Produk Tembakau Alternatif Berhasil Angkat UMKM di Bali

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
11 Juni 2019   07:00

Komentar
Produk Tembakau Alternatif Berhasil Angkat UMKM di Bali

Ilustrasi tembakau alternatif (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Produk tembakau alternatif dan rokok elektrik berhasil mengangkat perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Bali. Saat ini jumlah toko yang menjual produk tersebut di beberapa kabupaten di Bali terus meningkat pesat.

Bahkan keberadaan produk tersebut juga turut mendorong perkembangan sektor pariwisata di Bali, khususnya di Kabupaten Badung. Wisatawan mancanegara ternyata juga tertarik dalam mengonsumsi produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik yang diproduksi oleh pengusaha lokal.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta mengatakan, produk tembakau alternatif dapat terus berkembang serta membuka lapangan pekerjaan baru di wilayahnya.

Baca Lainnya : Produk UMKM dari Daerah Laku Keras saat Berjualan di Pekan Raya Jakarta

Data sensus ekonomi 2016 mengungkapkan, jumlah UMKM di Bali mencapai 481.853 unit. Secara keseluruhan, UMKM tersebut menyerap tenaga kerja hingga 1,23 juta orang.

Kota Denpasar menjadi wilayah dengan jumlah UMKM terbanyak yakni mencapai 20 persen, disusul Badung 16 persen, Gianyar 14 persen, Buleleng 13 persen, Karangasem 11 persen, Tabanan 10 persen, Jembrana 6 persen, serta Klungkung dan Bangli masing-masing 5 persen.  

Adapun data Asosiasi Vaporizer Bali menunjukkan hingga Oktober 2018, terdapat 58 anggota yang tergabung dalam asosiasi dan 18 orang distributor yang tersebar pada 72 titik di seluruh Bali.

Sementara itu, pengguna Vape di Bali secara keseluruhan mencapai 60.000 orang.

Baca Lainnya : Pelaku UMKM Surabaya yang Sudah Kantungi HKI Masih di Bawah 10 Persen

Wakil Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali IGN Indra Andhika menyampaikan, produk tembakau alternatif memiliki prospek yang besar.

"Sektor inovatif ini akan menjadi peluang usaha yang besar ke depan mengingat posisi Bali yang sangat strategis di industri pariwisata nasional," ujar Indra dalam keterangannya, Senin (10/6). 

Sebelumnya, Kementerian Keuangan sendiri telah menetapkan tarif cukai hasil tembakau produk tembakau alternatif dengan memasukannya sebagai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017. Aturan ini kemudian direvisi oleh PMK 156/2018. Ketentuan cukai produk tembakau alternatif tersebut telah resmi berlaku sejak 1 Juli 2018. [NN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Koperasi Kopi Bandung Sukses Tembus Pasar Dunia

Thomas Aquinus   Keuangan Mikro
Bagikan:          
Bagikan: