Kail Pancing Selalu Dapat Sampah, Suparno Jumar Akhirnya Bentuk Komunitas Peduli Ciliwung

TrubusNews
Thomas Aquinus
16 Des 2019   16:00 WIB

Komentar
Kail Pancing Selalu Dapat Sampah, Suparno Jumar Akhirnya Bentuk Komunitas Peduli Ciliwung

Suparno Jumar. (Foto : Trubus.id/TH A Krisnaldi G)

Trubus.id -- Berawal dari kail pancingannya yang selalu tersangkut sampah di sungai Ciliwung membuat Suparno Jumar dan teman-temannya bergerak membentuk Komunitas Peduli Ciliwung-Bogor untuk membersihkan sungai CIliwung, Bogor. 

Selain melakukan pembersihan aliran sungai Ciliwung, dirinya juga menemukan 87 titik timbunan sampah di sepanjang 15 kilometer dan ada 5562 rumah tangga yang membuat saluran tinjanya dibuang ke sungai. 

“Kemudian persoalan yang paling berat adalah penyerobotan lahan bahkan ada penyerobotan lahan yang menjadi pemukiman untuk ruang usaha-usaha kecil”, katanya saat menjadi pembicara dalam Festival Relawan 2019 di Kuningan City, Jakarta, Sabtu (14/12).

Menjawab permasalahan tersebut, dirinya mulai memetakan permasalahan yang terjadi dan melakukan diskusi-diskusi grup kepada masyarakat. 

Baca Lainnya : Bank Sampah Sekolah Tumbuhkan Nilai Kesadaran Lingkungan Siswa

“Akhirnya program ini kami diskusikan dengan Walikota Bogor, Bapak Bima Arya Sugiarto hingga muncul program naturalisasi sungai Ciliwung. Hal ini membuat titik timbunan sampah mulai berkurang. Sampai saat ini kami masih bergerak dengan mengajak semua orang untuk melakukan aksi clean up dan patroli di sungai,” kata Suparno Jumar.

Menurutnya, mengubah kebiasaan masyarakat untuk melestarikan lingkungan tidaklah mudah. Kurang lebih selama 10 tahun terbentuknya Komunitas Peduli Ciliwung-Bogor tantangan terbesarnya adalah mengubah budaya masyarakat yang sudah berjalan sejak lama menjadi tantangan utamanya. 

“Sampai saat ini kami masih merasakan sangat berat, 10 tahun kami berjuang bersihkan sampah justru jadi pusat tontonan. Jadi berat merubah kebiasaan yang sudah terlalu lama”, katanya. 

Baca Lainnya : Keren, Bank Sampah di Jakarta Utara Bisa Tukar Sampah dengan Emas

Untuk itu Suparno mulai mengajak FGD kecil kepada masyarakat supaya titik timbunan sampah bisa diselesaikan secara musayawarah. Menurutnya FGD sampai sejauh ini dinilai efektif membalikkan kesadaran masyarakat walaupun belum terlalu signifikan perubahannya. 

“Jika disitu ada  titik timbunan sampah, ini kita ada masalah, sebaiknya diapain tapi tidak dalam konteks harus dengan pembangunan. (FGD) sepertinya salah satu cara yang bisa melakukan pendekatan ke masyarakat”, ujarnya kepada Trubus.id.

Pada kesempatan tersebut Suparno juga mengajak 5 pilar dapat turun bersama menggerakkan kepedulian lingkungan agar sungai ciliwung dapat bersih. 

“Kami juga mengajak teman media bagaimana 5 pilar ini turun bareng. Kalau kemudian dunia usaha masih belum bergerak mudah-mudahan suara kita makin lama makin di dengar supaya dunia usaha dari skala kecil sampai besar itu kemudian juga memperhatikan lingkungan”, katanya. 

“Nyari duit itu wajib, meraih kesejahterahan itu harus, tapi jangan kemudian dinistakan lingkungannya”, pungkasnya. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Majalah Trubus Menjawab Tantangan Perkembangan Zaman

Pendampingan   20 Feb 2020 - 12:29 WIB
Bagikan:          

Kembali ke Desa, Majalah Trubus Harus Terbit 50 Tahun Lagi

Pendampingan   14 Feb 2020 - 21:01 WIB
Bagikan:          

Kemenkop dan UKM Ungkap 6 Tahap Sukses Kelola Bisnis Kedai Kopi

Pendampingan   14 Feb 2020 - 10:35 WIB
Bagikan: