Revitalisasi Perekonomian Desa Melalui Ekonomi Solidaritas Sosial

TrubusNews
Thomas Aquinus
08 Nov 2019   17:00 WIB

Komentar
Revitalisasi Perekonomian Desa Melalui Ekonomi Solidaritas Sosial

Pertemuan awak media mengenai konferensi internasional Tranformasi Ekonomi dari Desa ke Dunia Internasional di Yogyakarta. (Foto : ASEC)

Trubus.id -- Kegiatan perekonomian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia, sejak era purbakala hingga era modern saat ini. Sedemikian pentingnya kegiatan perekonomian sehingga kualitas dari perekonomian sering digunakan sebagai tolok ukur atau indikator dari kualitas manusia di dalam masyarakat itu sendiri.

Di dalam perkembangannya, indikator perekonomian semakin terpisah dari masyarakat dan semakin mendekat kepada hanya angka; pertumbuhan kualitas masyarakat direpresentasikan melalui pertumbuhan ekonomi.

Dalam siaran pers yang diterima Trubus.id, Jumat (8/11) dijelaskan kondisi ini menyebabkan masyarakat, termasuk lingkungan sekitarnya menjadi obyek bagi eksploitasi kegiatan perekonomian. Isu migran ilegal, upah tidak layak, hingga perusakan lingkungan yang semakin merebak bersamaan dengan disanjungnya peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah dampak nyata dari pemisahan kegiatan perekonomian dari kehidupan masyarakatnya.

Baca Lainnya : Jokowi: Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan Elemen Penting Capai SDGs

Berbagai tindakan dan upaya untuk mengendalikan dampak negatif dari kegiatan perekonomian yang disebut semakin membaik itu digaungkan semenjak tahun 1970, pada masa di mana fokus masyarakat global mulai beralih dari peperangan kepada pembangunan.

Kegelisahan masyarakat ini diakomodasi oleh PBB pada tahun 2000 ke dalam Millenium Development Goals (MDGs), sebuah paket panduan bagi pemerintahan negara-negara di dunia agar menerapkan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan sektor ekonomi namun juga sosial, lingkungan, dan sektor lainnya.

MDGs ini kemudian diperbarui dengan dikeluarkannya Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2015 yang berisi 17 tujuan dengan 169 indikator capaian. Kini pemerintahan negara-negara di dunia berlomba-lomba mendapatkan skor SDGs setinggi-tingginya. Suatu hal yang baik, tentunya jika usaha memperoleh skor tersebut adalah dilakukan secara partisipatif dan kolaboratif oleh seluruh masyarakatnya, dan bukan hanya usaha pihak pemerintah sendiri.

Baca Lainnya : BPPT Tatap Indonesia Emas 2045 Melalui Pembangunan SDGs

Rumusan yang baik dari SDGs ini ternyata bukan hal baru di dalam lingkup masyarakat yang sudah memiliki interaksi sejak lama, misalnya desa. Di dalam masyarakat desa sudah terdapat tuntunan dan panduan tentang cara bermasyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kepentingan sesamanya termasuk lingkungannya.

Dalam gelombang krisis ekonomi, pelaku kegiatan ekonomi mikro dan kecil, yang kebanyakan ada di desa atau pinggiran kota, menunjukkan ketangguhannya dengan bertahan di dalam krisis tersebut. Indonesia memiliki lebih dari 75 ribu desa, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dengan keunikannya masing-masing.

Jika diibaratkan, maka desa-desa ini adalah akar dari suatu pohon yang bernama Indonesia. Untuk memiliki Indonesia yang sehat dan berkelanjutan, revitalisasi desa menjadi suatu hal yang sangat penting. Diterbitkannya UU no.6 tahun 2014 tentang Desa menjadi kesempatan yang istimewa bagi setiap desa untuk menyelenggarakan pembangunan sesuai dengan keunikan dan kebutuhannya, dan tidak lagi hanya bergantung pada instruksi dan arahan dari pemerintahan di atasnya.

Baca Lainnya : Dunia Akui Program Dana Desa Sebagai Langkah Nyata Pencapaian SDGs

Kini, masa depan desa bergantung pada kolaborasi setiap pihak yang ada di dalam desa itu sendiri.

Desa Panggungharjo, Sewon Bantul adalah salah satu desa yang berhasil menghimpun sumberdayanya dan mengelolanya secara bersama-sama sehingga menjadi desa yang maju.

Berbagai inisiatif diadakan termasuk dalam pengembangan sektor ekonomi untuk mewujudkan Panggungharjo sebagai desa yang mandiri. Kegiatan perekonomian Panggungharjo menunjukkan apa yang dicita-citakan di dalam SDGs, yaitu keseimbangan antara keuntungan (profits) dan manfaat (benefits).

Baca Lainnya : Melihat Peluang SDGs Nasional dari Percepatan Rehabilitasi Mangrove

Untuk melihat dari dekat dan mempelajari sejauh mana inisiatif-inisiatif di Pangggungharjo berkontribusi terhadap SDGs, Asian Solidarity Economy Council (ASEC) mengadakan konferensi dengan mengundang setiap pemerhati dan pelaku pembangunan masyarakat di seluruh dunia.

Di dalam konferensi ini peserta akan berinteraksi langsung dengan kegiatan perekonomian kolaboratif yang ada di Panggungharjo untuk mendapatkan pembelajaran, serta akan memperoleh paparan tentang bagaimana inisiatif masyarakat di negara-negara lainnya dalam menyelenggarakan kegiatan pembangunan perekonomian dengan berasaskan solidaritas sosial dan mewujudkan sebuah ekonomi yang transformatif.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Menkop UKM Ungkap 5 Masalah Utama yang Hambat Perkembangan UMKM

Keuangan Mikro   15 Nov 2019 - 08:08 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Sistem IDM Dapat Membantu Pembangunan Desa Mandiri

Pendampingan   15 Nov 2019 - 06:52 WIB
Bagikan: