Suburnya Bisnis Budidaya Jamur Tiram yang Berpotensi Meningkat

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
12 Feb 2019   17:00

Komentar
Suburnya Bisnis Budidaya Jamur Tiram yang Berpotensi Meningkat

Budidaya jamur tiram (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Bisnis budidaya jamur tiram saat ini masih berpotensi meningkat seiring dengan dikenalnya jamur sebagai bahan pangan eksotis. Saat ini banyak restoran, kafe, hotel yang menghidangkan beragam menu jamur. Penikmat jamur pun kini semakin banyak dari beragam kelas sosial. Jamur sendiri mengandung serat, betaglucan, vitamin B, mineral, kalium dan beberapa jenis karbohidrat.

Petani budidaya jamur tiram asal Cianjur, Triono Untung Piryadi mengungkapkan, jaringan pemasaran jamur tiram tidak hanya di daerah Cianjur saja, tetapi sudah merambah Jakarta, Bogor, hingga sebagian lain Jawa Barat. Bahkan dikatakan Triono, budidaya jamur miliknya hingga sampai ke Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra.

“Harga jual jamur cenderung stabil, saat ini sekitar Rp 14 ribu per kilogram," ujar Triono wirausahawan alumnus UGM itu.

Baca Lainnya : Mahasiswa Unbaja Perkenalkan Budidaya Hidroponik di Anyer

Triono mengungkapkan, melalui CV Asa Agro Corporation (AAC) yang didirikannya 15 tahun lalu, omset usaha jamurnya telah mencapai Rp1 milyar per bulan. Tiap hari, dirinya bisa menjual 3 - 5 ton jamur tiram dan 12 ribu baglog benih per hari. Tiap satu kilogram jamur dijual sekitar Rp14 ribu dan harga satu baglog benih jamur Rp4 ribu.

“Usaha saya menempati areal seluas 3 hektare dengan mempekerjakan 150 karyawan. Setidaknya saya sudah membina 50 plasma yang tersebar di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi," kata Triono.

Triono mengaku selalu mencoba dalam pengembangan budidaya jamurnya, "Awalnya saya hanya produksi 5 kilogram per hari. Maka jika panen 10 kilogram per hari mau jualnya susah sekali. Para pengecer di pasar banyak yang menolak jamur produksi kita. Menurut mereka, sudah punya pasar sendiri. Saya tidak putus asa. Saya terus mencoba menjual jamur karena saya yakin jamur yang saya kembangkan bisa menang di kualitas dan kemasan". jelasnya.

Baca Lainnya : Kementan Apresiasi Budidaya Lengkeng Berbasis Masyarakat di Borobudur

Triono menjelaskan, biaya produksi untuk satu siklus meliputi kubung ukuran 8 x 6 m2 dengan kapasitas 5 ribu log sekitar Rp14,2 juta sudah termasuk baglog.

“Panen bisa mencapai 1.750 kilogram dengan harga Rp11.500 per kilogram. Paling tidak, bisa diperoleh pendapatan Rp20,1 juta atau keuntungan per siklus sekitar Rp5,9 juta," ujarnya dengan semangat. “Untuk mendapatkan panen jamur yang stabil setiap hari paling tidak dibuat 5 kubung," tambahnya.

Mengenai upaya dalam pengendalian hama dan penyakit, Triono menyampaikan formula perangkap serangga buatannya yang sangat sederhana.

“Cukup menggunakan oli bekas. Caranya, oles oli disekeliling kubung sehingga hama atau serangga menempel pada oli tersebut. Harganya murah dan aman,” katanya.

Sementara itu, Kasubdit Sayuran Daun dan Jamur, Indra Husni saat mengunjungi lokasi mengatakan Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produksi jamur di tengah peluang tingginya permintaan pasar.

Baca Lainnya : Pemkab Bangka Dorong Petani Manfaatkan Bekas Tambang Timah Untuk Budidaya Ikan

“Saat ini kebutuhan pasar belum bisa dipenuhi oleh petani jamur. Peluang usaha budidaya dan usaha olahan jamur masih terbuka luas. Usaha pak Triono ini patut dicontoh kaum milenial,” terang Indra Husni. 

Indra mengungkapkan, Kementan bersama dinas pertanian daerah bertugas melakukan pembinaan atau fasilitasi kepada petani jamur. "Kami akan dorong sertifikasi benihnya," ujarnya.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Cianjur, Supriatna Hasan menjelaskan, masyarakat di Cianjur sebenarnya sudah lama mengenal budidaya jamur.

“Dulunya jamur tiram banyak didatangkan dari Bandung. Tapi sekarang sudah banyak yang mengembangkan sendiri, karena prospeknya bagus," ujarnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: