Kemenperin Dampingi Pelaku Usaha Tingkatkan Produksi Baja Dalam Negeri

TrubusPreneur
By Syahroni | Followers 2
04 Okt 2019   20:37

Komentar
Kemenperin Dampingi Pelaku Usaha Tingkatkan Produksi Baja Dalam Negeri

Staf Khusus Menteri Bidang Investasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan bersama Vice Presiden PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi saat meninjau pabrik baru perusahaan itu di Cikarang, Kab Bekasi, Jumat (4/10). (Foto : Trubus.id/ Syahroni)

Trubus.id -- Jumat (4/10) pagi, jajaran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkesempatan melakukan kunjungan kerja sekaligus menandatangani prasasti dibukanya pabrik continuous coating line untuk baja lapis zinc-alumunium milik PT Tata Metal Lestari di Kawasan Industri Delta Silicon, Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pabrik itu sendiri direncanakan akan beroperasi secara resmi mulai 9 Oktober 2019 mendatang.

Dalam kesempatan itu, Staf Khusus Menteri Bidang Investasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, kunjungan itu juga untuk memantau kesiapan operasional produksi maupun sebagai bentuk dukungan terhadap pabrik baja dalam negeri.

"Diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan industri baja dalam negeri. Apalagi mereka ini menggunakan teknologi yang canggih, modern dan berstandar industri 4.0," ujarnya pada awak media usai mengelilingi pabrik tersebut.

Ia menyakini PT Tata Metal Lestari yang mampu memproduksi sebesar 225.000 ton per tahun dan memiliki investasi sebesar Rp 1,5 triliun ini, mampu memberikan kontribusi terhadap pembangunan infrastruktur dan konstruksi nasional, khususnya dalam hal ketersediaan bahan baku baja lapis zinc- aluminium di Indonesia.

"Pemerintah dalam hal ini kami (Kementerian Perindustrian), akan mendukung dan melakukan pembinaan agar baja mereka bisa memenuhi kebutuhan baja nasional, bahkan kedepannya bisa melakukan ekspor," jelasnya.

Ia memaparkan, saat ini kebutuhan baja di Indonesia mencapai sekitar 13-14 juta ton per tahun. Sedang kapasitas produksi baja dalam negeri baru mencapai 6-7 ton. Hal itulah yang menyebabkan masih terjadinya impor baja.

Akan tetapi, pihaknya bersama Kementerian Perdagangan akan membuat kebijakan maupun pendampingan agar para perusahaan baja dalam negeri ini bisa lebih banyak lagi memproduksi baja untuk memenuhi kebutuhan baja Indonesia.

"Saya yakin, kalau ini ditingkatkan perusahaan baja dalam negeri mampu bersaing dan lebih banyak produksi bajanya. Kita dorong terus agar sejumlah proyek pembangunan infrastruktur lebih mengutamakan penggunaan baja dalam negeri," kata dia.

Di kesempatan yang sama, Vice President PT. Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi mengatakan, perusahaannya merupakan perluasan usaha Tatalogam Group, yang selama 25 tahun telah berkontribusi mengatapi nusantara sebagai produsen genteng metal dan baja ringan.

Pabrik ini merupakan bukti bahwa Tatalogam Group sudah berhasil berexpansi ke industri hulu, yang awalnya sebagai pemain di industri hilir, yaitu produsen genteng metal dan baja ringan, saat ini sudah meningkat sebagai produsen bahan baku genteng metal dan baja ringan.

“Keberhasilan Tatalogam Group ini tidak terlepas dari peran serta dan dukungan dari Kementerian Perindustrian, yang konsisten membina industri dalam negeri terutama di sektor industri baja nasional," jelas dia.

Untuk itu di dalam usaa baja ini, Ia meminta peran serta pemerintah dalam memajukan serta mendukung pabrik baja dalam negeri. Hampir semua negara di dunia ini mendambakan memiliki industri baja yang kuat dan tangguh. Karena industri baja adalah ‘ibu segala industri’.

Kemajuan industri baja pasti memicu penguatan sektor industri lainnya di suatu negara.

"Apalagi kami dilengkapi dengan mesin yang canggih, modern dan berstandar industri 4.0," kata dia. [RN]
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: