Hutan Mangrove Ecomarine Berhasil Tingkatkan Perekonomian Warga

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
21 Mar 2019   13:00

Komentar
Hutan Mangrove Ecomarine Berhasil Tingkatkan Perekonomian Warga

Hutan mangrove (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kehadiran kawasan Hutan Mangrove Ecomarine di Muara Angke, Jakarta Utara, yang bertambah menjadi 32.000 pohon dalam 10 tahun terakhir memberikan dampak keuntungan perekonomian bagi warga sekitar. Warga sekitar Hutan Mangrove Ecomarine berhasil mengolah buah mangrove dari hutan seluas 1,8 hektare di pinggiran Muara Kali Adem tersebut.

Adapun jenis mangrove yang mendominasi lokasi tersebut meliputi mangrove pidada (Sonneratia), api-api (Avicennia), nipah (Nypa fruticans) dan bakau (Rhizophora). Masyarakat sekitar mengolah buah mangrove menjadi sari buah, dodol dan selai untuk dijualnya.

Sari buah mangrove yang ukuran 300 mililiter (ml) dijual seharga Rp15 ribu, dodol mangrove Rp25 ribu per 250 gram, dan selai mangrove Rp15 ribu untuk ukuran 200 gram.

Baca Lainnya : PMI Bengkulu Bangun Pusat Edukasi Mangrove Sebagai Langkah Mitigasi Bencana

"Buah mangrove yang awalnya hanya jatuh ke tanah, kini bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Ibu-ibu di sekitar sini bisa kerja bikin makanan sehat dari olahan mangrove," kata Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke Muhammad Said (44).

Hutan Mangrove Ecomarine sendiri berada di ujung perkampungan nelayan di Muara Angke, atau sekitar 10 menit berjalan kaki dari Pelabuhan Kali Adem.

Di lokasi tersebut, ada tiga saung kecil, satu rumah edukasi serta tambak budi daya ikan mujair. Pengunjung tidak ditarik uang sepeser pun untuk memasuki kawasan hutan mangrove yang dikelola masyarakat tersebut.

Baca Lainnya : Melihat Peluang SDGs Nasional dari Percepatan Rehabilitasi Mangrove

Said menjelaskan, penanaman mangrove di kawasan Muara Angke awalnya ditujukan untuk memulihkan ekosistem hutan mangrove di kawasan pesisir utara Jakarta yang mulai terancam akibat konversi lahan.

"Dulu memang sempat ada mangrove, namun sejak 1990-an sudah tidak ada lagi karena dampak pembangunan. Pada 2008, kami membentuk komunitas mangrove dan mulai menanam atas dasar sosial, peduli lingkungan," ujarnya.

Penanaman mangrove dimulai tahun 2008. Ketika itu komunitas menanam 100 bibit mangrove di daerah Muara Kali Adem, yang bagian atas tanahnya bercampur dengan banyak plastik sehingga sulit ditanami.

Baca Lainnya : Masyarakat Desa Bagan Serdang Dilatih Pengolahan Mangrove

"Muara ini adalah destinasi 12 sungai di Jakarta, sampah menumpuk. Kami harus menggali tanah lebih dalam supaya akar mangrove dapat berkembang dengan baik," jelasnya.

Meski demikian, penanaman mangrove di kawasan tersebut tetap dilanjutkan sehingga jumlah pohonnya sampai ribuan seperti sekarang. Said mengemukakan sekarang hutan mangrove itu membawa berkah bagi lingkungan sekitarnya. [NN]

 

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: