Upaya BPODT Dorong Pengembangan Parapat Monkey Forest

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
12 Feb 2019   20:00

Komentar
Upaya BPODT Dorong Pengembangan Parapat Monkey Forest

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba (BPODT) mulai mendorong pengembangan lokasi wisata bernuansa atraksi di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara. 

Dorongan ini dimulai dari pembangunan fisik dan pembuatan konsep manajemen pengelolaan Parapat Monkey Forest di Desa Sibaganding, Kecamatan Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Direktur Utama BPODT, Arie Prasetyo mengatakan, pihaknya akan memunculkan dua wisata atraksi baru di kawasan Danau Toba mulai 2019. Dapat berupa lokasi baru atau lokasi lama yang direhabilitasi lagi (rebranding).

"Nah, Monkey Forest masuk tahun ini, kami sudah punya masterplannya," kata Arie, Selasa (12/2).

Baca Lainnya : BUMDes di Negeri Laskar Pelangi Tingkatkan Perekonomian Wisata

Diungkapkannya, ada dua pekerjaan besar dalam upaya BPODT mendorong pengembangan lokasi wisata ini, pembangunan fisik dan sistem manajemen pengelolaan. 

"Keduanya perlu dilakukan secara beriringan. Setelah pembangunan fisik selesai, sudah memiliki sistem manajemen pengelolaan, dan dapat langsung menerima kunjungan wisatawan," katanya.

Arie menyebut, terkait dengan pembangunan fisik, pihaknya tidak terlalu menemui kendala. Meski belum dapat merinci jumlah alokasi dana, dipastikan kebutuhan biaya untuk pembangunan fisik sudah dianggarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Perhatian lebih besar lebih dibutuhkan dalam pembuatan sistem manajemen pengelolaan, yang dapat menjamin keberlangsungan lokasi wisata tersebut," ucapnya.

Menurut Arie, dalam hal ini selain KLHK, BPODT, serta pihak keluarga yang mendiami lokasi itu diyakini cara terbaik adalah dengan ikut melibatkan Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Kabupaten Simalungun.

Baca Lainnya : Desa Wisata Kertajaya Creative Destination Raih Penghargaan Ramah Lingkungan

"Nantinya, tinggal bagaimana mencari formulasi tepat untuk membatasi tugas dan fungsi masing-masing pihak," sebutnya.

Disinggung mengapa mendorong wisata atraktif? Arief memapaparkan, meski wilayah Danau Toba, khususnya daerah Parapat, selama ini sudah menjadi obyek wisata, tetapi masih minim lokasi-lokasi atraksi. 

"Parapat Monkey Forest menyimpan potensi itu. Bila dikemas dengan baik, bisa menjadi lokasi wisata atraktif tanpa membutuhkan biaya pengembangan yang besar," terangnya.

Diakui Arie, Parapat Monkey Forest dapat meniru Mandala Suci Wenara Wana atau Monkey Forest Ubud, sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi di Desa Padangtegal Ubud, Bali, yang mempunyai kurang lebih 749 ekor monyet ekor panjang.

Baca Lainnya : Inspiratif, Kades Tebara Jadikan Desanya Destinasi Wisata Dunia

Arie juga menilai, Monkey Forest Ubud sudah memiliki sistem manajemen yang bagus, dan dikelola masyarakat serta mendatangkan pendapatan yang tidak kecil dari tiket masuk, penjualan souvenir dan sumber kreatif lain. 

"Dari pendapatan tersebut mereka kemudian bisa membayar gaji petugas, biaya pemeliharaan dan pengeluaran lain, bahkan melakukan pengembangan fasilitas," paparnya.

Meski demikian, lanjut Arie, Parapat Monkey Forest sebenarnya didiami jumlah monyet jauh lebih banyak dari di Ubud. KLHK mencatat, tempat itu menjadi kawasan bernaung 13 kelompok Kera, Beruk dan Siamang. 

"Satu kelompok terdiri dari sekitar 100 ekor dan di dalam setiap kelompok terdapat 5 ekor babon (induk) atau sebagai pemimpin kelompok," tandasnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: