Specialpreneur Berharap Ibu Kota Membuka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas

TrubusNews
Thomas Aquinus
06 Nov 2019   19:00 WIB

Komentar
Specialpreneur Berharap Ibu Kota Membuka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas

Siti Maidina, Founder Specialpreneur (kanan) saat acara talkshow bertajuk “Creation Without Limit: Embracing Inclusivity Through Entrepreneurship”. (Foto : Trubus.id/TH A Krisnaldi G)

Trubus.id -- Saat ini di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 23 juta penduduk penyandang disabilitas yang 12 juta di antaranya berada pada usia produktif. Namun sayangnya, para penyandang disabilitas umumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan. 

Hal ini tercatat dalam data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2016 yang menunjukkan masih ada sekitar 12 juta penyandang disabilitas yang belum bekerja.

Di Jambi sendiri, jumlah penyandang disabilitas mencapai 17 ribu orang. Dalam upaya mengatasi ketidaksetaraan hak penyandang disabilitas untuk bekerja, sejak tahun 2018 Specialpreneur melalui Rumah Kreasi Disabilitas para lulusan SLB di Jambi hadir dengan mengusung upaya pemberdayaan dan kewirausahaan bagi para penyandang disabilitas agar lebih berkualitas dan mandiri. 

“Kewirausahaan dapat menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi dan kreativitas teman-teman disabilitas untuk berdaya dan berkarya di masyarakat, khususnya di daerah. Karena, seperti yang kita ketahui bersama tidak banyak perusahaan di daerah yang dapat merekrut teman-teman disabilitas untuk bekerja,” ujar Siti Maidina, Founder Specialpreneur saat acara talkshow bertajuk “Creation Without Limit: Embracing Inclusivity Through Entrepreneurship” di @america, Pasific Place, Jakarta, Rabu (6/11).

Baca Lainnya : Mensos Berikan Alat Bantu Dengar Gratis Kepada 2.000 Penyandang Disabilitas

Dina panggilan akrabnya kepada Trubus.id mengatakan, dirinya berangkat ke Jakarta membawa misi untuk mengenalkan Specialpreneur kepada masyarakat dengan harapan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi teman-teman disabilitas untuk lebih produktif. 

"Karena kalau di kota lebih banyak (peluang) mendistribusikan teman-teman disabilitas masuk kedalam sektor formal. Sedangkan di daerah terbatas dan tentu tidak banyak, semoga solusi ini menjadi alternatif dan bisa dipikirkan", ujarnya.

Melalui kewirausahaan, Specialpreneur mendampingi para penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan untuk menerima kondisi dan pengenalan terhadap diri sendiri, menjadi SDM yang terampil dan melahirkan ide bisnis atau produk pengembangan usaha agar mandiri. 

Baca Lainnya : Jokowi: UU Baru Disabilitas Ubah Paradigma Lama

"Kebetulan kita 3 jam dari kota (Kabupaten Tanjung Jabung Barat ) disana tidak banyak company yang berdiri dan karena itu  kita memilih gerakan pemberdayaan dan kewirausahaan. Karena memang tidak ada company yang menjembatani mereka untuk kerja. Kalau di Jakarta kan banyak nih, harapannya dapat terbuka peluang kerja", ujarnya. 

Selama ini Specialpreneur membina potensi kewirausaaan para penyandang disabilitas diselaraskan dengan kearifan lokal daerah. Mereka diberdayakan untuk mengangkat potensi lokal ke dalam sebuah inovasi produk.

“Salah satu produk kami mengangkat warisan budaya Jambi, yaitu Tengkuluk, penutup kepala tradisional khas perempuan Melayu Jambi. Kami kreasikan itu mengikuti tren dengan memberdayakan teman-teman disabilitas binaan dalam proses pembuatan kain hingga penjahitan,” ujar Dina.

"Kita juga mengkoneksi produk-produk handmade dengan menggunakan limbah kelapa yang banyak di Jambi dijadikan kreativitas yang mempunyai nilai jual, dan juga warisan budaya yang kita angkat", sambungnya.

Produk Specialpreneur asal Jambi (Foto: Trubus.id/TH A Krisnaldi)

Baca Lainnya : Cetak SDM Penyandang Disabilitas Berkualitas, Kemenperin Punya Diklat 3 in 1

Dijelaskan Dina, kewirausahaan dapat menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi dan kreativitas masing-masing individu penyandang disabilitas untuk berdaya dan berkarya di masyarakat.

Salah satunya Eka, penyandang daksa berusia 19 tahun yang juga anggota binaan Specialpreneur menuturkan, “Sejak di SLB dulu saya ikut pelatihan menjahit tengkuluk dan produk kami digunakan setiap HUT daerah. Saya senang bisa berkarya dan sebelumnya saya juga mendapatkan beasiswa kursus dari Specialpreneur dan sekarang membuka jasa jahit di Rumah Kreasi Specialpreneur.”

Baca Lainnya : Menlu Retno Berbagi Kisah Pemberdayaan Perempuan Indonesia di Markas PBB

Specialpreneur sendiri merupakan salah satu pemenang program Young Changemakers Social Enterprise Academy, sebuah program peningkatan kapasitas yang digagas @america bersama Campaign.com. Specialpreneur juga mengajak masyarakat untuk mendukung menciptakan dunia yang inklusif lewat kampanye #DukungDisabilitasBerkarya di aplikasi Campaign #ForChange (dapat diunduh di Google Play Store maupun App Store). 

Setiap satu aksi yang dilakukan, masyarakat sudah menyumbangkan lima ribu rupiah untuk proyek pemberdayaan dan kewirausahawan disabilitas yang dilakukan Specialpreneur.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Menkop UKM Ungkap 5 Masalah Utama yang Hambat Perkembangan UMKM

Keuangan Mikro   15 Nov 2019 - 08:08 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Sistem IDM Dapat Membantu Pembangunan Desa Mandiri

Pendampingan   15 Nov 2019 - 06:52 WIB
Bagikan: