Pelaku Industri Cincau Hitam Naik Signifikan Selama Bulan Ramadan

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
10 Mei 2019   18:30

Komentar
Pelaku Industri Cincau Hitam Naik Signifikan Selama Bulan Ramadan

Ilustrasi pelaku industri cincau hitam (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Selama bulan Ramadan berjalan, penjualan cincau atau janggelan hitam mengalami peningkatan produksi. Hal tersebut terjadi di pelaku industri rumah tangga cincau di Desa Tangjungsari, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang meningkat signifikan selama  Ramadan 2019 akibat tingginya permintaan konsumen.

"Permintaan cincau atau janggelan hitam memang naik drastis dibanding hari biasa. Kenaikannya sekitar lima kali lipat dibandingkan hari biasa," ujar Sumarni, pembuat cincau hitam kepada wartawan, di Magetan, Jumat (10/5).

Dijelaskan Sumarni, dalam keadaan normal hari biasa dirinya hanya menjual sekitar 200 ember. Namun sejak bulan puasa, pihaknya mampu menjual hingga 1.000 ember dan selalu habis.

Baca Lainnya : Bekraf Latih Manajemen Keuangan 100 Pelaku Usaha di Cirebon

Kebutuhan masyarakat yang menjadikan es cincau untuk menu berbuka puasa menjadi pemicu produksinya meningkat tajam. Sumarni menjelaskan, penjualannya tidak hanya dilakukan di wilayah Magetan, namun juga luar kota seperti Solo, Wonogiri, dan Ngawi.

"Para pembelinya ada yang datang langsung ke rumah dan ada juga yang dikirim. Yang datang itu biasanya para penjual es cincau ataupun pedagang cincau di pasar-pasar wilayah Magetan," ujarnya.

Sementara itu, untuk harga, Sumarni terpaksa menaikkan karena untuk menutup biaya produksi yang juga meningkat, karena bahan baku dan tenaga kerja yang terpaksa harus ditambah untuk memenuhi permintaan pasar.

Baca Lainnya : 1.440 Pelaku Usaha dan Koperasi di Babel Ikuti Pelatihan UMKM

Jika hari biasa harga cincau hitamnya dijual Rp15.000 per ember kecil, kini saat puasa naik menjadi Rp17.000 per ember. Sedangkan untuk ukuran ember besar, harganya naik dari Rp35.000 menjadi Rp37.000 per ember.

Untuk karyawan sendiri, jika hari biasa hanya menggunakan lima orang pekerja saja. Kini dirinya harus menambah hingga totalnya mencapai 12 pekerja yang memproduksi cincau secara bergantian saat pagi dan malam hari.

Untuk bahan bakunya yaitu daun janggelan, Sumarni harus mendatangkan dari wilayah Ponorogo dan Pacitan. Hal itu karena sudah tidak cukup jika hanya mengandalkan daun janggelan dari wilayah lokal atau Magetan saja.

Baca Lainnya : RUU Kewirausahaan Nasional Menjadi Anugerah Bagi Pelaku Usaha UMKM

"Usaha pembuatan cincau ini sudah kami jalani selama bertahun-tahun secara turun-temurun. Ini sudah menjadi pekerjaan kami," ujarnya.

Sumarni mengakui, kondisi tersebut selalu terjadi setiap tahun saat memasuki bulan puasa. Pihaknya sangat bersyukur karena omset yang diperolehnya juga meningkat drastis. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: