Permintaan Tinggi, BBKB Kemenperin Ciptakan Alat Cap Batik Otomatis

TrubusNews
Thomas Aquinus
26 Nov 2019   14:30 WIB

Komentar
Permintaan Tinggi, BBKB Kemenperin Ciptakan Alat Cap Batik Otomatis

Alat cap batik otomatis berbasis programmable logic controller. (Foto : Kemenperin)

Trubus.id -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) menciptakan alat Cap Batik Otomatis Berbasis Programmable  Logic Controller (PLC). Alat tersebut menggunakan metode otomasi pembuatan batik cap dimana canting cap dan kain digerakkan secara bergantian menggunakan pneumatik berbasis kontrol Programmable Logic Controller.

“Teknologi perekayasaan alat batik cap berbasis otomasi ini bermanfat untuk meningkatkan kapasitas, efisiensi produksi serta peningkatan kualitas batik cap,”  tutur Kepala BBKB Kemenperin, Titik Purwati Widowati dalam siaran persnya, Selasa (26/11).

Titik berharap, diciptakannya alat tersebut mampu membantu para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan dapat berkolaborasi, serta bekerjasama dengan BBKB untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing IKM Batik.

“Penggunaan teknologi untuk otomasi batik cap ini diharapkan dapat menjadi teknologi yang handal dan memiliki ketahanan yang tinggi dalam penggunaan untuk produksi skala massal,” tegasnya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Kemenperin, Sony Sulaksono mengatakan, langkah strategis ini sesuai program prioritas yang ada di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 dengan aspirasi besar mampu membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030.

“Era revolusi industri 4.0 tidak hanya membawa perubahan bagi sektor industri, akan tetapi juga dalam kehidupan pada umumnya,” ujarnya.

Sony mengungkapkan, penggunaan teknologi digital pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sepenuhnya, yang menjadi penanda hadirnya era revolusi industri 4.0, kini mulai diterapkan dalam proses produksi batik.

“Tingginya permintaan batik akhir-akhir ini di satu sisi membuat industri pembuatan batik menjadi bergeliat lagi, namun sayangnya hal ini memiliki permasalahan tersendiri dalam hal peningkatan kapasitas produksi batik itu sendiri,” papar Sony.

Kendala tersebut tak lepas dari proses pembuatan batik yang panjang dan rumit serta peralatan digunakan masih terbatas baik secara teknologi maupun kemampuannya. Terutama untuk peralatan produksi batik cap, yang saat ini masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses pengecapan. 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Pemerintah Jamin Kredit Modal Kerja UMKM Maksimal Rp10 M

Keuangan Mikro   08 Juli 2020 - 11:42 WIB
Bagikan:          

Desa Mandiri dan Maju, Akar Negara yang Sehat dan Kuat

Pendampingan   06 Juli 2020 - 17:53 WIB
Bagikan:          
Bagikan: