Menkop dan UKM Dorong Warung Tradisional Tidak Kalah dengan Ritel Modern

TrubusNews
Thomas Aquinus
17 Des 2019   10:00 WIB

Komentar
Menkop dan UKM Dorong Warung Tradisional Tidak Kalah dengan Ritel Modern

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. (Foto : Kemenkop dan UKM)

Trubus.id -- Di tengah menjamurnya bisnis ritel modern, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mendorong warung tradisional dapat survive, eksis  untuk kemudian bisa naik kelas.

"Warung sebagai pengerak ekonomi di lapisan bawah masyarakat, tumbuh dengan pesat. Data  BPS menunjukkan kini ada 3,5 juta warung dibanding 2015 yang masih 1.868.217 warung. Ini bisa terjadi karena ketika sektor formal tak mampu menyerap tenaga kerja, maka membuka warung menjad salah satu pilihan paling mudah," kata Menteri Teten Masduki,  usai meresmikan Gebyar 10.000 Warung yang diinisiasi  komunitas SAHARA (Sahabat Ekonomi Rakyat) san Induk Koperasi Wanita Indonesia (INKOWAPI), di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (14/12).

Baca Lainnya : Menkop Dukung Pelaku UKM Boga Aktif Lestarikan Kuliner Tradisional

Namun lanjut Menteri Teten, banyak juga warung tutup karena tak mampu bersaing karena berbagai sebab misalnya tak mampu bersaing dengan ritel modern. "Disamping banyak keterbatasan, warung sebenarnya punya keunggulan misalnya bisa buka 24 jam, atau bisa menjual produk UMKM di sekitar warung. Kelebihan-kelebihan ini yang harus dijadikan unsur pembeda sehingga warung tersebut bisa survive," kata Teten, dalam siaran persnya.

Menurut Teten, tantangan eksistensi warung tradisional tidak hanya aspek modernisasi saja, namun juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memasuki  era revolusi industri 4.0 dimana warung tradisional juga perlu menerapkan digitalisasi. " Jika tantangan-tantangan ini bisa dilewati maka warung-warung tradisional ini bisa berkembang dan naik kelas, misalnya tenaga kerjanya bertambah atau omsetnya naik," kata Teten. 

Bagaimanapun tegas Teten, warung tradisional tidak bisa berkutat di lapisan paling bawah saja atau di level mikro. Pasalnya hal ini bisa membahayakan, karena usaha mikro akan makin bertumpuk di level paling bawah, dan struktur ekonomi menjadi tidak sehat.

"Harus ada warung- warung tradisional yang naik kelas dan mengisi level usaha kecil maupun menengah," tegasnya.

Baca Lainnya : Menkop dan UKM Inginkan Kementerian dan Lembaga Kolaborasi Kembangkan UMKM

Jejaring Ekonomi

Teten mengatakan, di tengah ekonomi lesu yang prediksi bakal berlangsung hingga tahun depan, penguatan jejaring ekonomi masyarakat menjadi penting, terutama dalam menjamin daya beli masyarakat dan tenaga kerja, salah satunya dari keberadaan warung.

"Warung-warung yang ada saat ini, bisa menjadi jaringan distribusi pangan dari Bulog misalnya, sehingga efektif dalam menjaga inflasi bahan pokok," kata Teten.

Pemerintah pun kata Teten akan mengantisipasi masalah pembiayaan yang selama ini menjadi kendala UMKM.  "Selama ini yang menjadi problem utama adalah pembiayaan, dan pemerintah sudah menyiapkan skim pembiayaan di tiap level. Misalnya warung di level mikro sudah banyak disediakan pembiayaan mikro seperti Mekaar  dan UlaaM, dari  Permodalan Nasional Madani (PNM), lalu dari PIP (Pusat Investasi Pemerintah) ada pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Selain itu juga ada  KUR 2020 dengan bunga 6 persen dan plafon terendah tanpa agunan Rp 50 juta. Juga ada BLU yang sebanyak total Rp 30 triliun di beberapa Kementerian, termasuk di kami ada LPDB akan membantu pembiayaan bagi usaha mikro termasuk warung," sebutnya.

Selain pembiayaan, Kementerian akan mencoba membantu lewat aplikasi. "Saat ini juga sudah banyak perusahaan e-commerce yang punya ide aplikasi yang memungkinkan warung punya suplai bahan dr pabrik sehingga dari segi harga bisa bersaing. Karena banyak warung mati lantaran tak bisa bersaing dengan ritel modern, baik dari sisi kenyamaan, barang dijual dan harga," ujar Menkop dan UKM. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

SDM Unggul Indonesia Kedepan Kuncinya Ada di Desa

Pendampingan   21 Feb 2020 - 08:56 WIB
Bagikan: