Tingkatkan Inklusivitas, Indonesia Ajukan 2 Isu Pemberdayaan dalam Forum APEC

TrubusNews
Thomas Aquinus
11 Mar 2019   17:00 WIB

Komentar
Tingkatkan Inklusivitas, Indonesia Ajukan 2 Isu Pemberdayaan dalam Forum APEC

Peserta pertemuan APEC di Chile (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pada forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) Indonesia mengajukan proposal tentang pemberdayaan perempuan dan pembangunan berkelanjutan. Kedua isu tersebut bertujuan untuk meningkatkan inklusivitas yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam ekonomi regional.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Perundingan APEC dan Organsisasi Internasional, Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Deny Kurnia mengungkapkan pembahasan APEC berkembang sejalan dengan dinamika global.

"APEC menginginkan lebih banyak pihak yang menikmati keuntungan dari liberalisasi perdagangan," ujar Deny dalam keterangan resmi dari Chile, Minggu(10/3).

Baca Lainnya : Berkat Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat, Binjai Barat Dianugerahi Kecamatan Terbaik

Dijelaskannya, kepentingan Indonesia dalam perdagangan tersebut adalah kerja sama UMKM, pemberantasan kemiskinan, serta pemanfaatan ekonomi digital. Sebagai Ketua delegasi Indonesia, dia menyampaikan gagasan pada sidang Komite Perdagangan dan Investasi (CTI) di forum APEC, Santiago, Chile, 2 dan 3 Maret 2019 lalu.

Dalam proposal Workshop for SMEs in APEC: Embracing 4.0 Industrial Revolution in Boosting Economic Performance of Export-oriented SMEs. Disampaikan tujuan dalam proposal tersebut supaya UMKM lokal mampu meningkatkan ekspor sambil memanfaatkan peluang dalam industri 4.0.

Selanjutnya, Workshop on Fostering Inclusive Digital Economy: Sharing Best Practices in Advancing Women Participation in Digital Startups. Lokakarya yang bertujuan meningkatkan peran perempuan dalam memanfaatkan platform digital sehingga dapat lebih aktif melalui bisnis rintisan dalam menghadapi perdagangan global.

Baca Lainnya : Pemerintah Izinkan Dana Desa 2019 untuk Pemberdayaan Masyarakat

Secara spesifik, Deny menyampaikan tambahan proposal Public Private Dialogue (PPD) on Understanding Non-Tariff Measures on Agriculture, Forestry and Fisheries Sectors to Enhance Trade to Improve Rural Development and Poverty Alleviation in the Asia Pacific Region. Di bawah kepemimpinan Chile, terdapat empat prioritas APEC tahun ini, yaitu masyarakat digital; integrasi 4.0; perempuan, UMKM, dan pertumbuhan inklusif; serta pertumbuhan berkelanjutan.

"Partisipasi Indonesia dalam CTI yaitu untuk membahas keempat prioritas tersebut, termasuk yang terkait dengan kepentingan Indonesia," kata Deny.

APEC merupakan forum kerja sama 21 Ekonomi di lingkar Samudera Pasifik. Kegiatan utama di APEC meliputi kerja sama perdagangan dan investasi, serta kerja sama ekonomi lainnya untuk mendorong perdagangan dan investasi di antara sesama ekonomi anggotanya, serta meningkatkan kesejahteraan di Asia Pasifik.

Baca Lainnya : 2019, Pemkot Jogja Fokuskan Anggaran untuk Pemberdayaan Masyarakat

Ekonomi anggota APEC terdiri dari Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Kanada, Chile, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Data APEC at Glance 2019 menunjukkan bahwa pada pada tahun 2019 anggota ekonomi APEC mewakili 39% penduduk dunia (2,9 miliar jiwa), 47% dari perdagangan global (US$ 22 triliun), dan 60% dari total riil PDB dunia (US$ 48 triliun).

Tahun 2017, perdagangan Indonesia dengan kawasan APEC mencapai US$ 239,4 miliar. Nilai itu cukup besar dalam perdagangan antara Indonesia dan pasar global, sekitar 73,4% dari keseluruhan transaksi Indonesia dan dunia yang tercatat sebesar US$ 325,8 miliar pada periode yang sama. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Berdayakan Ekonomi Warga Melalui Bank Sampah

Pendampingan   11 Sep 2020 - 14:09 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: