentar
Protokol New Normal di Sektor Konstruksi, Diharapkan Berpihak pada Pelaku Industri Dalam Negeri

ilustrasi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hingga kini masih berupaya merumuskan protokol bagi para pelaku bisnis jasa konstruksi untuk menjalani fase tatanan kehidupan normal baru atau new normal di tengah pandemi covid-19 yang tengah melanda negeri ini. Protokol ini sendiri bertujuan untuk mendukung keberlangsungan industri tersebut agar bisa berjalan dengan aman, efektif dan efisien untuk percepatan pembangunan infrastruktur.

Menanggapi hal ini, para pelaku usaha konstruksi, khususnya di sektor baja ringan yang tergabung dalam Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) menyambut baik upaya tersebut. Alasannya, selain dapat melindungi para pekerja konstruksi dari ancaman virus berbahaya, protokol pelaksanaan new normal di sektor jasa konstruksi ini juga diharapkan bisa membawa perubahan pada sektor industri yang mereka geluti.

Baca Lainnya : Dukung Percepatan Pemulihan Ekonomi, Inovasi Baja Ringan Terganjal Regulasi

Sekjen ARFI, Nicolas Kesuma menjelaskan, industri konstruksi khususnya baja ringan selama ini dibagi menjadi 2 segmen. Yang pertama segmen project dan yang kedua segmen retail. Kedua segmen ini tentunya ikut terdampak oleh pandemi Covid-19 yang kini terjadi.

Saat pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak awal Maret lalu, kedua segmen ini banyak yang terhenti. Meski diakui masih ada beberapa project on going yang tetap dilanjutkan selama pandemi, namun sebagian lainnya nyaris tak berdenyut lagi. 

Kondisi ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya pemerintah mulai memberlakukan tatanan normal baru disegala lini untuk menggerakan perekonomian bangsa. Namun demikian, tatanan normal baru ini dirasakan masih belum 100 persen mengembalikan keadaan seperti sedia kala. 

“Misalkan pembangunan LRT, tadinya ada 200 orang sekarang jadi 100 orang. Tidak efektif, tapi kita harus menyesuaikan kondisi sekarang ini. Itu yang menjadi fokus kita. Kondisi new normal ini belum bisa memulihkan total. Tapi setidaknya kita sudah bisa menyiapkan sesuatu, seperti bekerja lebih high performance,” terang Nicolas kepada wartawan melalui sambungan telpon, Jumat (26/6).

Baca Lainnya : Kemenperin Dampingi Pelaku Usaha Tingkatkan Produksi Baja Dalam Negeri

Nicolas menuturkan, 13 produsen baja ringan besar yang tergabung di ARFI, selama pandemi berlangsung dengan taat menjalankan protokoler kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk seluruh karyawan baik di kantor hingga ke pabrik. Edukasi tentang pencegahan penularan hingga pemberian nutrisi tambahan tak ketinggalan dilakukan.

Karena itu, ARFi berharap, protokol kesehatan dalam pelaksanaan new normal di sektor jasa konstruksi ini nantinya dibakukan agar industri dapat segera bangkit. Selain itu, dalam protokol baru itu ARFI juga berharap peran pemerintah untuk memberikan dukungan kepada industri dalam negeri agar mendapat kesempatan terlibat dalam pembangunan yang ada untuk mengejar ketertinggalan mereka pada semester kedua 2020 yang hanya menyisakan waktu 6 bulan lagi. 

“Semoga 6 bulan ke depan project ini dijalankan dengan kecepatan yang baik. Jangan sampai kecepatan ini jadi lambat dan kita akan tergerus dengan overhead kita sendiri. Baik itu proyek infrastruktur, proyek perumahan, proyek, pembangunan gedung-gedung. Karena industri kita luas bukan hanya baja ringan saja. Karena kita selama 3 bulan ini sudah sangat  ‘tertekan’ khususnya dari segi costing,” terang Nicolas lagi.

Bentuk dukungan lainnya yang diharapkan dari pemerintah adalah pendekatan kepada negara-negara lain yang sekiranya dapat memberikan investasi yang dapat menciptakan proyek padat karya untuk mengembangkan industri dalam negeri.

Baca Lainnya : ARFI Tetap Dampingi Aplikator Baja Ringan Melalui Masa Sulit Pandemi

“Kami juga berharap ada hubungan pemerintah dengan negara lain menerapkan FDI (Foreign Direct Investment) dari negara manapun sekiranya yang dapat menciptakan proyek padat karya. Itu yang kita harapkan,” urai Nicolas. 

Di tempat terpisah, Ketua ARFI, Stephanus Koeswandi menjelaskan, selama pandemi, demand atau permintaan produk baja ringan dan atap baja menurun drastis. Kondisi ini tentunya diharapkan tidak sampai terganggu dengan masuknya produk baja ringan dari luar negeri. Untuk itu pemerintah diharapkan dapat membantu melindungi pengusaha nasional dengan memberi ruang lebih luas melalui proyek-proyek pembangunan yang sebelumnya sempat terhenti dan akan digerakkan kembali saat new normal diberlakukan. 

“Kalau protokol kesehatan dari gugus tugas covid yang sudah diberlakukan sudah sangat baik. Tapi tentu saat ini kejadiannya bukan hanya masalah kesehatan saja. Tapi kami di industri baja ringan juga mengalami demand shock. Karena itu kami harap kalau bisa swasta atau perusahaan-perusahan nasional yang tergabung di ARFI ini bisa ikut berperan serta dalam proyek-proyek pemulihan. Seperti proyek pembangunan rumah sakit atau proyek strategis lainnya agar demand yang sudah sedikit ini tidak dinikmati perusahaan asing dan proyek-proyek ini juga dijaga agar TKDN-nya (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sesuai dengan apa yang telah ditetapkan pemerintah,” urainya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Berdayakan Ekonomi Warga Melalui Bank Sampah

Pendampingan   11 Sep 2020 - 14:09 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: