Franss, Pria Surabaya Ini Sukses Bisnis Batik Canting Nol

TrubusPreneur
By Karmin Winarta | Followers 0
11 Mei 2019   09:00

Komentar
Franss, Pria Surabaya Ini Sukses Bisnis Batik Canting Nol

Franss, pebisnis batik (Foto : Karmin Winarta / Trubus.id)

Trubus.id -- Namanya cukup singkat, Franss, namun perjalanannya dalam bisnis batik sudah cukup panjang. Pria asal Surabaya ini mulai serius menyukai batik sejak masih SMU, 19 tahun lalu.  

Kecintaanya pada batik berawal saat ia melihat masterpiece batik yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah karya Oey Soe Tjoen.

Batik-batik karya Oey Soe Tjoen yang berasal dari Kedungwuni, Pekalongan tersebut terkenal dengan kehalusan dan detailnya. Karena batik-batik tersebut dibuat dengan canting berukuran nol (0), canting paling kecil.

Canting adalah alat untuk membatik, semacam pena yang dipakai untuk melukis di atas kain putih yang mempunyai beberapa ukuran.

Karena terpukau dengan batik-batik alusan tersebut, mendorong Frans menciptakan batik-batik halus yang bisa dipakai untuk para pria Indonesia.  Dengan nama Ondomohen 1952 ia menyediakan batik-batik alusan untuk para pria di galerinya yang berlokasi di Surabaya.

Kepada Trubus.id, Franss mengatakan, saat ini ia berkolaborasi dengan 35 pembatik di Pekalongan. Semua pembatiknya telah mempunyai keahlian membatik dengan canting nol. Untuk memperoleh skill ini pembatik perlu waktu belajar bertahun-tahun. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian maksimal untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Karena itu batik yang dihasilkan pun kualitasnya sangat prima. Di galerinya, batik-batik alusan dijual mulai harga Rp 8,5 juta sampai tak terhingga.

"Barang seni itu kan harganya bisa tak terbatas, "katanya di acara Gelar Batik Nusantara 2019 di JCC, Jakarta, Sabtu (11/5).

Peminatnya biasanya para eksekutif muda dan tentu saja para kolektor batik, baik dari Indonesia maupun Singapura.

Untuk memperoleh jangkauan lebih luas, ia juga mengenalkan batiknya di media sosial sejak dua tahun lalu. 

Ia pun terus meningkatkan kualitas batiknya dengan melakukan inovasi motif dan pewarnaannya. 

Laki-laki yang juga kolektor puluhan masterpiece batik alusan ini juga mengedukasi para pembatik di Pekalongan, mulai dari quality control sampai standarisasi karya batik yang baik.

Menurutnya batik selalu menjadi fashion yang terus trend. Karena itu ke depan ia akan melakukan inovasi, baik dari sisi bahan, motif maupun pewarnaan.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: