Program Keluarga Harapan Turunkan Angka Stunting 27 Persen

TrubusNews
Astri Sofyanti
23 Jan 2019   13:30 WIB

Komentar
Program Keluarga Harapan Turunkan Angka Stunting 27 Persen

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Stunting atau kekerdilan pada balita masih menjadi masalah gizi utama yang harus dihadapi pemerintah. Berdasarkan data pemantauan status gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir balita yang menderita stunting berisiko memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi buruk lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk.

Untuk membantu penurunan angka stunting di Indonesia, Kementerian Sosial turut membantu membuat Program Keluarga Harapan (PKH). Program tersebut ternyata berdampak pada penurunan kasus stunting sebanyak 27 persen sepanjang 2018.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat di Jakarta, Rabu (23/1) mengatakan bahwa berdasarkan data Bank dunia 2012, 2015 dan National Bureau of Economic Research (NBER) 2018, terjadi pengurangan stunting 23 hingga 27 persen dan mengurangi 56 hingga 62 persen masalah stunting kategori parah.

Baca Lainnya : Kemitraan Teknologi Pangan LIPI dan UMKM Diharapkan Jadi Solusi Stunting

“Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5 persen menjadi 29,6 persen pada 2017 dari jumlah total balita,” tambah Harry.

Dalam PKH terdapat sejumlah kewajiban Keluarga Penerima Manfaat (KPM) antara lain pada komponen kesehatan harus memenuhi peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 39 tahun 2016 tentang pedoman penyelenggaraan program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga.

Komponen kesehatan antara lain bagi ibu hamil pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan sebanyak minimal empat kali selama masa kehamilan melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan serta pemeriksaan kesehatan ibu nifas empat kali selama 42 hari setelah melahirkan.

Pada bayi usia 0 sampai 11 bulan kewajiban KPM adalah pemeriksaan kesehatan tiga kali dalam satu bulan pertama. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, imunisasi lengkap, penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan setiap bulan. Mendapat suplemen vitamin A satu kali pada usia 6 hingga 11 bulan dan pemantauan perkembangan minimal dua kali dalam setahun.

Baca Lainnya : Cegah Gizi Buruk dan Stunting, Kemensos Kerja Sama Dengan WFP

Komponen KPM anak usia dini satu sampai dengan lima tahun berkewajiban imunisasi tambahan, penimbangan berat badan setiap bulan, pengukuran tinggi badan minimal dua kali dalam setahun dan pemberian kapsul vitamin A dua kali dalam setahun.

Usia 5 sampai dengan 6 tahun berkewajiban melakukan penimbangan berat badan minimal dua kali dalam setahun, pengukuran tinggi badan minimal dua kali dalam setahun, dan pemantauan perkembangan minimal dua kali dalam setahun.

PKH menjadi program bantuan sosial utama dengan kebijakan salah satunya menurunkan angka gizi buruk dan stunting.

“Setelah menerima PKH terjadi peningkatan akses KPM terhadap fasilitas kesehatan,” kata Harry menambahkan.

Dikatakan Harry, berdasarkan data Kementerian Sosial tahun 2015 terjadi peningkatan kelahiran dibantu tenaga medis mencapai 6,1 persen, melahirkan di fasilitas kesehatan 4,3 persen, imunisasi lengkap 4,5 persen serta kunjungan rawat jalan 0,8 persen. [NN]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Trubus Dorong Kemandirian Pangan Keluarga dengan Tabulampot

Pendampingan   08 Agu 2020 - 16:11 WIB
Bagikan:          

Babad Bina Swadaya, Awal Mula Berdirinya Bina Swadaya

Pendampingan   04 Agu 2020 - 15:15 WIB
Bagikan:          
Bagikan: