Inspirasi Sugeng, Anak Desa yang Bangun Ekowisata di Gunung Kidul

TrubusNews
Thomas Aquinus
13 Nov 2019   16:00 WIB

Komentar
Inspirasi Sugeng, Anak Desa yang Bangun Ekowisata di Gunung Kidul

Sugeng Handoko pemuda asli Desa Nglanggeran. (Foto : Trubus.id/TH A Krisnaldi G)

Trubus.id -- Lahir dan besar di Gunung Kidul, Sugeng Handoko pemuda asli Desa Nglanggeran mempunyai keinginan kuat untuk membalikkan konotasi negatif tanah kelahirannya. Gunung Kidul yang dulunya terkenal dengan sulitnya air dan miskin, kini berhasil diubah menjadi desa pariwisata yang dikunjungi oleh banyak orang.

Berbicara saat menjadi narasumber talkshow mengenai InnovAction: Help The Society with Your Creativity di @America, Pasific Place, Jakarta, Jumat (8/11), dirinya mengungkapkan ada 3 tahapan besar yang dilakukannya untuk mengolah dan mengembangkan Desa Nglanggeran.

“Yang pertama itu adalah tahapan mengenali potensi, tahapan kedua mengolah SDM, kami butuh waktu 3 sampai 4 tahun untuk menyiapkan masyarakat untuk bergerak, dan tahapan ketiga, melakukan kolaborasi dan kerja sama dengan pihak luar termasuk membangun identitas digital”, ujarnya. 

Ia meyakini jalan keluar desa Nglanggeran dari kemiskinan adalah melalui kewirausahaan sosial dengan mengembangkan ekowisata. Menurutnya, dengan kewirausahaan sosial selain keuntungan finansial yang diperoleh, juga memberikan kepuasan batin di masyarakat.

“Jadi, saya meyakini bahwa ketika kita membuat sistem, dan sistem itu terus dilakukan sampai meninggal pun itu tetap jadi amal kita”, katanya.

Baca Lainnya : Membangun Wirausaha Tidak Harus Dimulai dengan Uang, Ini Kuncinya

Sugeng menceritakan, ada beberapa permasalahan yang menjadikan Gunung Kidul menjadi daerah tertinggal saat itu. Salah satunya adalah masyarakat yang sering menebangi pohon dan mengambil batu untuk dijual. Hal tersebut diakuinya berdampak langsung pada kerusakan lingkungan desa.

“Yang kedua, tingginya urbanisasi di desa kami sangat tinggi, anak-anak muda meninggalkan desanya, tidak bangga terhadap daerahnya. Dan yang ketiga adalah keinginan kami untuk menjaga tapi memberikan dampak ekonomi”, ujarnya.

Itulah beberapa alasan yang membuat dirinya yakin mengapa ekowisata dapat menjawab permasalahan di desanya. Ekowisata sendiri dikatakan Sugeng mengandung 3 unsur utama seperti edukasi, konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Sugeng Handoko saat mempresentasikan kondisi Desa Nglanggeran di masa lalu (Foto Trubus.id/TH A Krisnaldi)

Sementara itu untuk kelembagaanya, Sugeng bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memberikan edukasi kepada masyarakat dan wisatawan. 

“Itu yang coba kami kelola untuk menjadi daerah yang bisa dikunjungi oleh banyak orang”, katanya.

Baca Lainnya : Precious One Mengajak Penyandang Disabilitas Bangun Rasa Percaya Diri

Dijelaskannya, dahulu banyak wisatawan yang datang ke Gunung Kidul sekedar tracking, naik gunung, foto lalu pulang. Namun, Sugeng melihat hal tersebut sebagai peluang bisnis. Untuk itu, dirinya mulai serius menekuninya diawali dengan memfasilitasi kegiatan makrab mahasiswa sekitar 50 sampai 80 orang.   

“Selama dua hari satu malam melibatkan ibu-ibu siapkan makan malamnya, dan ternyata hasilnya berkali-kali lipat”, ujarnya.

Bercerita kepada Trubus.id, Sugeng mengakui semenjak itulah dirinya semakin serius mengoptimalkan sektor pariwisata. Walaupun sebenarnya Ia belum mengetahui seperti apa bentuk pariwisata yang akan dijalankan.

Namun sebagai penyedia jasa pariwisata, dirinya mengatakan lebih mengutamakan kenyamanan bagi wisatawan yang melakukan aktivitas di desanya. 

“Jadi awalnya itu bukan pengembangan pariwisata, intinya orang datang kesitu dia bisa melakukan aktivitas. Kami yang bantu menyiapkan dengan banyak masyarakat dilibatkan”, katanya.

Terkait dengan kebutuhan modal untuk pengembangan wisata di wilayahnya, Sugeng sangat bersyukur gotong royong di desa masih sangat tinggi. “Jadi tidak semua itu dinominalkan dengan rupiah. Jadi ada kerja bakti, jalur tracking itu bersama-sama awalnya babat alas itu bersama-sama”, ujarnya.

Sementara itu, cara lain yang dilakukannya adalah dengan aktif di tiga hal, seperti  lingkungan, kepemudaan dan pariwisata berbasis masyarakat.

Baca Lainnya : Specialpreneur Berharap Ibu Kota Membuka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas

“Kami mencoba untuk terjun di kompetisi. Jadi salah satu cara kami mengakses dana yaitu dengan mengikuti kompetisi. Itu disitu ketika menang dapat promosi gratis kemudian dapat uang pembinaan untuk pengembangan” jelasnya.

Adapun kompetisi yang diikutinya seperti Karang Taruna berprestasi, pemuda pelopor dari Kemenpora, dan dari BUMN ada wirausaha mandiri yang berhasil raih Rp300 juta dan digunakan untuk modal. 

“Dulunya yang tidak kenal kami setelah berkompetisi saya coba berjejaring disana. Nah, kemudian juri menjadi mentor kami”, katanya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Kemenkop dan UKM Targetkan 6 Persen Pelaku UKM Naik Kelas di 2020

Keuangan Mikro   20 Jan 2020 - 15:46 WIB
Bagikan:          

Kemenkop dan UKM Bakal Prioritaskan Pengembangan Bambu Rakyat

Pendampingan   20 Jan 2020 - 14:33 WIB
Bagikan: