Dibutuhkan Kerja Sama Untuk Perlindungan Kaum Perempuan Saat Bencana

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
20 Juni 2019   07:00

Komentar
Dibutuhkan Kerja Sama Untuk Perlindungan Kaum Perempuan Saat Bencana

Pengungsi kaum perempuan korban gempa (Foto : Trubus.id/Thomas Aquinus Krisnaldi G)

Trubus.id -- Tinggi-nya resiko terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, di lokasi pengungsian, membuat Pemerintah Sulawesi Tengah lewat Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Kementerian PPPA melibatkan UNFPA, menggelar rapat koordinasi perlindungan perempuan dan anak dalam bencana. Kegiatan tersebut di gelar di Palu, sejak tanggal 18 - 19 Juni 2019.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menegaskan dibutuhkan kerjasama dan keterlibatan para pihak terkait, untuk melindungi perempuan dan anak dalam situasi dan kondisi darurat atau dalam bencana.

"Hal ini penting untuk melindungi perempuan dan anak dalam situasi darurat," ucap Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Dalam Situasi Darurat dan Kondisi Khusus, Kementerian PPPA, Nyimas Aliah, di Palu, Rabu (19/6).

Baca Lainnya : Anggaran Bantuan Sosial untuk Korban Bencana di Sulawesi dan NTB Siap Dicairkan

Menurutnya, dalam situasi normal saja, perempuan banyak mengalami kekerasan, perempuan di eksploitasi, mengalami KDRT, mengalami perkosaan, pelecehan di ruang publik dan lainnya.

"Banyak, hampir setiap hari muncul kekerasan," katanya.

Apalagi jika dalam situasi darurat atau dalam situasi bencana. Oleh sebab itu, menurutnya koordinasi menjadi hal penting, supaya bisa bergerak bersama menangani kasus kekerasan yang di kategorikan sebagai kekerasan berbasis gender.

Baca Lainnya : Surabaya Targetkan Semua Kampung Tercakup Program Mitigasi Bencana Kebakaran

Bencana yang melanda Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala serta sebagian Parigi Moutong diketahui mengakibatkan banyak perempuan dan anak yang menjadi korban bencana, dan saat ini berada di lokasi-lokasi atau penampungan pengungsian di Palu, Sigi dan Donggala.

Nyimas menyampaikan bahwa di lokasi pengungsian perempuan dan anak rentan terhadap kekerasan. Ketika infastruktur, sarana pelengkap huntara, aksesbilitas, tidak ramah perempuan, maka kaum hawa dan anak rentan terhadap kekerasan.

"Misalnya kamar mandi yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, jumlahnya sedikit, tidak aman dan tidak rapih, maka ini menunjang kerentanan terhadap perempuan mendapat kekerasan," ujarnya.

Baca Lainnya : Tagana Gelar Edukasi Kesiapsiagaan Hadapi Bencana di Sekolah

Dirinya mengakui, bahwa perempuan membutuhkan waktu lebih lama di kamar mandi atau toilet. Kemudian, aktivitas perempuan sudah dijalankan sejak subuh dengan mencari air. Karena itu, akses terhadap perempuan mendapatkan air di lokasi pengungsian harus lebih mudah.

"Tapi kalau tempatnya jauh, terus gelap. Maka ini rawan bagi perempuan untuk mendapat kekerasan," ujarnya. [NN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: