Kembali ke Desa, Majalah Trubus Harus Terbit 50 Tahun Lagi

TrubusNews
Thomas Aquinus
14 Feb 2020   23:00 WIB

Komentar
Kembali ke Desa, Majalah Trubus Harus Terbit 50 Tahun Lagi

Bambang Ismawan, salah satu pendiri Majalah Trubus. (Foto : Trubus.id/Iman)

Trubus.id -- Sebagai majalah pertanian pertama di Indonesia yang telah berusia 51 tahun, Bambang Ismawan selaku salah satu pendiri majalah Trubus menginginkan majalah Trubus terus bertahan hingga 50 tahun kedepan. Dalam acara Bincang-bincang Wisma Hijau ngobrol bareng Bambang Ismawan dengan tema “Mengapa Majalah Trubus Harus Terbit?”, dirinya juga menginginkan majalah Trubus kembali ke desa dengan terus mendorong literasi para petani Indonesia.

Pada kesempatan tersebut Bambang Ismawan menilai, Indonesia sebagai negara agraris yang hidup dari pertanian tidak memberikan dampak positif terhadap peningkatan kehidupan para petaninya. 

“Justru para petani di Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, bahkan tidak bisa hidup dari pertanian. Makin lama makin tidak bisa, sampai sekarang makin buruk”, ujarnya, Jumat (14/2).

Menurutnya, di seluruh dunia tidak ada pertanian yang maju tanpa reformasi agraria (land reform). Layaknya di negara lain yang telah menjalankan land reform seperti Tiongkok, Taiwan, Filipina, Korea, Jepang yang telah maju pertaniannya, Indonesia juga melakukan hal yang sama melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

“Tetapi sejak tahun 1970an, UU ini praktis dipinggirkan dan tidak ada ketentuan apa-apa kecuali tidak diberlakukan” katanya. 

Dampak tidak berjalannya UU tersebut akhirnya mengakibatkan tanah-tanah pertanian semakin berkurang karena proses warisan yang berjalan secara turun temurun. Mengutip dari data Kementerian Pertanian pada tahun 2000, dikatakan Bambang Ismawan bahwa sebanyak 88 persen kepememilikan lahan petani sebesar 0,5 hektar. 

“Konon sekarang, banyak orang menghitung dan pengalaman Bina Swadaya terutama di pulau Jawa dan daerah lain kepemilikannya rata-rata 0,2 hektar”, ujarnya. 

Berdasarkan permasalahan tersebut, Bambang Ismawan menjawab dengan menerbitkan majalah trubus pada 1 Desember 1969 dengan tujuan untuk meningkatkan literasi para petani di desa. 

Kembali ke Desa melalui Gerakan Revitalisasi Desa

Walaupun majalah Trubus berdiri untuk para petani di desa, Bambang Ismawan mengakui untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dilalui seperti pada masa itu banyak orang di desa tidak membaca sehingga bukan merupakan sebuah prioritas. Selain itu, ongkos biaya kirim ke desa juga dinilai terlalu mahal dan beberapa hal lainnya yang menyebabkan majalah Trubus sulit ke desa.

“Inilah yang menyebabkan Trubus sulit sekali ke desa-desa. Dan karena itu kita rubah menjadi majalah hobies dan agribisnis. Setelah itu berhasil, hasilnya memang positif dengan perubahan jaman now, mungkin Trubus perlu pertimbangkan untuk kembali ke desa”, katanya. 

Menuruntya, cara yang bisa dilakukan adalah melalui kelompok swadaya masyarakat yang merupakan akar dari pembangunan nasional dengan mulai berlangganan majalah Trubus.

“Jangan hanya satu orang yang langganan, melainkan satu kelompok yang jadikan majalah Trubus sebagai alat belajar bersama. Mungkin para pendamping membacakan, diskusi sesuai dengan kebutuhan kelompok, kearah itulah Trubus sebaiknya berkontribusi dalam rangka Bina Swadaya mengembangkan Gerakan Revitalisasi Desa”, katanya.

Menjawab harapan Bambang Ismawan yang menginginkan majalah Trubus kembali ke desa, Sardi Duryatmo, Redaktur Pelaksana Majalah Trubus menilai hal tersebut sangat relevan karena di beberapa negara di Meksiko, Ghana, India mereka punya forum media yang isi dan konten tersebut dijadikan bahan diskusi antara para petani atau masyarakat setempat sehingga inovasi bisa diadopsi di daerah. 

“Majalah Trubus sudah mengarah kesana, saat ini sudah bekerjasama dengan para penyuluh dibawah Kementerian Pertanian. Namun diskusi mengenai konten majalah belum dilakukan, jadi perlu satu tahap lagi (diskusi)”, ujarnya.

Sampai saat ini majalah Trubus sudah menyumbangkan ilmu secara mendalam melalui inovasi-inovasi di bidang pertanian dan sudah dibawah ke desa. 

“Jadi sebenarnya itu relevan dengan komunikasi pembangunan di berbagai negara dan Trubus akan kesana. Dan menurut saya itu sudah keniscayaan sangat mungkin”, tandasnya. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Dana Desa Berikan Dampak Signifikan Terhadap Ekonomi Perdesaan

Pendampingan   23 Feb 2020 - 23:58 WIB
Bagikan:          
Bagikan: