Komunitas Milenial Asal Yogyakarta Maksimalkan Pemberdayaan dengan Limbah Kelapa

TrubusNews
Thomas Aquinus
12 Nov 2019   07:00 WIB

Komentar
Komunitas Milenial Asal Yogyakarta Maksimalkan Pemberdayaan dengan Limbah Kelapa

Fikri Muhammad, saat mempresentasikan kegiatan HOCOCO dalam talkshow bertajuk InnovAction: Help The Society with Your Creativity di @America. (Foto : Trubus.id/TH A Krisnaldi G)

Trubus.id -- Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta sebagai penghasil kelapa memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan. Namun, dibalik besarnya peluang yang bisa dikembangkan tersebut, ternyata juga menyimpan beberapa masalah sosial yang dapat berdampak pada lingkungan masyarakat.

Fikri Muhammad, Cofounder HOCOCO House of Coconut Craft (HOCOCO) mengatakan, ada 2 permasalahan yang jelas terlihat seperti limbah sabut kelapa yang terabaikan dan kelompok Ibu-ibu PKK yang belum produktif.

Menurutnya, 2 permasalahan tersebut bisa menjadi potensi yang dapat diberdayakan untuk meningkatkan perekonomian di desa.

Sementara itu, potensi kelapa di Desa Kalirejo disampaikan Fikri sekitar 20 pohon kelapa bisa dimiliki oleh satu kepala keluarga. Sedangkan di Desa tersebut terdapat 285 kepala keluarga.   

Baca Lainnya : Membangun Wirausaha Tidak Harus Dimulai dengan Uang, Ini Kuncinya

“Melihat potensi tersebut, kita menawarkan sebuah solusi berupa industri kreatif yaitu membuat kerajinan tangan berbahan dasar sabut kelapa. Solusi ini kita lakukan dengan membuat wadah komunitas yang bernama HOCOCO yang fokus pada pemberdayaan masyarakat”, ujar Fikri Muhammad saat talkshow bertajuk InnovAction: Help The Society with Your Creativity di @America, Pasific Place, Jakarta, Jumat (8/11).

Dikatakan Fikri, sebenarnya masyarakat selama ini sudah memproduksi sapu maupun keset dari limbah sabut kelapa. Namun, setelah mengetahui harga yang cukup rendah dirinya tergerak untuk menghasilkan produksi dengan nilai jual yang tinggi.

“Kami berpikir menghasilkan sesuatu yang nilainya tinggi, yang bisa diapresiasi seseorang itu tidak cuman dari nilai kegunaannya bisa juga dari nilai estetikanya. Makannya kita mencoba untuk mengembangkan kerajinan tangan yang memiliki nilai estetika”, ujarnya.

Baca Lainnya : Precious One Mengajak Penyandang Disabilitas Bangun Rasa Percaya Diri

Sebagai komunitas sosial anak milenial dari beberapa mahasiwa fakultas teknik Universitas Gadjah Mada, sejak tahun 2017 HOCOCO mulai melakukan pemberdayaan masyarakat di Dusun Plampang 1 Kecamatan Kokap dengan memanfaatkan limbah sabut kelapa yang diubah menjadi pot atau media tanam kreatif dan bernilai jual tinggi.

“Jadi (kami) terus datang ke desa jalin komunikasi secara aktif karena kami yakin bahwa mimpi itu bisa tertular. Dan saat ini sudah beregenerasi”, katanya.

Fikri Muhammad, Cofounder HOCOCO (Foto: campaign.com)

Salah satu produk kreatif yang dihasilkan adalah coco-potty, sebuah pot tanaman menggunakan limbah sabut kelapa yang dihias membentuk hewan-hewan lucu.

Sementara itu untuk proses pemasarannya, Fikri mengakui saat ini masih dipegang penuh oleh tim HOCOCO karena membutuhkan proses untuk melatih ibu-ibu PKK terkait pemasaran digital.

Baca Lainnya : Specialpreneur Berharap Ibu Kota Membuka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas

“Kita memilki goals akhir akan dipegang oleh masyarakat desa. Kami sedang melakukan pendekatan terhadap Karang Tarunanya, karena menurut kami pihak yang paling potensial untuk pemasaran ada di Karang Tarunanya”, katanya.

Pengembangan bisnis dengan perluasan pangsa pasar juga terus dilakukan oleh tim HOCOCO dengan memberikan pelatihan ke sekolah hingga wacana desa wisata dengan produk-produk HOCOCO. Bahkan, Fikri berencana membentuk sebuah bank limbah sabut kelapa sebagai salah satu peningkatan ekonomi.

Anggota tim HOCOCO menjelaskan cara membuat coco potty (Foto: campaign.com)

Melalui upaya pendampingan yang dilakukan selama ini, perlahan tapi pasti HOCOCO mulai membantu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat Dusun Plampang 1 melalui penjualan produk kerajinan yang dibuat oleh masyarakat sekaligus mengurangi limbah sabut kelapa yang ada di Kulonprogo.

Baca Lainnya : Memberi Ruang Penyandang Disabilitas Terlibat Menuju Desa Inklusif 2020

“Ibu-ibu PKK yang awalnya hanya kumpul tidak produktif, sekarang bisa meningkatkan produktivitasnya, kreativitasnya, serta jiwa kewirausahaannya”, katanya.

“Indonesia bisa maju dan berkembang bukan hanya dari api obor atau lampu yang ada di perkotaan,tetapi juga karena lilin-lilin yang menyala dari pelosok desa”, pungkas Fikri. [NN]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Cegah Virus Corona, Kemendes PDTT Bentuk Desa Tanggap Covid-19

Pendampingan   26 Mar 2020 - 08:37 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: