Petani Milenial Raup Omzet Rp100 Juta Sebulan di Tengah Pandemi Covid-19

TrubusNews
Astri Sofyanti
13 April 2020   11:00 WIB

Komentar
Petani Milenial Raup Omzet Rp100 Juta Sebulan di Tengah Pandemi Covid-19

Tyo, Petani Milenial Raup Omzet Rp100 Juta Sebulan (Foto : Dok. Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia tak menyurutkan para petani milenial untuk tetap produktif. Seperti yang dilakukan Agitya Kristantoko biasa dipanggil Tyo, anak muda asal Bojonegoro, Jawa Timur yang memiliki komitmen dan konsistensi untuk terus memproduksi makanan ringan dari bahan singkong di tengah masa pandemi Covid-19.

Pemilik “Omah Menyok” Gading dan tempat pelatihan sekaligus Agrowisata Edukasi Kuliner Omah Menyok di Jawa Timur, hingga saat ini telah memproduksi 155 jenis olahan hasil dari singkong, seperti rengginang singkong, kripik singkong dan olahan makanan ringan lainnya dengan packaging yang cukup menarik. Tyo memberi merk dagang camilan singkongnya “Gading” yang sudah dipatenkan di Kemenkumham dan dipasarkan di gallery produk olahannya, toko swalayan terkenal, pusat perbelanjaan dan market place seperti Bukalapak dan Shopee.

Tak hanya itu, bersama sang Ibu Kristianingsih yang juga Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Gading, Bojonegoro sejak tahun 2004 hingga 2018, Tyo telah menyabet 11 penghargaan baik penghargaan individu maupun lembaga di bidang pertanian baik ditingkat kabupaten, provinsi maupun tingkat Nasional. Bahkan ia juga menjadi salah satu dari Duta Petani Milenial yang akan dikukuhkan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) pada Senin (13/4) mendatang.

Dari usaha dan lembaga edukasi yang dimilikinya telah menghasilkan omzet sekitar sekitar Rp.75 sampai 100 Juta/bulan. Baginya omzet sebesar itu belum seberapa dibandingkan kepuasan batin apabila saat memberikan pendampingan, pelatihan dan bimbingan kepada petani, kelompok wanita tani, mahasiswa, siswa sekolah dan masyarakat lainnya mampu menghasilkan peserta pelatihan yang berkualitas dan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Khususnya kepada generasi muda yang mau turun ke sektor usaha pertanian.

“Saat ini gerenasi muda di sektor pertanian sudah mulai bertumbuh dan semakin banyak meskipun kita tahu di era milenial seperti ini, sektor ekonomi kreatif lebih banyak dipilih sebagai opsi oleh generasi muda daripada di sektor pertanian,” kata Tyo, Minggu (12/4).

Menurutnya, hal tersebut wajar karena pola pikir masyarakat terhadap kata "petani" atau "pertanian" masih terbatas pada pertanian konvensional. Padahal melalui inovasi di bidang pertanian dan juga pertanian kreatif yang lain masih belum banyak di-explore sehingga sedikit dari generasi muda yang berani bercita-cita untuk menjadi petani.

“Sedemikian juga orang tua mereka yang akan lebih merekomendasikan untuk bercita-cita menjadi Pegawai,” ucapnya.

Dirinya menambahkan masih sangat banyak peluang yang bisa dikembangkan dalam bidang pertanian. Karenanya, ia berharap agar generasi muda tidak takut untuk bermimpi menjadi petani.

“Bukankah orang terkaya di Indonesia juga menekuni bidang pertanian, seperti tembakau. Lalu, kenapa harus ragu untuk terjun dalam sektor pertanian,” tuturnya.

Menyikapi pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia termasuk Indonesia ini, dirinya mengungkapkan bahwa semua bidang usaha khususnya usaha pertanian, dipaksa untuk masuk dan lebih mendalami era revolusi industri 4.0 dimana segala sesuatu tidak lagi konvesional namun sekarang semua bisa dimanfaatkan melalui digital. Sehingga adanya pandemi Covid-19 ini pengusaha bidang pertanian tetap bisa meraup omzet yang tinggi bahkan bisa menjadi berkali lipat.

Terkait hal ini, Kepala Badan PPSDMP, Dedi Nursyamsi meminta ditengah mewabahnya Covid-19, petani pengusaha milenial harus mampu memanfaatkan peluang ini. Menghadapi pandemi Covid-19, penduduk Indonesia akan banyak mengkonsumsi produk dalam negeri dan olahan yang sehat.

“Seperti contohnya komoditas bawang dan produk olahan pangan lainnya. Peluang ini harus bisa dimanfaatkan oleh petani pengusaha milenial,” beber Dedi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Industri Batik dan Kerajinan Perlu Dipoles Teknologi Modern

Pendampingan   12 Okt 2020 - 10:24 WIB
Bagikan:          

Berdayakan Ekonomi Warga Melalui Bank Sampah

Pendampingan   11 Sep 2020 - 14:09 WIB
Bagikan:          
Bagikan: