Melihat Perjalanan Bina Desa Sebagai Lembaga Jejaring Perdesaan di Indonesia

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
19 Juli 2019   16:00

Komentar
Melihat Perjalanan Bina Desa Sebagai Lembaga Jejaring Perdesaan di Indonesia

Bambang Ismawan hadir dalam pertemuan Bina Desa di Yogyakarta (Foto : Dok Bina Swadaya)

Trubus.id -- Bina Desa mengadakan pertemuan untuk menyusun Renstra, yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 6 – 7 Juli 2019. Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 70 orang peserta anggota jejaring Bina Desa di seluruh Indonesia.

Bambang Ismawan (Pendiri dan Ketua Pembina Bina Swadaya) yang diundang sebagai perintis dan pendiri Yayasan Bina Desa menyampaikan
informasi sekitar pendirian Bina desa dan memberikan masukan untuk perjalanan Bina Desa kedepan.

Dijelaskannya, perjalanan Bina Desa diawali setelah pertemuan Development of Human Resources in Rural Asia Workshop (DHRRAW) di Bangkok pada Agustus 1974 yang digagas dan diselenggarakan oleh SELA (Socio Economic Live in Asia) dihadiri 120 orang peserta, antara lain 15 orang perwakilan dari Indonesia.

Baca Lainnya : Bupati Mamberamo Raya Inginkan Konsep GRD Bina Swadaya Dapat Diwujudkan

Dalam workshop tersebut, lahirlah gagasan untuk menindaklanjuti workshop itu dan membentuk Center for the Development of Human Resources in Rural Asia (CENDHRRA) yang berkedudukan di Manila dipimpin oleh Dr. Anthonio Ledesma.

Selanjutnya, pada akhir 1974 para peserta Indonesia berkumpul kembali di Jatiluhur, Purwakarta Jawa Barat untuk membicarakan tindak lanjut pertemuan DHRRAW Bangkok dan disepakati membentuk Indonesian Development of Human Resources in Rural Area (INDHRRA) atau
sekarang lebih dikenal sebagai Bina Desa.

Untuk menindaklanjuti putusan-putusan DHRRAW, kemudian CENDHRRA mengadakan CENDHRRA Integral Rural Development (CIRD) Workshop di Asia. CIRD Workshop diadakan 6 kali di negara-negara Asia, diantaranya 2 kali diadakan di Indonesia (1976 – 1979).

Baca Lainnya : Bina Swadaya Konsultan Bangun Karakter Positif Pendamping Masyarakat

Dalam Lokakarya pemberdayaan desa yang diadakan Bina Desa (1978) di Ungaran disepakati istilah NGO (Non Government Organization) atau Ornop (Organisasi Non Pemerintah) diubah menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), karena dipandang lebih sesuai untuk Indonesia.

Selanjutnya LSM secara resmi dicantumkan dalam UU Lingkungan Hidup untuk pertama kali pada tahun 1981. Pada pertemuan Bina Desa di Yogyakarta, Bambang Ismawan juga memperkenalkan Gerakan Revitalisasi Desa (GRD) yang diinisiasi oleh Bina Swadaya dan mengajak Bina Desa untuk bekerja sama. Bambang Ismawan berharap, adanya dialog strategis ke arah gerakan pembangunan kedepan. [Valens]/[NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: