Petani Cabai dan Bawang Merah di Ternate-Tidore Raup Untung Rp100 Juta dalam 2 Bulan

TrubusNews
Thomas Aquinus
31 Mar 2019   20:00 WIB

Komentar
Petani Cabai dan Bawang Merah di Ternate-Tidore Raup Untung Rp100 Juta dalam 2 Bulan

Ilustrasi petani bawang merah (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kota Ternate dan kepulauan Tidore Provinsi Maluku Utara saat ini tengah giat mengembangkan cabe rawit dan bawang merah. Meski akses menuju Tidore Kepulauan harus menggunakan moda transportasi kapal boat, tak menyurutkan para petani mengembangkan kedua komoditas ini karena untungnya mencapai Rp100 juta per hektare dalam waktu 2 bulan saja.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Moh Ismail Wahab saat bertemu dengan para petani mengaku senang karena banyak daerah di wilayah timur yang mengembangkan kedua komoditas rentan inflasi tersebut.

"Petani sudah mampu memenuhi kebutuhan lokal, dan membantu mengurangi ketergantungan dari daerah lain", katanya seperti dikutip dari Tabloidsinartani.

Baca Lainnya : Kelompok Petani Hutan Diharapkan Bentuk Koperasi

Saat ini luas tanam cabai di kedua daerah tersebut mencapai 100 hektare didominasi oleh varietas Dewata. Sementara bawang merah tertanam 55 hektare dengan varietas andalan super philips dan tajuk.

Sementara itu, guna harga di petani tidak dipermainkan oleh pasar, dirinya menyarankan agar membentuk pasar lelang cabai. Ini penting  dilakukan agar bisa putus rantai pemasaran yang terlalu panjang. Selain cash and carry, harga yang terbentuk dalam satu kawasan bisa sama.

Menurut Ismail, efisiensi biaya produksi harus mulai ditekankan kepada para petani dan petugas penyuluh agar daya saing produk meningkat.

"Harus didorong pasar lelang agar petani tak hanya menjadi price taker , tapi bisa membalikkan keadaan menjadi price maker. Dengan begitu petani semangat memperluas areal tanamnya hingga tercapai swasembada lokal Tidore Kepulauan, bahkan Maluku Utara," katanya.

Baca Lainnya : Hartanto dan Petani Kebumen Produksi Gula Semut untuk Pasar Eropa dan Amerika

Saat menemui kelompok tani bawang merah Karisose Desa Bale, Ismail melihat langsung hamparan bawang merah seluas 3 hektare.

"Panen akhir Maret dan siap dipasarkan ke Tobelo Halmahera Utara. Alhamdulilah, harganya sangat bagus berkisar Rp30 - 40 ribu, dengan rata-rata produksi mencapai 10 ton per hektar", kata Ismail.

Dirinya meyakini kalau petani dan petugas dinas saling bahu membahu, maka kebutuhan bawang merah Maluku Utara bisa dipenuhi dari wilayah sendiri.

"Hebat, petani di sini sudah selangkah lebih maju, berani menanam bawang merah dari biji. Tahun ini Kementan juga menggelontorkan bantuan benih bawang merah dari biji atau dikenal dengan TSS (True Shallot Seed) seluas 1.100 hektare. Kebanyakan memang di luar Jawa," ujarnya.

Sementara itu, petani bawang merah setempat, Sukamti mengaku sangat beruntung menanam bawang merah. "Biaya produksi Rp 150 juta per hektare, jualnya bisa Rp 250 juta per hektare. Untungnya Rp100 juta per hektare dalam waktu 2 bulan saja. Sangat menguntungkan," katanya.

Baca Lainnya : Jokowi Ingin Petani Sawit Pindah ke Durian, Ini Tips Peluang Usahanya

Kamil, petani lainnya mengatakan bahwa dirinya bersama anggota kelompok lain sudah enam kali tanam bawang merah benih biji varitas lokananta dengan hasil memuaskan. 

"Kami sudah lakukan budidaya ramah lingkungan dan sedapat mungkin terapkan GAP sesuai saran pemerintah. Kami senang sekali pemerintah benar-benar memperhatikan petani seperti kami. Walaupun Jakarta jauh dari sini, ternyata perhatiannya luar biasa," ujarnya dengan bangga. [NN]

  3


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: