Petani Muda Ini Angkat Martabat Petani Kopi Melalui Koling

TrubusNews
Thomas Aquinus
03 Mei 2019   19:30 WIB

Komentar
Petani Muda Ini Angkat Martabat Petani Kopi Melalui Koling

Nikolas Deni Firma dengan kedai kopi keliling miliknya. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Petani kopi muda, Nikolas Deni Firma atau biasa dikenal dengan sapaan Deni ingin mengangkat para petani dengan menciptakan kedai KOLING. Saat ini Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang memiliki prospek bisnis menjanjikan.

Berawal dari secangkir kopi Arabica yang dinikmati bersama petani di daerah Temanggung. Deni mulai tergerak untuk mengembangkan kopi di Indonesia. Cita rasa kopi Arabica yang asam, pahit, dan memiliki aroma khas membuat Deni tertarik dengan kopi.

“Mulai semester 3 penasaran akan kopi hingga akhirnya saya jalan-jalan ke daerah Temanggung. Saat itu belum kenal dengan siapa-siapa dan pada akhirnya dipertemukan dengan petani kopi bernama Mas Anas dan Pak Mukidi. Kami berkeliling kebun kopi seharian dan disuguhi kopi Arabica yang rasanya asam. Saya berfikir bahwa biasanya kopi itu pahit, tapi kopi yang satu ini memiliki rasa asam dan ada aroma tembakau. Kemudian saya berpikir bahwa di Jogja banyak kedai kopi namun tak menyajikan kopi semacam itu,” terangnya seperti dikutip dari Petanimuda.

Baca Lainnya : Petani Muda Raih Keuntungan Rp10 Juta dari Labu Madu Tiap Panen

Deni yang memiliki modal dari jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN Yogyakarta memiliki tekad yang kuat untuk lebih mendalami tentang kopi. Selain sebagai penikmat atau peracik kopi, Deni juga tertarik pada proses kopi dari hulu hingga hilir. Dirinya mengakui banyak berbincang  dan berdiskusi dengan petani mengenai cara budidaya kopi dari hulu.

"Saya senang ketika bisa sharing banyak hal dengan petani. Petani itu hebat pengetahuannya banyak sekali karena mereka belajar dari apa yang mereka lakukan di lapangan. Jika pengetahuan kita dibandingin dengan petani tak ada apa-apanya. Jadi setiap ada kesempatan bertemu dengan petani, saya berusaha menjalin relasi dengan petani itu," katanya.

Pengalaman akan pengolahan kopi di pasca panen (hilir) Deni mencoba belajar dari sekolah barista di Alam sutra, Jakarta. Selain itu, dirinya juga banyak belajar dari pengalamannya ketika mengambil pekerjaan paruh waktu menjadi barista.

Baca Lainnya : Perkuat Ekonomi Umat, Program Santripreneur dan Petani Muda Diresmikan

Membaca peluang yang ada, pada 2014 Deni akhirnya memberanikan diri untuk membuka kedai kopi keliling (KOLING) dengan modal sendiri. Membuka usaha Koling merupakan buah dari kegemerannya mengelilingi perkebunan kopi dan mempelajari kopi sejak bekerja di sebuah kafe.

"Kepikiran pengen buka kedai kopi, cuma waktu itu sewa kedai mahal," katanya.

“Saya memberanikan terjun dalam usaha kedai kopi pas semester 4 kuliah, orang tua awalnya tak mendukung karena tak boleh kuliah sambil kerja, karena tujuan ke jogja adalah kuliah. Tapi akhirnya orang tua sangat mendukung. Ya kalau bagi waktu harus pinter-pinter. Harus pinter juga baca peluang dan memanfaatkan kesempatan,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan di kedai kopinya, Deni menggunakan biji kopi yang berasal dari Temanggung. Biji kopi yang ia beli dari petani langsung, jika ia membeli lewat tengkulak harganya sekitar Rp70.000/kg namun jika beli di petani harganya sekitar Rp30.000. Walaupun Deni membeli dari petani langsung ia tak pernah membeli dengan harga pas karena menurutnya jerih payah petani perlu dihargai.

Baca Lainnya : Ini Dia Program Keren Kementan Atasi Krisis Petani Muda

Menu kopinya pun di jajakan dengan menggunakan nama petani seperti kopi susu petani dan kopi petani. Nama petani diambil karena menurutnya petani sangat berjasa dan petani merupakan cerminan dirinya, karena Deni bangga menjadi bagian dari kelompok petani kopi.

Seiring berjalannya waktu, peminat koling sangatlah banyak. Kini ia sudah memiliki lebih dari 30 gerobak kopi keliling yang tersebar di tiga kota yang berbeda yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Bahkan, penghasilan dari penjualan kopi tersebut mencapai 200 juta per bulan.

Setelah berhasil membangun kedai kopinya, Deni tetap terus melakukan inovasi dengan membuat variasi kopi buah dengan buah nangka dan kopi pisang. 

“Jadi pengusaha itu tak gampang, karena tak bisa akutansi harus belajar akutansi dari orang terdekat, harus melakukan pendekatan dengan SDM, cara memperlakukan karyawan itu tak gampang. Saya menganggap karyawannya sebagai temannya namun pada saat kerja harus tetap pada posisi masing-masing. Sehingga karyawan koling sudah dekat seperti keluarga kecil. Untuk generasi muda jangan malu dengan apa yg kita lakukan terutama di sektor pertanian menurut saya petani itu pahlawan terbesar karena tanpa mereka kita tak bisa bertahan hidup. Jangan malu jadi mahasiswa pertanian, justru kita harus bangga, harus melawan gengsi,” pungkas Deni. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Pendamping Sosial adalah Ujung Tombak Kementerian Sosial

Pendampingan   14 Des 2019 - 09:01 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: