Kearifan Lokal Egek Sukses Jaga Kelestarian Alam Laut Sorong

TrubusNews
Thomas Aquinus
21 Feb 2019   12:00 WIB

Komentar
Kearifan Lokal Egek Sukses Jaga Kelestarian Alam Laut Sorong

Ilustrasi nelayan (Foto : Pixabay/Quangpraha)

Trubus.id -- Masyarakat Adat Moi Kelim yang menghuni Kampung Malaumkarta di Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat, sukses menjalankan kearifan lokal menjaga laut dengan menggunakan Egek sehingga mampu menghasilkan sampai dengan Rp200 juta per “panen”.

“Itu sama dengan Sasi (larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu-biasanya laut, sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati) kalau di wilayah timur Indonesia. Tapi di masyarakat adat Suku Moi namanya Egek,” ujar Ketua Bamus Malaumkarta Eferadus Kalami di Malaumkarta, Sorong, Rabu (20/2) seperti dilansir Antaranews.

Kawasan Egek, dikatakannya, saat ini dilindungi oleh gereja. Sehingga jika ada yang melanggar, sanksi yang dikenakan oleh warga bisa mencapai ratusan juta rupiah yang ditetapkan melalui musyawarah adat terlebih dulu. 

Baca Lainnya : Pemerintah Targetkan Kucurkan Rp975 miliar untuk Bank Mikro Nelayan

Ketua Konservasi Malaumkarta Raya untuk Masyarakat Hukum Adat Suku Moi Kelim Robert Kalami mengungkapkan untuk saat ini, upaya melindungi sumber daya alam dilakukan untuk wilayah laut melalui penetapan kawasan konservasi berdasarkan kearifan lokal Masyarakat Adat Moi Kelim. 

Usaha ini kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten di mana Bupati Sorong Stephanus Malak untuk memperkuat Egek dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Hukum Adat dan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Laut di Kampung Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong. 

Dalam Egek ditetapkan larangan untuk mengambil lobster, lola, teripang dan udang. Sementera itu, panen hanya diperbolehkan 1 kali dalam setahun, dan hasilnya diserahkan kepada gereja, biasanya untuk pembangunan fasilitas umum gereja. 

Baca Lainnya : Pemerintah Dorong KUB Nelayan Bengkulu Agar Bentuk Koperasi, Kenapa?

Selain itu Egek juga memberikan pembatasan penggunaan alat tangkap yang membahayakan bagi keberlanjutan sumber daya alam seperti jaring, potasium. Masyarakat adat di sana hanya diperbolehkan menangkap ikan dengan cara Yikmen (mengail), Yafan (memanah) dan Yakalak (menombak). 

Sementara itu, anggota DPRD Sorong Torianus Kalami mengungkapkan, Perbup terkait kearifan lokal Egek ini dibuat dan diundangkan kurang dari enam bulan saja. Dirinya mengatakan ini bisa dilakukan karena Masyarakat Adat Moi Kelim pada dasarnya sudah memiliki kearifan lokal, yakni Egek. 

“Egek ini juga kita coba bawa ke ranah lebih luas. Dengan mempromokan dana yang terkumpul bisa untuk pembangunan gereja, selain ada nilai kearifan lokal yang diangkat,” katanya. 

Baca Lainnya : BMKG Latih Nelayan Jabar Soal Cuaca di Sekolah Lapang Iklim

Torianus mennyatakan dirinya mengusulkan untuk menerapkan Egek ini di kawasan hutan Masyarakat Adat Moi Kelim ini.

“Tapi saya ajak dulu ciptakan ekowisata, kelola dulu bagaimana sehingga hasilnya ada dulu”, ujarnya.

Dirinya berharap Kampung Malaumkarta yang dihuni Masyarakat Adat Moi Kelim ini juga berhasil sehingga menjadikan laboratorium umum untuk belajar soal konservasi berdasarkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Menkop UKM Ungkap 5 Masalah Utama yang Hambat Perkembangan UMKM

Keuangan Mikro   15 Nov 2019 - 08:08 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Sistem IDM Dapat Membantu Pembangunan Desa Mandiri

Pendampingan   15 Nov 2019 - 06:52 WIB
Bagikan: