Inovatif, BUMDes Jaya Aulia Bisnis Daun Katuk Sebagai Pakan Sapi Ternak

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
18 April 2019   16:00

Komentar
Inovatif, BUMDes Jaya Aulia Bisnis Daun Katuk Sebagai Pakan Sapi Ternak

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Tanaman katuk atau daun katuk selama ini dikenal sebagai konsumsi sayuran untuk menambah cairan ASI bagi ibu yang baru melahirkan dan menyusui. Namun ternyata kini ada tren baru dari daun katuk yang diolah sebagai pakan ternak sapi perah, untuk menambah volume susu sapi.

Saat ini peluang tersebut tengah dilakukan oleh Badan Usana Milik Desa (BUMDes) Jaya Aulia, Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ketua BUMDes Jaya Aulia, Edi Hardi mengungkapkan, pihaknya tengah mengembangkan tanaman katuk untuk memenuhi permintaan peternak sapi perah. 

BUMDes yang dikelolanya terus mengembangkan berbagai produk olahan dari tanaman katuk, diantaranya diolah menjadi katuk kering sebagai pencampur pakan untuk ternak sapi perah. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, saat ini telah ditanam sebanyak 87 ribu batang katuk dengan luas mencapai 5000 meter persegi. 

Baca Lainnya : BUMDes Kabupaten Hulu Sungai Selatan Tingkatkan Ekonomi Desa Melalui Pertanian

"Kalau dijual segar harga daun katuk itu berkisar antara Rp.3.000-3.500 per kg, sementara kalau dijual dalam bentuk kering bisa mencapai Rp, 40.000 per kg," tutur Edi seperti dikutip dari Tabloidsinartani.

Sementara itu, untuk mendapatkan berat kering sebanyak 1 kg dibutuhkan katuk segar sekitar 4 kg.

“Harga kering sebesar itu, masih memberikan keuntungan yang cukup lumayan”, ujarnya.

Dirinya mengakui, bahwa saat ini permintaan yang cukup besar dari katuk kering ini berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur dan Solo.

Berdasarkan pengalaman peternak sapi perah, Edi mengakui menurutnya pemberian tanaman katuk ini sebanyak 100 gram per hari bisa meningkatkan volume susu berkisar antara 35-40 persen. Kemampuan memenuhi permintaan pasar ini memang masih kecil, beberapa waktu lalu mereka baru bisa menjual sebanyak 500 kg.

Baca Lainnya : Inovatif, BUMDes Kurnia Makmur Buka Usaha Variasi Pemasangan Audio Mobil

Tim Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Kepala Seksi Jasa Penelitian, Dra. Nur Maslahah, M.S dalam diskusi informal mengapresiasi kreativitas dari Edi untuk memanfaatkan daun katuk lebih lanjut.

Pada tahun 2005-2006 lalu, Nur Maslahah  bercerita bahwa Balittro pernah bekerjasama dengan Kimia Farma Bandung dalam mengolah katuk untuk keperluan farmasi.Dikatakannya, saat ini sudah ada empat varietas katuk yang berhasil dikembangkan yakni varietas Zanzibar, Kebo, Bastar dan Paris.

Jenis katuk yang banyak dijual di pasar adalah varietas Bastar dan Kebo.  Bahkan di Kebun Percobaan Manoko Lembang sudah ada pengujian penggunaan katuk untuk sapi perah. 

"Kalau untuk pakan ternak yang cocok adalah varietas Kebo. Sedangkan untuk dikonsumsi sebagai sayur dan sumber ASI untuk ibu menyusui adalah Varietas Bastar dan Paris, karena tekstur daunya lebih lembut," terangnya.

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Dorong Produk BUMDes Memiliki Standar Ekspor

Nur Maslahah, menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Pak Edi itu sudah benar.

"Tinggal perlu penyempurnaan teknologi dan pemilihan varietas katuk yang tepat," katanya.

Sistem pengeringan yang dilakukan oleh BUMDes Jaya Aulia terbilang masih sederhana, namun hasilnya sudah cukup bagus. Artinya, warna hijau dari daun yang dikeringkan itu masih tetap terjaga.  Nur Maslahah menambahkan, cara yang lebih baik adalah teknologi simplisia yang telah dikembangkan oleh Balitrro.

Simplisia ini mampu menjaga bahan aktif yang bermanfaat yang terkandung di dalam katuk tersebut dan daunya tetap hijau. Seperti dilansir Tabloidsinartani[NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: