Enam Anggota SCA Asal Afghanistan Belajar Isu Kemanusiaan dan Gender di Bina Swadaya

TrubusNews
Thomas Aquinus
21 Jan 2020   15:00 WIB

Komentar
Enam Anggota SCA Asal Afghanistan Belajar Isu Kemanusiaan dan Gender di Bina Swadaya

Serajuddin Joya, Head of Human Rights and Gender SCA (kanan) (Foto : Trubus.id/Iman)

Trubus.id -- Kedatangan 6 anggota Swedish Comite Afghanistan (SCA) ke Indonesia merupakan kesempatan untuk belajar tentang kemanusiaan dan isu gender dari negara yang sama-sama mayoritas berpenduduk muslim. Enam anggota SCA yang berasal dari Afghanistan berharap, melalui kunjungannya ke Indonesia khususnya Bina Swadaya dapat mengambil ilmu yang kedepannya dapat diterapkan di Afghanistan.

“Sebenarnya kami datang untuk study program dimana kami akan mempelajari, berbagi fokus program yang berkaitan dengan kemanusiaan dan gender. Bagaimana penerapannya, hal-hal yang perlu dipelajari, perhatikan serta pencapaian apa saja yang sudah terjadi di Indonesia”, ujar Serajuddin Joya, Head of Human Rights and Gender SCA kepada Trubus.id, Selasa (14/01/2020). 

Dirinya mengatakan, SCA dengan 6 anggota dari Afghanistan berharap dari pertemuan dengan Bina Swadaya dan beberapa lembaga lain dapat belajar dan berbagi pengalaman sehingga nantinya dapat merencanakan program serupa di Afghanistan.

Suasana pertemuan SCA dengan Bina Swadaya (Foto: Trubus.id/Iman)

Sebagai social entreprise yang sudah berjalan lebih dari 50 tahun, dikatakan Serajuddin, Bina Swadaya telah memberikan masukan dan pemahaman baru tentang kemanusiaan yang menjadi fokusnya selama ini.

“Mereka (Bina Swadaya) orang-orang sangat profesional, ahli di bidangnya serta sebuah organisasi yang penting dan bermanfaat bagi Indonesia. Saya sangat bersemangat untuk mengetahui program-program (Bina Swadaya), bagaimana menjalankannya, apa saja yang dilakukan di Indonesia”, ujarnya.

Baca Lainnya : Bincang-Bincang Wisma Hijau Bangkitkan Gairah LPM Mekarsari Ciptakan Kelurahan Mandiri dan Maju

Sementara itu, anggota Pengurus Yayasan Bina Swadaya, Eri Trinurini mengatakan, negara Indonesia menjadi menarik oleh SCA karena mempunyai kemiripan sebagai negara dengan mayoritas warga muslim. 

“Saya kira itu yang menarik bagi mereka, dimana negara dengan mayoritas muslim tapi punya kemajuan gender yang relatif lebih maju dari pada negara islam lainnya”, katanya yang berpendapat kesetaraan gender di Indonesia jauh lebih maju karena memiliki situasi yang berbeda.

Anggota Pengurus Yayasan Bina Swadaya, Eri Trinurini (Foto: Trubus.id/Iman)

Kesetaraan gender di Indonesia saat ini sudah jauh berkembang dengan adanya beberapa kelompok yang sadar gender. Eri mengatakan, jika berbicara gender dengan kelompok perempuan sama saja seperti dari satu sisi saja. 

Namun dikatakannya, berdasarkan laporan Etikna dari Jurnal Perempuan diketahui ternyata gender di Indonesia tidak hanya dari kelompok perempuan saja. 

“Ternyata ada juga dari kelompok laki-laki yang sadar gender. Nah, ternyata mereka juga (SCA) tertarik mengunjungi kelompok tersebut. Mereka ingin menambah 1 hari dari perjalanan mereka karena ingin mempelajari dari kelompok tersebut”, kata Eri.

Sebagai informasi, Komite Swedia untuk Afghanistan (SCA) sendiri merupakan organisasi non-pemerintah berbasis keanggotaan yang bekerja di Afghanistan sejak 1980. SCA mempunyai visi Afghanistan yang independen dalam perdamaian, di mana hak asasi manusia dihormati, masyarakat pedesaan diberdayakan dan semua warga Afghanistan memiliki hak dan peluang untuk partisipasi demokratis dalam pemerintahan negara mereka.

Selama 1 minggu melakukan studi banding di Indonesia, tim SCA juga mengunjungi beberapa lembaga lain terkait pemberdayaan perempuan dan pusat kebudayaan batik salah satunya di daerah Cirebon. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Dana Desa Berikan Dampak Signifikan Terhadap Ekonomi Perdesaan

Pendampingan   23 Feb 2020 - 23:58 WIB
Bagikan:          
Bagikan: