ARFI Tetap Dampingi Aplikator Baja Ringan Melalui Masa Sulit Pandemi

TrubusNews
Syahroni
13 Mei 2020   12:20 WIB

Komentar
ARFI Tetap Dampingi Aplikator Baja Ringan Melalui Masa Sulit Pandemi

Secara simbolis ARFI menyalurkan bantuan pada aplikator baja ringan yang terdampak pandemi COVID-19, Selasa (12/5). (Foto : Doc/ ARFI)

Trubus.id -- Lebih dari 3 bulan berlalu sejak PBB menetapkan covid-19 sebagai pandemi. Sejak saat itu pula, banyak negara melakukan aturan pembatasan sosial bahkan penguncian total (lockdown) guna mencegah penyebaran virus berbahaya ini di negaranya masing-masing. 

Di Indonesia, pemerintah lebih memilih mengambil kebijakan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Langkah ini pun dinilai cukup efektif menahan laju penularan virus berbahaya itu.

Namun demikian, dampak lain yang muncul karena adanya pembatasan sosial ini memang sulit untuk dihindari. Serupa dengan yang dialami negara berkembang lainnya di dunia, pembangunan di Indonesia pun terhambat dan perekonomian nyaris lumpuh. 

Di sektor konstruksi, dampaknya bisa dilihat dengan banyaknya proyek pembangunan yang dihentikan. Pembangunan jadi tersendat karena sebagian besar anggaran pembangunan kini dialihkan untuk penanganan virus corona. 

"Di sektor konstruksi itu ada 2 hal. Yang pertama retail dan yang kedua proyek. Saat ini keduanya terhambat. Banyak proyek pembangunan yang dibatalkan. Adapun yang masih on going (berjalan), tetap dikerjakan karena kontrak dilakukan sebelum pandemi. Sementara di retail saat ini juga mengalami penurunan penjualan. Karena banyak toko yang tutup karena mengikuti aturan PSBB dan daya beli masyarakat yang memang tengah menurun," terang Nicolas Kesuma, Sekjen Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI), yang menjadi wadah produsen besar produk akhir baja ringan di Indonesia, Selasa (12/5).

Karena kondisi ini, Nico menjelaskan, tak hanya pengusaha, tentunya banyak juga pekerja konstruksi yang jadi korban. Tenaga kerja di proyek yang masih berjalan dikurangi. Pekerja di retail juga mengalami hal serupa. Aplikator baja ringan yang selama ini menjadi orang terdepan dalam tumbuh kembang sektor baja ringan di negara ini, banyak yang kehilangan mata pencaharian. Kondisi ini tentunya juga menjadi perhatian para pengusaha, khususnya yang tergabung di ARFI.

Ketua ARFI, Stephanus Koeswandi menambahkan, saat ini aplikator informal yang tergabung dalam asosiasi yang ia ketuai berjumlah 69 ribu pekerja yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah itu masih belum ditambah aplikator lain yang belum terdata dan pembantunya. Untuk itu, ARFI tergerak untuk melakukan inisiatif guna meringankan beban mereka. Bertepatan dengan akan datangnya Hari Raya Idul Fitri, ARFI menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako kepada aplikator, khususnya yang masih bertahan di kota-kota besar karena tidak bisa pulang ke kampung halamannya. 

"Aplikator ini pendapatannya kan ada yang harian dan sesuai kontrak. Karena proyek banyak yang dibatalkan, mereka ini jadi tidak ada penghasilan. Karena itu kami yang tergabung di ARFI, ada 12 perusahaan, melakukan insiatif untuk meringankan beban mereka dengan menyalurkan bantuan sosial yang bentuknya berupa sembako untuk mereka yang saat ini masih bertahan di kota besar," terang Stephanus kepada wartawan.

Untuk tahap awal sendiri, ARFI menyalurkan bantuan kepada 100 aplikator yang masih bertahan di sekitar Jabodetabek. Stephanus menambahkan, kebijakan ini nantinya juga akan diterapkan oleh seluruh anggota ARFI yang ada di berbagai wilayah di seluruh nusantara. 

"Kami berharap sedikit bantuan sosial ini bisa meringankan mereka. Dan kami juga berharap pandemi ini segara berakhir dan para pekerja bisa kembali berkarya. Kemudian saya himbau juga kepada para pekerja juga, nantinya saat kondisi sudah pulih mereka bisa tetap menjalankan protokoler covid yang baik seperti tetap mencuci tangan, menggunakan APD lengkap saat bekerja dan sebagainya sehingga kesehatan mereka tetap terjaga," tutup Stephanus. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: