Mendikbud Tegaskan Guru Menjadi Prioritas dalam Mewujudkan SDM Unggul

TrubusNews
Thomas Aquinus
13 Okt 2019   14:00 WIB

Komentar
Mendikbud Tegaskan Guru Menjadi Prioritas dalam Mewujudkan SDM Unggul

Lokakarya dengan tema “Guru Milenial: Sebuah Profesi di Masa Depan”. (Foto : Dok Kemendikbud)

Trubus.id -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan guru menjadi prioritas dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Hal tersebut dikemukakannya saat lokakarya dengan tema “Guru Milenial: Sebuah Profesi di Masa Depan”, beberapa waktu lalu di Jakarta.

"Kalau saya ditanya, di pendidikan apa yang harus pertama diprioritaskan? Menurut saya adalah guru. Karena guru inilah kuncinya. Kita tidak mungkin berbicara SDM unggul, kalau guru tidak memiliki kapasitas itu," ujarnya saat membuka lokakarya.

"Karena itu di akhir masa jabatan, saya fokus ke guru," lanjutnya.

Sebelumnya, Mendikbud menjelaskan terdapat tiga indikator guru profesional, yaitu keahlian, tanggung jawab sosial, dan rasa kebanggaan bersama. Sebagai pekerjaan profesional, profesi guru menuntut keahlian tertentu yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan dalam waktu yang cukup lama dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Baca Lainnya : Kemenperin Bersama ITE Singapura Fasilitasi Pelatihan Guru

"Tidak ada yang bisa mengerjakan pekerjaan itu kecuali mereka yang belajar dan terlatih cukup lama. Itu baru namanya pekerjaan profesional,” kata Muhadjir.

"Kalau ada pekerjaan, tidak perlu sekolah lama-lama, atau juga tingkat kesulitan tidak terlalu tinggi, sehingga hampir semua orang bisa melaksanakan, maka itu bukanlah profesi," tambahnya.

Guru Besar Universitas Negeri Malang ini berharap agar setiap guru dapat memahami tanggung jawab sosial yang menempel pada profesinya. Dampak pekerjaan seorang guru tidak hanya bersifat pribadi, melainkan sifatnya publik.

"Misalnya guru itu mengajari anak salah, maka yang menderita nanti bukan hanya anak yang salah itu, tetapi semua orang yang berelasi dengan anak itu," ujar Muhadjir.

Pada kesempatan tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy juga menekankan perlunya guru membangun asosiasi profesi berbasis kesejawatan.

Baca Lainnya : Kemenkop UKM Gandeng 3 Perguruan tinggi Susun Strategi Nasional Pengembangan UMKM

“Seorang profesional pasti selalu berhubungan dengan sesama koleganya, sejawatnya, seprofesinya untuk saling tukar pengalaman berbagi pengalaman terhadap profesi yang dilakukan. Di situlah pentingnya asosiasi profesi. Jadi itulah mengapa di dalam Undang-undang Guru dan Dosen harus bergabung dengan asosiasi profesi," terangnya.

Sementara itu, Ketua Harian Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Arief Rachman, dalam sambutannya mengatakan bahwa tema yang dipilih pada peringatan Hari Guru Internasional kali ini merupakan persepsi dan perhormatan publik terhadap profesi guru.

Baca Lainnya : Perdana, 2020 LPDP Akan Berikan Beasiswa Khusus Kepada Guru

Disampaikan Arief, tantangan pada profesi guru dan tenaga kependidikan menimbulkan kekhawatiran karena masih terjadi penurunan jumlah generasi penerus untuk melanjutkan estafet profesi guru. Menurut target pendidikan dalam SDGs 2030, dibutuhkan lebih dari 69 juta guru yang dapat secara aktif berpartisipasi dan berdedikasi membangun pendidikan dunia.

"Dari jumlah ini, 48,6 juta rekrutan baru akan diperlukan. Ini adalah angka-angka yang tadi oleh Pak Dirjen (Guru dan Tenaga Kependidikan) dijelaskan secara rinci dan yang perlu kita ketahui bersama,” ungkapnya.

 

  3


500 Karakter

Artikel Terkait

Cegah Virus Corona, Kemendes PDTT Bentuk Desa Tanggap Covid-19

Pendampingan   26 Mar 2020 - 08:37 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: