Enterpreneur Muda Berhasil Ubah Limbah Tongkol Jagung Jadi Dolar dengan Ekspor

TrubusPreneur
By Astri Sofyanti | Followers 1
16 Agu 2019   15:30

Komentar
Enterpreneur Muda Berhasil Ubah Limbah Tongkol Jagung Jadi Dolar dengan Ekspor

Tongkol jagung (Foto : Dok. Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian pada 2015 lalu memiliki Program Upsus Jagung yang bertujuan untuk menghemat devisa negara hingga Rp10 triliun yang berasal dari impor tongkol jagung dalam setahun. Karena melimpahnya produksi jagung nasional hingga 30 juta ton pada tahun 2018, bagi sebagian petani atau bahkan masyarakat, tongkol jagung selama ini merupakan limbah yang tak lagi bisa dimanfaatkan. 

Seorang entrepreneur muda Dean Novel, mencoba mengubah pola pikir yang beranggapan bahwa tongkol jagung selama ini dipandang sebagai limbah, menjadi bisnis  ekspor tongkol jagung ke luar negeri.

Dean mencoba bisnis ekspor tongkol jagung sejak tahun 2009. Awalnya ia tak pernah bersinggungan dengan dunia pertanian, namun peluang dari program pembangunan pertanian membuatnya fokus di bisnis jagung mulai dari hulu hingga hilir. Di hulu (On Farm), dimulai dengan mengembangkan tanaman jagung 200 hektare sebagai kebun inti di Lombok Nusa Tenggara Barat dan membangun kemitraan dengan 7.200 kepala keluarga petani jagung melalui Koperasi Dinamika Nusra Agribisnis.

Baca Lainnya : Nauval, Entrepreneur Muda dari Boyolali yang Berdayakan 250 Petani Susu

“Dengan luasan tanaman jagung 7000 hektare, kebun plasma, awalnya fokus bisnis jagung pipilan untuk pakan ternak dengan perlakuan stok gudang, akhirnya PT. DNA mengembangkan produksi jagung khusus subtitusi impor, berupa jagung rendah aflatoksin, kegiatan agribisnis jagung yang dikembangkan Dean, menghasilkan limbah berupa tongkol jagung antara 200 hingga 300 kg dari setiap ton jagung pipilan basah. Limbah jagung ini akhirnya menjadi masalah,” jelas Dean ketika mengunjungi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, belum lama ini.

Ia mengatakan, diperlukan membangun gudang hanya untuk limbah. Jika biasanya limbah tongkil berakhir menjadi arang pembakar sate atau ikan, namun untuk jadi arang harus dijemur kering dan permintaannya juga rendah. Sampai akhirnya PT. DNA, mendapat informasi adanya peluang pasar ekspor tongkol jagung untuk dijadikan media tanam budidaya jamur di korea.

“Corncobs Meal terlihat sederhana, tapi membuatnya tidak mudah, khususnya untuk memenuhi spesifikasi ekspor ke Korea Selatan, selama ini hanya Cina dan Vietnam yang memasok kebutuhan corncobs meal, dari Indonesia hanya PT. Datu Nusa Agribisnis,” papar Dean.

Lebih lanjut Dean mengaku, setiap bulan mengekspor 200 hingga 400 ton, rata-rata 300 ton, setiap bulannya dengan harga 135,00 USD per metrik ton. “Semua kita pasok dari Lombok, hingga saat ini buyer dari Korea puas memakai produksi kita," pungkas Dean Novel, yang berpenampilan sederhana. [NN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: