Jamur Susu Cepat Menguntungkan, 10 Hari Sudah Bisa Panen

TrubusNews
Thomas Aquinus
27 Mar 2019   16:00 WIB

Komentar
Jamur Susu Cepat Menguntungkan, 10 Hari Sudah Bisa Panen

Ilustrasi budi daya jamur susu (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Jamur susu memang belum setenar jamur tiram, namun jangan salah, jamur susu memiliki prospek cerah kedepannya dengan harga yang mahal sehingga lebih cepat menguntungkan. Keuntungan lainnya adalah membudidayakan jamur susu ternyata cukup mudah. Hanya dalam waktu 10 hari sudah bisa panen.

Petani jamur asal Desa Dwi Tunggal, Kec. Banjar Agung, Kab. Tulang Bawang, Lampung, Eko Suwondo mengungkapkan, harga jamur susu jauh lebih mahal dibandingkan jamur tiram. Selain itu, bertahan hingga 3 hari (suhu ruangan) setelah dipetik dibandingkan jamur tiram. “Harga jamur susu ini Rp40 ribu per kg, sedangkan jamur tiram hanya Rp15 ribu per kg,” ujarnya.

Budi daya jamur susu hampir sama dengan jamur tiram. Namun yang membedakan adalah masalah cara tanamnya, yakni atasnya harus diberikan penutup (casing).

Baca Lainnya : Suburnya Bisnis Budidaya Jamur Tiram yang Berpotensi Meningkat

“Jadi di baglog-nya (plastik/wadah untuk tanamnya), bagian atasnya harus ditutup. Mengapa? agar tumbuhnya lebih cepat. Dengan apa ditutupnya? Dengan menggunakan tanah berpori atau sekam bakar,” terang Eko.

Baglog yang digunakan berukuran lebar 40 cm dan tinggi 50 cm. Sedangkan kalau baglognya lebih kecil (ukuran lebar 17 cm tinggi 35 cm) hanya 5 hari sudah dapat dipanen.

Namun Eko mengingatkan, bagian atasnya harus ditutup (casing). Jika tidak, maka 2 bulan baru tumbuh, tapi tergantung cuacanya. Jika musim kemarau, maka dalam 5 hari dapat dipanen. Sedangkan saat musim hujan dapat 1 bulan lebih.

“Makanya jamur ini cocok ditanam di daerah yang suhunya lebih dari 30 derajat celcius. Selain itu, posisi baglognya harus diletakan dalam posisi berdiri, bukan direbahkan seperti jamur tiram,” ujar Eko.

Baca Lainnya : Bisnis Telur Burung Puyuh Untungnya Berlipat Ganda

Budi daya jamur susu memang harus di tempat yang tertutup, namun cahaya matahari harus masuk. Jika kurang maka tumbunya tidak sesuai. Batangnya panjang, tetapi payungnya kecil.  

“Jamur susu yang bagus itu antara batang dan payungnya seimbang. Batang dan tudungnya tebal (gemuk) serta warnanya putih bersih. Ingat, jangan kena matahari langsung, tetapi cahayanya,” ujarnya.

Setelah menyiapkan baglog, media tanam yang digunakan adalah bubuk kayu 100 kg (media utama), dedak padi atau sekam padi 10-20 kg, dan kapur kurang lebih 3 kg. Untuk penggunaan kapur tergantung dari kondisi iklim. Jika musim hujan penggunaanya 5 persen dari jumlah bubuk kayu (100 kg). Sedangkan musim kemarau hanya 3 persen.

“Sebenarnya untuk media utama tidak harus menggunakan bubuk kayu. Dengan limbah organik saja dapat tumbuh. Seperti ampas tebu, jerami, eceng gondok dan masih banyak lainnya. Tergantung di daerahnya banyak terdapat apa limbah organiknya,” ujar Eko.

Baca Lainnya : Cari Peluang Bisnis, Kepala Desa Lakukan Studi Banding ke Tiongkok

Dengan jumlah media tanam tersebut, untuk ukuran baglog kecil mendapatkan 125 kantong. Sedangkan baglog besar hanya sekitar 17 kantong. Jamur susu yang siap panen pun ada ciri khasnya, yaitu bagian bawah tudungnya (payungnya) rata dan penuh. Tidak seperti jamur tiram yang cekung bagian bawah tudungnya.

“Dalam sekali panen, untuk satu baglog besar kurang lebih 1-1,2 kg/baglog, sedangkan yang baglog kecil sekitar 200-250 gram,” terang Eko.

Dikatakannya, dalam sekali tanam, jamur susu hanya dapat dipanen 2 kali saja. Eko menjelaskan ketika sudah 2 kali panen biasanya diolah lagi atau diganti dengan jamur tiram.

Baca Lainnya : Inilah 4 Tips Kelola Keuangan Bisnis UMKM

“Kalau saya gali tanah (buat lubang), lalu plastik yang menutup baglog-nya dibuka. Dimasukan ke lubang tersebut lalu ditutup tanah dan atasnya ditutup plastik. Begitu satu bulan, baglog-nya diangkat. Itu jamurnya tumbuh lagi,” katanya.

Jika dirasakan dari segi rasa, jamur susu jelas lebih enak dibandingkan jamur tiram. Menurut Eko rasanya hampir mirip dengan jamur kancing. Teksturnya pun berbeda dengan jamur tiram, keras seperti kayu randu (kapuk).

“Walaupun keras, ketika dimasak akan empuk seperti jamur pada umumnya. Yang paling membedakan dengan jamur tiram adalah, jamur susu ini tidak berserat,” pungkasnya. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: