Kemendes PDTT Tingkatkan Nilai Jual Alpukat Soe Melalui Teknologi dan Inovasi

TrubusNews
Thomas Aquinus
30 Agu 2019   16:00 WIB

Komentar
Kemendes PDTT Tingkatkan Nilai Jual Alpukat Soe Melalui Teknologi dan Inovasi

Irwansyah Putra, Kasubdit Produk Unggulan dari Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal, Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kemendes PDTT. (Foto : Trubus.id/Kontributor Valens)

Trubus.id -- Kementerian Desa Pembangunan Daerah Transmigrasi dan Tertinggal (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal, Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal berhasil meningkatkan nilai jual alpukat melalui implementasi teknologi dan inovasi dengan petani alpukat di Soe, NTT. 

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Irwansyah Putra, Kasubdit Produk Unggulan dari Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal, Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal dalam diskusi terbatas “Peningkatan Sinergi Diantara Pemerintah, Lembaga Swadaya, Masyarakat dan Swasta: Menggalang Upaya untuk Percepatan dan Peningkatan Kualitas Pembangunan Kabupaten Sumba Barat Daya” di Medo Building, Jakarta, Kamis (29/8).

“Kita tahu alpukat Soe ini alpukat terenak di Indonesia kita bilang ini alpukat mentega rasanya wangi, besar tapi harga di Kupang itu hanya Rp2.000 per kilogram. Sementara kalau kita beli di swalayan di Jakarta harganya Rp50.000,” ujarnya.

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Dukung Pengembangan Wisata di Kawasan Transmigrasi

Dampaknya, petani-petani alpukat di NTT dikatakan Irwan masih tetap miskin. Bahkan, mereka tidak mengambil alpukatnya melainkan dikasih untuk makanan ternak di kandangnya. 

Melihat kesenjangan harga yang tinggi, dari tahun 2018 pihaknya memfasilitasi para petani alpukat di Soe bersama startup Rego Pantes.

“Setelah kita lakukan perhitungan, turun ke lapangan dan cek survey di pasar dan cek pasar pasar di Jakarta, akhirnya kita bisa membeli alpukat Soe Rp13.500, naik 630% dan kita bisa menjual harga alpukat terenak itu Rp38.000, ini inovasi yang kita lakukan bersama dengan startup,” jelasnya kepada Trubus.id.

Ada 3 improvement agar petani mendapat harga pantas dari kualitas budidaya mereka, kualitas komoditas dan kualitas pengiriman, sehingga harga (alpukat) ini bisa naik. 

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Kembangkan Prukades Tanaman Padi di Bangka Selatan

“Ini yang kita langsung memberikan fasilitasi pelatihan yang dilakukan bersama startup yang melakukan pendampingan,” ujarnya.

Irwan mengakui turun ke lokasi membangun sebuah ekosistem dari hulu sampai hilir sehingga terbentuk ekonomi berkelanjutan secara terus menerus. 

Mengingat kebutuhan alpukat yang tinggi terutama di Jakarta, selain Rego Pantes, pihaknya juga menggandeng startup Sayur Box dengan mengambil alpukat dari daerah lain seperti Pasaman Barat.

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Resmikan Program Pengembangan Kawasan Pedesaan Agropolitan

“Tugas kami memfasilitasi mereka semua, disana melakukan pemberdayaan ketemu dengan kelompok tani, BUMDes, pengumpul alpukat kita temuin semua,” katanya yang berharap BUMDes menjadi pembeli alpukat untuk mencukupi permintaan yang datang dari startup. [NN]


 

  6


500 Karakter

Artikel Terkait

Menkop UKM Ungkap 5 Masalah Utama yang Hambat Perkembangan UMKM

Keuangan Mikro   15 Nov 2019 - 08:08 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Sistem IDM Dapat Membantu Pembangunan Desa Mandiri

Pendampingan   15 Nov 2019 - 06:52 WIB
Bagikan: