Industri Kerajinan Kreatif Menjadi Poros Ekonomi Terbaru Indonesia

TrubusPreneur
By Thomas Aquinus | Followers 2
06 Feb 2019   07:00

Komentar
Industri Kerajinan Kreatif Menjadi Poros Ekonomi Terbaru Indonesia

Ilustrasi industri kerajinan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo mengatakan bahwa ekonomi kreatif diyakini mampu menjadi poros ekonomi terbaru Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini, industri kreatif menyumbang pemasukan yang tidak bisa dianggap remeh bagi negara. Tak terkecuali industri kerajinan.

Hal tersebut dikatakan Samsul saat mengungjungi Pusat Kerajinan Anyaman Ketak dan Rotan milik Kadri yang sudah berdiri sejak tahun 1995 di Dusun Boyot, Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah.

Ketak atau dalam sebutan lain paku hata, merupakan tanaman paku-pakuan yang bila dilihat sekilas mirip dengan rotan. Ketak sendiri memiliki sifat yang kuat dan liat bila digunakan sebagai bahan kerajinan, hal ini merupakan keunggulan dari ketak untuk kualitas produk anyaman yang dihasilkan.

Baca Lainnya : Sleman Craftstyle, Pelaku Ekonomi Kreatif Unjuk Gigi di Sini

“Kerajinan-kerajinan seperti ini bagus untuk dikembangkan, perempuan pasti menyukai model dan jenis kerajinan seperti tas atau kerajinan lainnya. Dan ini akan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat jika terus dikembangkan. Apalagi, kerajinan ini di ekspor ke luar negeri," ujarnya.

Pengrajin anyaman ketak dan rotan, Kadri mengatakan, bahan ketak untuk kerajinannya didapatkan dari Kalimantan. Hal ini dikarenakan ketak dari Kalimantan memiliki kualitas yang baik bila dibandingkan dengan ketak dari daerah lainnya. Dari bahan ketak tersebut, Kadri dan pekerjanya bisa menghasilkan beberapa jenis kerajinan seperti meja, kursi, tas, wadah berbagai ukuran, tatakan piring, kotak tisu, hingga kotak untuk hantaran pernikahan.

"Kalau jenis anyaman yang paling laku salah satunya tas anyaman," kata Kadri sambil menunjuk tas anyaman yang sering disebut dengan round bag. Apalagi, sejak banyak artis pakai tas model ini, banyak yang minat untuk beli," ujarnya.

Baca Lainnya : Ekonomi Kreatif, Fokus Indonesia untuk MIKTA

Sementara itu, CEO Eco Fashion Week Indonesia, Merdi Sihombing mengatakan bahwa hasil kerajinan dari ketak ini memiliki nilai yang bisa diangkat, termasuk proses pembuatannya yang tidak mudah. Nilai sejarah inilah yang membuat kerajinan-kerajinan handmade banyak diminati dan bernilai ekonomi tinggi.

“Produk-produk kerajinan Indonesia terkenal dengan buatan tangannya, sehingga bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi,” kata Desainer yang identik dengan kain tenun nusantara.

Kerajinan anyaman milik Kadri sendiri banyak dipasarkan di Bali, selain itu juga sudah merambah  pasar internasional seperti Malaysia dan Singapura. Dari usahanya ini, Kadri sudah merekrut sebanyak 400 pengrajin yang dalam perkembangannya sudah bisa membuka usaha kerajinan anyaman ketak secara mandiri. Saat ini jumlah pekerja yang membantunya di workshop mencapai 20 orang yang bekerja secara bergantian. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: