Pelaku UKM Diuntungkan Lebih Hemat dengan Bahan Bakar Alternatif Biopelet

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
14 Mar 2019   16:00

Komentar
Pelaku UKM Diuntungkan Lebih Hemat dengan Bahan Bakar Alternatif Biopelet

Bakar alternatif biopelet (Foto : Biopelet)

Trubus.id -- Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) home industry sangat terbantu dengan bahan bakar alternatif biopelet yang ditawarkan Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bahan bakar dari limbah biomassa ini memiliki kelebihan lebih efisien dari sisi biaya dan ramah lingkungan.

Dengan adanya bahan bakar alternatif biopelet ini, Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti pabrik kerupuk, keripik, tahu, sukro dan makanan lainnya memiliki peluang besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Umumnya, pada UKM tersebut bahan bakar yang digunakan adalah gas, kayu bakar, tempurung kelapa atau batubara.

Koordinator Riset dan Pengembangan Biopelet Puslit Biomaterial LIPI, Lisman Suryanegara, mengungkapkan, penggunaan gas kurang efisien karena dari segi biaya produksi relatif tinggi. Sementara itu penggunaan kayu bakar maupun tempurung kelapa menghasilkan asap mengepul pada saat proses produksi. Sementara itu, penggunaan batubara selain menghasilkan asap hitam juga meninggalkan limbah bahan berbahaya beracun yang dapat mencemari lingkungan.

Baca Lainnya : Menkop UKM Puspayoga Apresiasi Forkompinda Beri Dampak Pembangunan Dharmasraya

"Biopelet ini adalah bioenergi. Biopelet adalah limbah biomassa yang dibentuk pelet. Panas biopelet ini di kompor pembakarannya bisa mencapai 800 derajat celsius," ujarnya di sela-sela Workshop Pembuatan Biopelet dan Kompornya bagi UKM di Puslit Biomaterial LIPI, Kawasan Cibinong Science Center Botanical Garden, Bogor, Rabu (13/3).

Lisman menerangkan, biopelet ini bisa berasal dari serbuk kayu berbagai jenis kayu seperti mahoni, sonokeling dan albasia. Sementara itu untuk kayu karet dan pinus mengandung getah sehingga pelet yang dihasilkan menjadi kurang bagus. Selain itu, biopelet juga bisa dibuat dari ampas kopi, batang sawit, jerami atau sekam. Hanya saja dari kayu dan ampas kopi lebih menghasilkan pembakaran baik.

Untuk membuat biopelet, terlebih dahulu serbuk kayu dibuat hingga ukuran kecil dan kemudian dicetak dengan mesin pencetak pelet, sehingga menghasilkan biopelet berukuran 2-4 centimeter.

Baca Lainnya : Bekraf Latih Perencanaan Bisnis kepada 100 Pelaku UKM Kreatif Padang

"Dari beberapa UKM yang kami didatangi dan memakai biopelet ini, banyak yang mengaku lebih efisien, hemat biaya dan keuntungannya lumayan menjanjikan," kata Lisman.

Jika dihitung, kisaran harga gas Rp12.000 per kilogram (kg). Kemudian satu kg gas setara dengan 3-4 kg biopelet. Harga biopelet sekitar Rp1.400 kg. Untuk 4 kg biopelet maka biaya yang dikeluarkan tidak lebih dari Rp6.000.

Selain itu, nilai kalori yang tinggi bisa membuat pembakaran lebih sempurna karena lebih cepat panas.

"Nilai kalori ampas kopi mencapai 5.000-5.400 kilokalori per kg, sonokeling 4.400-4.500, albania 4.100-4.200 kilokalori per kg," terang Lisman.

Baca Lainnya : Kemenkop UKM Latih Pegiat Film di Sumbar Mendirikan Koperasi

Penggunaan biopelet ini juga telah terbukti pada sejumlah UKM di Jawa Barat. UKM mengaku berkat biopelet produksinya lebih cepat, hemat waktu dan kualitas udara di sekitar lokasi produksi lebih sehat. Biopelet ini pun hanya menghasilkan abu sekitar dua persen.

Salah satunya adalah UKM kerupuk di Cibinong. Saat menggunakan gas, biaya pengeluarannya mencapai Rp28 juta. Ketika beralih ke biopelet, biaya pengeluarannya hanya Rp15 juta.

"Terdapat efisensi 25-41 persen setelah menggunakan biopelet. Dari segi emisi, saat pembakaran tidak menghasilkan asap hitam sehingga proses produksi lebih bersih," pungkasnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: