Membangun Kembali Wangi Bisnis Kopi Merapi yang Menjanjikan

TrubusNews
Thomas Aquinus
13 Feb 2019   06:00 WIB

Komentar
Membangun Kembali Wangi Bisnis Kopi Merapi yang Menjanjikan

Tanaman kopi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Terpuruk sejak dampak erupsi Gunung Merapi akhir 2010 silam, kini bisnis kopi merapi yang terkenal hingga mancanegara tersebut mencoba untuk bangkit kembali. Salah satu faktor menurunnya produksi tanaman kopi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) tersebut adalah para petani yang tidak memaksimalkan lahan mereka kembali.

Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur, Desa Petung, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sumijo mengungkapkan, saat ini jumlah tanaman yang pulih usai terdampak erupsi 2010 baru sekitar seperempat saja. "Banyak yang di Cangkringan belum pulih," ujarnya, Selasa (12/2).

Menurutnya, kendalanya para petani adalah setelah erupsi mereka tinggal di lokasi Hunian Tetap (Huntap), sedangkan rumah mereka sebelumnya sudah jarang ditempati.

Baca Lainnya : Kebumen Mengopi, Komunitas Ini Kembangkan Kopi Lokal Jadi Produk Unggulan

"Masyarakat yang tinggal di relokasi jadi harus ekstra kalau mau ke kebun untuk memelihara kopi," ujarnya.

Dampaknya kini dirasakan dengan jumlah produksi yang cukup terbatas. Hingga 2018, per tahun hanya sebanyak 5 ton saja untuk kopi jenis Arabika, dan 20 ton jenis Robusta.

Dari jumlah itu, menurutnya masih sangat timpang dengan banyaknya permintaan. Kopi-kopi hasil tanaman petani, biasanya hanya dijualnya untuk memenuhi pasar di Jogja dan daerah-daerah sekitarnya. "Hingga sekarang, kami fokus memenuhi permintaan lokal dan nasional saja," katanya.

Padahal, sebelumnya permintaan ekspor dari beberapa negara saat itu  sudah cukup banyak seperti memasuki pasar di Jerman pada 2003 silam. "Dulu sempat ekspor ke Jerman. Tapi sampai sekarang berhenti karena kendala jumlah," ujarnya.

Baca Lainnya : Polbangtan Medan Promosikan Enterpreunership Kopi 

Dikatakan Sumijo, kopi asli dari Sleman ini mempunyai keistimewaan di segi cita rasanya. Dijelaskannya, karena tanamannya di lereng gunung aktif yang sering terkena dampak abu vulkanik maka perawatannya pun dengan cara organik.

Semenrtara itu, Edi Sri Harmanto, Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Peternakan (DP3) Kabupaten Sleman, menambahkan, tanaman kopi merupakan salah satu yang terdampak erupsi 2010. "Kopi dan salak yang paling banyak lahannya terkena dampak erupsi," ujarnya.

Seusai erupsi, para petani setempat juga telah berupaya untuk melakukan pemulihan. Terutama jenis salak, yang jumlah produksinya semakin meningkat. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

PUPR Harapkan Padat Karya Tunai Serap 777.206 Orang pada 2021

Pendampingan   11 Jan 2021 - 10:36 WIB
Bagikan:          
Bagikan: